Ember, Pena, dan Kasta

Semalam, kulihat seorang lelaki menyumpahi anaknya hanya karna sebungkus es krim. Dengan melotot dia terus menyumpahinya di samping emperan swalayan. Si anak yang menjadi objek sumpahan itu tak berani berkata. Ia hanya bisa bersembunyi di pelukan ibunya.

Sejurus kemudian, keluarga kecil itu berhenti di sebuah hik di samping swalayan. Kebetulan aku juga ada di situ, menikmati teh hangat di tengah dinginnya malam. Mereka duduk tepat di depanku. Kulihat mata si bapak yang masih saja melotot dan memerah seperti biji saga. Dia masih saja mengomel dan menyumpahi anaknya.

Bocah ra ngerti wong tuwa. Rumangsane bapake sugih? Sing njaluk es lah, sing njaluk dolanan lah. Bapakmu mung kerja bangunan!!! Saben dina cekelane ember, ora bolpen. Padakke karo wong sugih…. Rewel wae, tak kekke wong edan. Ben diopeni wong edan sisan!

Sambil tetap menyumpah, si bapak mengambil nasi bungkus dan dilahapnya. Ketika itu kuperhatikan si anak dengan mencuri-curi pandang. Dia adalah seorang gadis kecil yang kira-kira baru berumur 6 tahun. Tubuhnya kecil, rambutnya sepanjang telinga, dan alisnya agak tebal seperti ibunya. Dia hanya berkaos dan bercelana pendek seadanya. Dia masih saja diam dan memeluk ibunya. Berkali-kali ibunya menawari makan, tapi dia tak kunjung mau. Mungkin karena masih takut pada bapaknya.

Malam makin pekat dengan membawa angin dingin. Segelas teh hangat yang sedari tadi menemaniku pun hampir habis tak tersisa. Tak ada lagi alasan aku berlama di situ. Segera kubayar segelas teh itu dan kulanjutkan agenda hari itu.

Ketika hendak berangkat, kucoba kulirikkan mataku ke arah hik lagi. Kulihat si anak telah berani makan sesuap nasi untuk sekadar mengganjal laparnya. Wajah si bapak pun sudah tak semerah padam seperti sedia kala. Entah, apakah karena dia sudah merasa kenyang, ibarat singa yang telah kenyang setelah sebelumnya buas karena lapar.

Malam itu aku merasa ditampar oleh getirnya realitas. Apalah salah si anak, bukankah merengek adalah sisi manusiawi anak-anak? Dan pantaskah aku menyalahkan si bapak hanya karena kemarahannya? Aku kembali teringat dengan perkataan si bapak, “Bapakmu mung kerja bangunan!!! Saben dina cekelane ember, ora bolpen. Padakke karo wong sugih….”

Ternyata, ember dan pena adalah sebuah penanda kasta bagi beberapa orang.

Ditulis dalam Refleksi. 5 Komentar »

12b

Mari kita berhitung, teman-teman. Yak, berhitung mulai. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 12b, …. Lho, kok 12b?

Hehehe, mungkin fenomena ini sudah sering Anda temukan. Dan salah satu fenomena itu terjadi pada saya. Lebih tepatnya, nomor rumah kontrakan saya. Mari kita kilas balik dulu ceritanya.

Kejadian ini berawal ketika saya sedang sibuk mencari rumah kontrakan bersama teman. Atas ajakan teman, saya diarahkan di sebuah perumahan yang pada akhirnya nanti menjadi tempat mengawali keluarga baru saya.

Singkat cerita, pihak empunya rumah dan saya telah menjalin kesepakatan bahwa selama setahun ke depan rumah mungil tersebut akan saya tempati. Alhamdulillah, tidak ada kendala apapun. Hanya saja ada sedikit kejanggalan ketika kutengok nomor rumahnya, ternyata tidak tertempel identitas apapun di dinding rumah itu. Namun, itu bukan soal karena toh saya telah hafal rumah tersebut.

Waktu berlalu dan rumah mungil itu telah saya tempati sampai detik ini. Hingga suatu ketika, istri saya bertanya, “Yang (halah), nomor rumah kita berapa sih? Nanti sore ada teman kuliah mau ke sini, dia tanya alamat rumah kita.”

Seolah baru tersadar dari tidur panjang (weleh). Ternyata selama ini kami belum mengetahui identitas rumah tinggal kami. Tapi, dengan santainya saya pun keluar rumah dan menengok rumah sebelah. “Oh, 14.”

“Wahai dinda, nomor rumah kontrakan tercinta kita adalah 13.” :D

“Oooo, 13 ya,” jawabnya dengan santai sambil meneruskan ber-SMS ria tuk menjawab pertanyaan temannya.

Sejak saat itu, kami tak merasakan kejanggalan sedikit pun. Hingga suatu hari, tepatnya di awal bulan datanglah secarik undangan untuk menghadiri pertemuan rutin bulanan para bapak. Di undangan itu tertulis:
Kepada Bapak Andi (12b).

Saya terkejut ketika membacanya, karena 2 hal. Pertama, ternyata saya sudah disebut bapak. :P Kedua, nomor rumah saya ternyata 12b, bukan 13.
Padahal sejak saya pertama kali bisa berhitung, saya masih sangat ingat bahwa satuan hitung sebelum 14 adalah 13. Lantas kenapa dengan nomor rumahku yang menyelisihi standar hitung ini? Ada apa dengan angka 13? Keramat?

Ah, ternyata tahayul masih saja berlaku di era globalisasi ini.

Berantem

Antemi, antemono, antem-anteman….

Dari teman jadi berantem hanya karna diantemi

 

Antemi, antemono, antem-anteman….

Dari berantem bisa jadi teman hanya karna sama suka berantem

 

Antemi, antemono, antem-anteman….

Gebuki, genjroti, kamplengi…

Bali, bikin janji, wadul, lanjut antem-anteman lagi

Duh Gusti….

 

__________________

Kapan konflik akan berakhir bila berantem menjadi suatu siklus yang tiada ujung?

Ditulis dalam Sajak-sajak. 1 Komentar »

Soal Ujian Cabul, Salah Penuliskah?

Siang ini saya terkejut membaca berita yang berisi tentang lolosnya soal Ujian Tengah Semester (UTS) yang berkonten cabul di Sidoarjo. Ironisnya, kesalahan itu baru diketahui ketika soal telah disebar ke seluruh sekolah di Sidoarjo Jawa Timur. Dan kebetulan soal tersebut untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas 6.

Hingga  saat ini penyelidikan telah dilakukan dan sang penulis soal telah dipanggil untuk menghadap Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo. Karena sangat terpukul dan tak menyangka akan seperti itu, si penulis bahkan sempat stres dan pingsan ketika ditanya perihal kejadian itu. Pertanyaannya, benarkah sekonyong-konyong kesalahan langsung ditimpakan kepada si penulis begitu saja?

Menulis  soal ujian bukanlah perkara yang gampang. Tidak sekadar asal menulis lalu langsung diterbitkan atau dicetak untuk disebarluaskan. Seperti halnya menerbitkan buku, ada alur tersendiri yang harus dilalui sebelum soal tersebut masuk proses cetak. Seperti apakah gambaran alur tersebut?

Pertama, penulis soal bukanlah orang asal-asalan. Penulis soal tentunya adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Andaikan sang penulis adalah guru maka guru tersebut pun bukan sembarang guru. Setidaknya, dia memiliki pengalaman di bidang penulisan soal-soal ujian atau sejenisnya.

Kedua, proses editing yang ketat. Proses editing di sini jangan hanya diartikan bahwa yang diedit hanyalah unsur EYD saja. Lebih dari itu, kesesuaian tiap butir soal dengan kurikulum pun dipertimbangkan pula. Dalam hal ini yang mengedit adalah tim ahli yang mengetahui kurikulum pendidikan. Setelah itu, masih diedit pula mengenai kevalidan tiap butir soalnya sehingga tidak ada soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk dikerjakan.

Ketiga, tahap setting. Naskah yang telah diedit, disetting tata letaknya dan sebagainya agar tampak tidak membosankan sehingga siswa tidak jenuh untuk membaca dan mengerjakannya.

Keempat, editing akhir (pracetak). Naskah diedit kembali namun tidak sekompleks ketika proses editing pertama.

Kelima, cetak. Setelah memasuki tahap ini, tandanya naskah telah layak untuk digunakan sebagai soal ujian.

Itulah lima alur yang saya ketahui. Dan untuk sampai ke tahap kelima tidak semudah yang dibayangkan. Misal, ada soal yang tidak sesuai dengan kurikulum maka soal tersebut dikembalikan lagi kepada penulis untuk diperbaiki. Oleh karena itu, saya heran dengan kejadian ini. Kenapa hal yang seperti itu bisa lolos?

Dikaji dari judulnya saja, wacana dalam soal tersebut masih kurang layak untuk dijadikan wacana soal dalam pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas 6.  Setidaknya ada empat kesalahan yang saya temukan.

Judul: Pengusaha Bandel di Krangkeng Bareng Mak Erot

Kesalahan I: Penempatan kata depan di yang tidak tepat.

Kesalahan II: Pemilihan kata krangkeng bukan EYD. Kenapa tidak menggunakan kata tahan, penjara, bui, atau padanan kata lainnya yang telah EYD?

Kesalahan III: pemilihan kata bareng yang tidak EYD. Seharusnya bersama.

Kesalahan IV: ada penyebutan nama Mak Erot yang kurang layak dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar.

Memang, dalam hal ini penulis adalah orang yang harus bertanggung jawab. Namun, kenapa wacana tersebut bisa lolos begitu saja? Apakah soal tersebut telah melalui alur yang benar?

Anehnya, judul wacana tersebut dicetak dengan style berbeda dengan jenis font dan ukuran yang berbeda (lihat gambar). Dan celakanya, wacana tersebut ditempatkan di halaman pertama sehingga dalam sekali lihat bisa langsung ketahuan (lihat gambar).

Mari kita berintrospreksi diri.

Kepada Para Penjaga Al-Aqsha

Kepada saudaraku di Palestina, saya sampaikan berita gembira dari Al-Qur’an kepada kalian:

01

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (memperbanyak zikir dan doa) agar kamu beruntung.” (Al-Anfâl: 45).

02

 

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249).

03

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imrân: 175).

 

Saudaraku, doa kami selalu bersamamu.

 

Sumber foto: http://foto.detik.com/

Ditulis dalam Refleksi. 4 Komentar »

Suatu Saat Sastra Indonesia Hanya Tinggal Kenangan

“Eh, udah baca Harry Potter yang terbaru?”

“Sherlock Holmes mau difilmkan lho.”

“Aku suka sekali novel-novel karya Paulo Coelho.”

Di satu sisi saya bersyukur karena masyarakat Indonesia (terutama kaum muda) mulai merespons positif budaya membaca. Di sisi lain, agak miris karena kalau seperti ini terus bisa jadi karya sastra lokal akan semakin tersingkir.

Secara jujur, saya pun pernah membaca buku-buku di atas. Setidaknya novel Harry Potter pernah kubaca walaupun sampai sekarang belum sampai pada seri terakhirnya. Serial detektif karya Sir Arthur Conan Doyle pun tetap membekas di benak saya karena kehebatan alur berpikirnya. Adapun Paulo Coelho baru satu karyanya yang telah kubaca dan itu pun memberi kesan yang mendalam.

Namun, seharusnya kita sadar bahwa Indonesia pun memiliki karya yang tidak kalah bagus dari karya-karya terjemahan di atas. Misalkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang telah diterbitkan dalam beberapa bahasa selain bahasa Indonesia. Tetralogi Pulau Buru karya mendiang Pram yang masih saja fenomenal. Hingga beberapa novel dan roman lokal lainnya yang mengisahkan budaya kita sendiri.

Maaf bila ada yang tersinggung. Namun, niat awal saya menulis ini adalah untuk mengajak Anda para pembaca untuk senantiasa berimbang dalam menentukan bahan bacaan. Perlu Anda ketahui, kebesaran roman seperti Sitti Nurbaya, Atheis, Salah Asuhan, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan roman-roman lainnya kini mulai terkikis. Hal ini disebabkan, kebesaran buku itu mulai tergantikan dengan sinopsis-sinopsis singkatnya.

Kenapa bisa begitu? Karena pembaca (dalam hal ini siswa) mulai malas membacanya. Walaupun sudah masuk dalam kurikulum pendidikan, tapi ternyata masih bisa diakali.

Sebagai contoh, suatu ketika seorang siswa diberi tugas membuat sinopsis novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Tentunya tujuan sang guru adalah agar siswanya mau membaca buku tersebut. Namun, entah karena kesulitan mencari bukunya, atau malas membaca buku jadul seperti itu maka si siswa pun lebih memilih mencari sinopsisnya secara instan di dunia maya. Mungkin di dalam benaknya berkata, “Buku apa itu? Achdiat? Sapa lagi itu? Mendingan baca buku xxxxxxx aja (yang notabene adalah buku terjemahan dan lebih populer).”

Contoh di atas adalah permisalan dan hanya sebuah rekaan saja (bahasa kerennya HOAX). Namun, jika seperti itu kenyataannya maka perlu kita khawatirkan. Karena, pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah siswa itu sendiri. Dia tidak akan mengerti di mana letak kelebihan novel tersebut dan parahnya dia tidak mengetahui apa amanat yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya jika kita hanya berpangku tangan maka sastra Indonesia hanyalah tinggal kenangan. Anak cucu kita kelak hanya mengenal bahwa dahulu ada roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Roesli yang katanya itu adalah roman yang fenomenal. Dan sebagainya.

Silakan Anda baca karya terjemahan tapi jangan abaikan karya lokal.

Silakan Anda mengarungi samudra sastra tapi jangan kesampingkan agama.

Swedia Duhai Swedia

Pada kesempatan kali ini saya mau berbicara tentang sepakbola. Ingat, sepakbola.

Perlu Anda tahu, saya adalah salah satu penyuka bola. Tentunya, tidak heran bila seorang penyuka bola memiliki tim kesayangan yang dijagokan. Apabila klub, saya adalah seorang Laziale (sebutan bagi suporter SS. Lazio). Adapun untuk timnas, saya menjagokan Blagult (julukan untuk timnas Swedia). Sekali lagi, saya mengajak berbicara tentang sepakbola. Bukan nasionalisme maupun sentimen lainnya.

Baru-baru ini, putaran kualifikasi Piala Dunia 2010 hampir berakhir. Beberapa timnas lolos menuju Afrika Selatan, namun ada pula yang gigit jari. Dan salah satu timnas yang gigit jari adalah Swedia. Meski bisa unggul atas timnas Albania 4-1, tapi apa mau dikata. Kemenangan itu menjadi tidak berarti karena di lain pihak, Portugal pun meraih angka penuh atas Malta 4-0.

Hasil tersebut menempatkan Swedia berada di posisi ketiga grup A yang hanya terpaut satu angka dengan Portugal. Dengan kata lain, Portugal telah memupuskan kegembiraan sang Viking. Sangat ironis memang. Di satu sisi mereka menang besar, tapi di sisi lain kemenangan itu tak membawa arti apapun (meski menang 100-0 pun).

Selain menelan pil pahit bahwa Swedia tak bisa mendapat tiket menuju Afsel, ternyata mereka masih harus menelan pil yang lebih pahit lagi. Yaitu, kemungkinan sang pelatih, Lars Lagerback, akan mengundurkan diri dari jabatan yang telah dia emban hampir selama sembilan tahun. Sangat beralasan memang, karena sejak tahun 2000 mereka selalu lolos menuju Piala Dunia dan Piala Eropa. Sehingga inilah prestasi terburuknya sejak dia menukangi Swedia.

Pada akhirnya berat terasa bila saya tak bisa menyaksikan gedoran Kim Kallstrom, umpan manis Henrik Larsson, dan gol spektakuler Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia kelak.

Sumber gambar: http://www.detiksport.com/sepakbola/

Cermin Bagi Pemimpin

Dalam sejarah tercatat bahwa dahulu ketika masa kekhalifahan Umar bin Khatab pernah terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan. Ketika itu, dijelaskan bahwa banyak manusia dan hewan yang mati karena kejadian tersebut. Tahun tersebut dikenal dengan Tahun Ramadah. Lantas apa yang dilakukan oleh Sang Khalifah ketika itu?

Yang jelas, beliau tidak cari pinjaman fresh money ke IMF atau bahkan melakukan kunjungan kerja ke negeri yang kaya. Pada masa-masa sulit tersebut, beliau hanya mengonsumsi minyak dan cuka sebagai makanan sehari-harinya. Tidak tanggung-tanggung, beliau tetap melakukan “aksi” tersebut hingga fakir miskin mampu membeli makanan. Padahal krisis tersebut terjadi tidak dalam hitungan hari atau minggu.

Tentunya sangat ironis bila dibayangkan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dunia justru hidupnya seperti itu. Pertanyaannya, bisakah pemimpin kita mengambil teladan dari langkah beliau?

Baru-baru ini pemerintahan Indonesia telah berganti penampilan. Para pejabat yang tadinya mengemban amanah untuk mengatur negara kini telah berganti dengan wajah-wajah baru dan sebagian kecil wajah lama. Ada yang yang bersuka cita, ada yang gembira, ada yang bersyukur, tapi jarang ada yang menangis sedih karena takut atas tanggung jawabnya.

Terlepas dari ekspresi mereka, tampaknya perlu kiranya para pemimpin bercermin pada tokoh yang bergelar Al-Faruq (Sang Pembeda) ini. Sadarlah bahwa tugas yang Anda emban sangatlah berat.

Begitu pula kepada para wakil rakyat. Dalam hal ini saya kembali teringat dengan sebuah tulisan karya mendiang Harry Rusli yang kurang lebih mengatakan bahwa sudah jamak diketahui bahwa gaji seseorang pasti lebih tinggi dibanding dengan gaji wakilnya. Buktinya, gaji presiden tentunya lebih tinggi dibanding dengan gaji wakil presiden. Namun, bagaimana dengan gaji rakyat? Lebih tinggikah dibandingkan dengan gaji wakil rakyat?

Pada akhirnya, saya yang wong cilik ini nggak bisa banyak berpesan kepada Anda. Namun, dalam kesempatan ini perlu kiranya Anda membaca cuplikan nasihat panjang Khalifah Ali bin Abu Thalib berikut ini:

“Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab, itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”

Ditulis dalam Refleksi. Tag: . 6 Komentar »