Hilangnya Penyair Pinggiran

Jujur, saya masih bingung harus saya mulai dari mana tulisan ini. Menceritakan sosok lelaki ini sangatlah sulit karena keterbatasan saya dalam mengenalinya. Paling, yang saya tahu hanyalah karyanya yang selalu abadi tak lekang dimakan zaman.

Thukul adalah pribadi yang penuh misteri, seperti banyaknya lompatan misteri di balik puisi-puisinya.
(Munir)

Bermula dari sebuah cerita dari seorang wanita. Wanita itu akrab dipanggil Mbak Pon. Dia bercerita bahwa pada akhir tahun 1997 dia pernah mengajak kedua anaknya pergi ke Yogyakarta. Hari itu, bertepatan dengan ulang tahun putra bungsunya. Dengan berkereta, mereka sebenarnya hendak ke Gembiraloka. Namun, sesampai di kota pelajar itu, tiba-tiba ia ingin berganti tujuan. Entah karena apa, Kaliurang menarik hatinya. Lantas dia pun mengajak kedua anaknya ke sana.

Sesampai di Kaliurang maka terjawab sudah. Secara tak disangka, mereka bertemu dengan Wiji Thukul, suami sekaligus ayah dari kedua anak itu. Sebuah perjumpaan yang syahdu karena telah beberapa lama mereka tak bertatap mata.

Lelaki itu lantas membelikan mobil-mobilan kepada anak bungsunya yang ketika itu masih balita. Tidak berselang lama, mereka pun berpisah. Entah sang ayah itu pergi ke mana. Mbak Pon menutup ceritanya bahwa itulah pertemuan terakhir dengan suaminya. Selepas pertemuan itu, Wiji Thukul hilang entah ke mana.

Wiji Thukul adalah lelaki biasa. Dia hanyalah anak seorang penarik becak di kota Surakarta. Ijazah pendidikan terakhirnya pun hanya mentok sampai pada jenjang SMP, tak lebih. Demi menafkahi keluarganya, lelaki itu bekerja serabutan. Suatu kali jualan koran, di lain kesempatan jadi tukang pelitur. Namun, di sela-sela waktunya, dia selalu menulis sajak. Berikut ini beberapa penggalan sajak karyanya.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Peringatan)

Hati siapa yang tak bergetar membaca penggalan sajak di atas? Sangat gamblang dan vulgar diungkap, tak ada bahasa figuratif seperti puisi pada umumnya. Perlu diketahui, penggalan puisi di atas adalah salah satu karyanya pada tahun 1986. Namun, ada juga puisi karyanya yang penuh dengan simbol.

Tikar plastik tikar pandan

Kita duduk berhadapan

Tikar plastik tikar pandan

Lambang dua kekuatan


Kalian duduk di mana?

(Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan)

Kebanyakan puisi karya Wiji Thukul adalah puisi perlawanan dan puisi yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil. Namun demikian, bukan berarti puisi karyanya sangat jauh dari unsur estetika. Oleh karena itu, pada tahun 1991 Wiji pun mendapat penghargaan atas jasanya di bidang sastra. Ironisnya, penghargaan itu bukan datang dari dalam negeri. Penghargaan itu justru datang dari Amsterdam Belanda, tepatnya Piagam Penghargaan Stichting Wertheim.

Muncul banyak pertanyaan tentunya ketika membaca semua ini. Dan salah satu pertanyaan besar itu adalah, kenapa sosok sepertinya harus hilang?

Sedikit Membuka Diri

Kalau kata ibu saya, dulu ketika saya lahir di dunia, saya nyaris diberi nama Adhi Wicaksono. Nama ini adalah usulan dari mendiang eyang saya yang pensiunan jaksa. Usut punya usut, pemberian nama ini bukannya tanpa tendensi. Adhi Wicaksono adalah bagian dari moto kejaksaan Indonesia. Lengkapnya, Satya Adhi Wicaksono, artinya entahlah saya tidak tahu.

“Dari nama tersebut,” kata ibu saya, “Mendiang eyang ingin agar kelak ada salah satu cucunya bisa menjadi penerus beliau.” Dan pilihan itu jatuh pada saya. Namun, tampaknya ibu tahu benar bahwa tugas jaksa sangatlah berat. Sehingga dengan penuh keberanian, dia menolak pemberian nama itu. Ibu ingin kelak semua anaknya dapat bebas menentukan pilihannya dalam bercita-cita dan berkarir. Dia tak ingin ada paksaan, apalagi dalam menentukan jalan hidup.

Sebenarnya kedua orang tua saya ada rasa tak enak ketika melakukan penolakan itu. Apalagi dalam kultur Jawa, penghormatan terhadap orang tua adalah hal sakral yang bersifat wajib dilakukan bagi semua anak. Membantah orang tua adalah tindakan tabu. Oleh karena itu, kedua orang tua saya segera berpikir untuk mencari jalan tengah, atau istilah londonya win-win solution.

Hingga akhirnya dipilihlah nama Andi Wicaksono yang sampai saat ini masih saya pakai sebagai identitas saya. Kenapa mereka memilih nama ini? Ah, tampaknya tak perlulah saya bahas di sini.

Ternyata, pemilihan nama dan penolakan atas pemberian nama oleh mendiang eyang saya memang berimbas pada jalan hidup saya. Secara halus, ibu menolak anaknya kelak menjadi jaksa dan alhamdulillah sampai saat ini saya tidak jadi jaksa. Bahkan kemungkinan itu sangat kecil karena saya hanyalah lelaki biasa yang menyandang sarjana pendidikan bahasa dan sastra.

Lha kok malah alhamdulillah? Ya, garis takdir yang telah ditentukan ini memang layak saya syukuri karena saya yakin keputusan Allah itu selalu tepat. Dan ini memang terbukti. Sejak SD saya paling kesulitan ketika ditugasi menghafal undang-undang, butir-butir pancasila (dulu), dan sebagainya. Bagaimana jadinya bila orang seperti saya menjadi jaksa?

Selain itu, tugas berat yang dipikul oleh para jaksa. Saya bisa mengetahui itu dari cerita ibu, betapa berat tanggung jawab seorang jaksa. Masih ditambah lagi jika ada beberapa oknum yang tidak suka dengan jaksa yang bersangkutan maka berbagai intimidasi hingga guna-guna pun bisa menyerangnya. Dan ibu saya tidak ingin anaknya seperti itu. Dia mungkin tahu bahwa anaknya tidak sanggup menyandang jabatan itu sehingga ditolaklah keinginan mendiang eyang dengan tegas.

Dan akhirnya inilah saya. Terserah Anda menilai tulisan ini sebagai kenarsisan saya. Sekadar buka sedikit rahasia dapur, sebenarnya semalam saya ingin sekali mereview tentang sosok Wiji Thukul (atas gagasan dari seseorang). Ealah kok malah meleset sangat jauh. Namun, saya tetap berkeinginan akan memposting review yang tertunda itu pada postingan ke depan.

Ditulis dalam Subjektif. 11 Komentar »

Ngimpi karena Gaji

Le, katanya mau ada kenaikan gaji. Jadi, besok kalau gaji bapak naik, tak belikan PSP, Le. Balas si Panjul anak juragan beras itu yang suka pamer.

Bune, akhirnya kalung liontin impianmu yang sering kamu pandangi di toko emas itu bisa kau miliki. Biar si Minah bakul sate itu berhenti menghinamu.

Nduk, jangan kuatir. Besok, kamu bisa pake bedak dan lipstik mahal buatan eropah. Biar si Nana bunga desa itu jadi punya saingan.

Hahahaha… dengan kenaikan gaji ini, kita sekeluarga bisa gampang plesir ke Amrik. Ketemu wong Londo dan poto bareng sama mereka.

Hahahaha… ayo segera ganti pakaian. Kita rayakan kenaikan gaji ini dengan makan-makan di restoran Itali.

Sekarang tinggal satu permasalahan…. Cuma permasalahan kecil sih. Gimana caranya bapakmu ini jadi pejabat.

Oalah pakne-pakne, uwis tho rasah ngimpi…

Lebih baik kamu tetep jadi tukang tambal ban saja pakne…

Banyak pelangganmu yang berterima kasih karena jasamu.

Banyak orang yang sudah kamu tolong karena keahlianmu.

Nek masalah si Panjul, Minah, Nana … mbok wis ben to, biarin.

Yang penting kan kita masih bisa makan, anak-anak masih bisa lancar sekolah.

Dan aku, bojomu ini, masih bisa jualan nasi dan kerja jadi buruh laundry.

Ditulis dalam Sajak-sajak. 9 Komentar »

Hujan Batu Sambutanmu?

Kutoarjo, 24 Januari 2010. Pukul 15.20, kereta Prameks jurusan Solo belum juga datang. Padahal, menurut jadwal, kereta itu seharusnya berangkat pada pukul 14.55. Tapi, ini justru menjadikan kami sedikit menarik napas lega karena kami baru sampai di stasiun kecil itu pada pukul 15.15. Tidak terbetik sedikit pun kekhawatiran, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kira-kira pukul 15.30 kereta Prameks III dari arah Yogyakarta datang. Ratusan penumpang yang telah menunggu kehadirannya pun segera naik dan memenuhi tempat duduk. Alhamdulillah, kami mendapatkan tempat duduk.

Beberapa menit kemudian, pintu kereta ditutup dan kereta pun melaju. Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan sawah yang hijau. Hingga tak terasa, sampailah kami di stasiun Tugu, Yogyakarta.

Di Tugu, penumpang bertambah semakin banyak. Dan udara di dalam gerbong pun berubah pengap, sangat pengap. Bau badan ratusan penumpang pun bisa tercium jelas di hidung kami. Maka, maklumlah jika saya membuka sedikit jendela gerbong padahal kondisi di luar ketika itu hujan deras.

Satu jam lebih duduk di dalam kereta ternyata cukup membosankan. Punggung pegal masih ditambah rasa tak nyaman karena menahan kencing sejak dari stasiun Wates. Namun, saya masih cukup beruntung karena masih bisa duduk nyaman di kursi, tidak seperti para penumpang yang kini duduk lesehan di depan saya.

Ketika itu, saya perhatikan kebanyakan penumpang adalah wisatawan yang memanfaatkan hari liburnya untuk berwisata di Malioboro Yogyakarta. Tak sedikit pula yang masih kanak-kanak. Tentunya, mereka bepergian bersama orang tuanya.

Kereta pun melaju meninggalkan Yogyakarta menuju Solo. Secara berurutan, kami melewati Lempuyangan, Maguwo, dan Klaten. Ada rasa lega ketika stasiun Klaten telah terlalui. Berarti setelah ini, kereta akan sampai di Purwosari dan kemudian Balapan, tujuan kami.

Saya perhatikan langit, senja sepertinya hendak tiba. Berkali-kali istri menoleh ke jendela sekadar melihat sampai di mana kereta yang kami naiki melaju. Hingga sampailah kami di sebuah stasiun kecil di daerah Sukoharjo bernama Gawok. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di wilayah Solo Raya,” gumam saya dalam hati.

Di sekitar stasiun saya lihat beberapa pemuda sedang berdiri, ada juga berlari. Sebuah kejadian yang lumrah, gumamku. Karena, tiap sore saya sering melihat banyak pemuda yang duduk di sekitar stasiun untuk menonton kereta. Mungkin bagi mereka, tontonan itu adalah sebuah hiburan untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Ketika itu, pandangan saya masih tertuju di jendela. Melihat para pemuda itu. Tiba-tiba, bongkahan-bongkahan benda asing bermuntahan dari tangan mereka. Cukup mudah saya simpulkan bahwa bongkahan itu mewakili kebencian mereka, tapi pada siapa? Entahlah.

Sepersekian detik kemudian, “Brak!!!” Bongkahan itu jatuh di atap kereta. Belum juga terjawab pertanyaan saya, puluhan bongkahan yang sama pun berhamburan tak tentu arah dan salah satu mengenai kaca jendela tepat di hadapan saya. Alhamdulillah, kaca itu kuat. Justru bongkahan itu yang pecah. Namun, tidak semua kaca sekuat itu. Buktinya, kaca pintu yang cukup dekat dengan posisi duduk saya terpecah karena tak kuat menahan lemparan tersebut. “Prang!!!”

Pecahan kaca berhamburan di dalam gerbong. Sontak, ibu-ibu menjerit, anak-anak menangis, dan seorang bapak berteriak, “Semuanya, turun dari kursi! Tiarap!”

Tapi, saya tetap duduk tertegun melihat pemandangan itu. Betapa hebat buncahan kemarahan itu, tapi kepada siapa mereka marah? Saya tetap duduk di kursi sambil menghadap jendela. Saya perhatikan satu-persatu pemuda melampiaskan kemarahannya. Hingga setelah saya tolehkan kepala, saya baru sadar ternyata istri saya telah terjongkok di depan kursi sambil melindungi kepalanya. Begitu pula ibu-ibu, anak-anak, dan beberapa penumpang lainnya. “Semua sudah aman,” bisik saya kepada istri sambil menarik lengannya.

Aduhai, saya masih tak habis pikir dengan kejadian tadi. Hingga sampai di Balapan, pertanyaan saya masih menggelantung menagih jawaban. Kepada siapa mereka marah? Bukankah kami para penumpang Prameks adalah tetangga mereka juga, sesama masyarakat Solo? Lantas kenapa kami disambut dengan tumpahan kebencian?

Mas-mas, maaf kami bukan pulang dari nonton pertandingan bola. Begitu juga para penumpang lainnya. Perang suci seperti apakah yang telah Anda kobarkan? Sampai-sampai Anda samakan kami dengan pasukan Israel yang telah menjarah tanah Palestina.

Nde Syow Mas Gogon (Ketika Mendadak Pentas)

Bagi Anda yang pernah atau masih menjadi guru, apalagi Bahasa Indonesia tentunya pernah, bahkan sering ditunjuk untuk membimbing siswa dalam beberapa kegiatan. Hal inilah yang pernah saya alami, setidaknya selama masa PPL dulu selama beberapa bulan. Namun, pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika kami diminta oleh guru pamong untuk membimbing siswa dalam ekstrakurikuler teater.

Jujur, saya bukanlah aktivis teater. Bahkan tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Teater pun tidak. Saya hanyalah penikmat teater awam. Jika ditanya pernah naik pentas, memang pernah sih. Sekali ketika SMA dalam rangka memeriahkan lustrum sekolah dan sekali ketika kuliah S1. Keduanya itu pun karena adanya unsur keterpaksaan. Namun, setidaknya dari pengalaman dua kali naik pentas itu saya tahu dasar-dasar teater, mulai dari olah vokal hingga beberapa teknik dasar dalam pentas.

Kembali lagi ke cerita. Tiba-tiba sepulang sekolah, kami (saya dan 2 orang teman) diminta tolong oleh guru pengampu ekstrakurikuler teater untuk mendampingi siswa dan membagi sedikit ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

Sontak, kami pun terkejut. Selama ini kami hanya tahu dunia teater dan drama dalam ranah teori. Kalaulah disuruh menjelaskan apa itu pencahayaan, apa itu blocking, dan apa tugas sutradara, itu semua sudah kami hafal. Namun, ini lebih dari itu. Akan sangat lucu ketika saya hanya menjelaskan tapi tidak disertai dengan contoh praktik. Tapi, sudahlah. Mau tidak mau harus kami terima permintaan itu karena kami membawa nama almamater kami. Kami tidak ingin hanya karena masalah kecil seperti itu bisa menjatuhkan nama almamater kami.

Singkat cerita, jam ekstrakurikuler pun tiba. Terlihat beberapa siswa telah berkumpul dan bersiap. Kami pun menjelaskan pada mereka bahwa khusus untuk hari itu, yang mengajar teater adalah kami bertiga. Tampak beberapa anak senang dengan itu. Mereka menganggap hari itu adalah hari istimewa oleh mereka karena diajar oleh 3 mahasiswa yang katanya sih “mumpuni” dalam dunia bahasa dan sastra. Padahal kami adalah orang biasa. Bahkan bila dibandingkan bisa jadi mereka yang lebih jago dalam dunia teater.

Beberapa menit pertama bisa kami atasi. Siswa saya ajak berlatih vokal kemudian latih mimik wajah dengan berpasangan. Namun, tiba-tiba seorang siswa berusul, “Mas, kita praktik pentas aja yuk.”

Ibarat petir di siang bolong yang cerah, tantangan itu pun membuat kami syok. Dengan saling berpandang, kami bertiga terdiam hingga akhirnya menerima tantangan itu. Masih belum cukup sampai di situ, mereka pun mengajak adu pentas. Kelompok siswa melawan kami para mahasiswa. Jiah … ini gila. Bener-bener gila.

Dengan wajah agak berwibawa kami pun menerima tantangan itu. Namun, kami meminta tambahan pemain, setidaknya 2 atau 3 orang karena kami hanya bertiga. Mereka pun menerimanya. Kami diberi 2 pemain tambahan, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Setelah itu, masing-masing kelompok berembuk untuk menentukan lakon apa yang akan dipentaskan.

Setelah beberapa menit berembuk, pementasan dimulai. Tidak disangka dan tidak dikira, ternyata pada hari itu ada kegiatan ekstrakurikuler lain. Ada musik, rohis, OSIS, polisi keamanan sekolah (PKS –bukan partai bos–), dan lain-lain. Sekonyong-konyong mereka pun menjadi penonton. Maka, semakin lemaslah dengkul (eh lutut) saya.

Kelompok pertama yang naik pentas adalah kelompok siswa. Mereka bermain dengan sangat bagus. Dari segi vokalisasi, mimik, dll sudah pas. Bahkan jarang terjadi blocking. Tampaknya lakon tersebut sudah mereka kuasai. Hingga tak terasa kelompok pertama selesai. Terdengar riuh tepuk tangan dari para penonton.

Akhirnya, tibalah giliran kami. “Ayo Ndi, nde syow mas gogon,” hibur rekan saya memecah kekakuan. Saya pun tertawa sejenak dan senyampang kemudian saya orang pertama yang naik pentas. Ketika itu, saya memerankan seorang tua yang memberikan sedikit narasi kepada pemirsa. Di tengah narasi, masuklah rekan saya dan memanggil saya dengan nama Mbah.

Weleh, celaka 13! Saya pun tersadar kalau tadi belum menentukan nama masing-masing pemerannya. Maka dengan ajian sakti clemang-clemong bin ceblang-ceblung, saya pun memanggil rekan saya itu dengan nama Lik Dalkijo. Ada sebab maka ada akibat, itulah hukum dasar kehidupan. Demikian pula saat pementasan. Karena ajian sakti itu beberapa penonton ada yang tertawa. Yes, ajianku berhasil, gumam saya.

Seiring dengan tawa penonton, rasa keder akibat demam panggung pun mulai terkurangi. Hingga akhirnya benar-benar hilang. Tak terasa, pementasan mini kami berakhir dan mendapat apresiasi dari penonton. Tepuk tangan riuh rendah penonton beberapa saat membuat kami melayang ke awang-awang. Sejak saat itu, saya tak pernah bisa melupakan momentum indah ini. Hingga tak terasa waktu telah berlalu 3 tahun.

Melepas Senja di Pusara

Senja kala itu berselimut duka

Ketika satusatu meninggalkan pusara

Tapak demi tapak menjauh

Yang tersisa hanya harum semerbak kamboja

Kawan, jikalau ajal itu datang padamu

Bolehlah aku iri karena

Ajal itu datang selepas kau belajar agama

Apalah arti bilangan angka

20 bukanlah waktu yang lama

karna setelah 20 tersaji keabadian surga

Ya Allah, ampunilah dosanya

Dan masukkan dia di dalam Jannah yang mengalir sungai di bawahnya…

_______________

Dia adalah teman sekos saya yang meninggal karena sebuah kecelakaan. Di usia 20, ia tutup usia fananya. Sepulang dari pengajian, ketika ia sedang menyeberang sebuah tikungan besar, tiba-tiba….

Ditulis dalam Sajak-sajak. 11 Komentar »

Ampuhnya Doa Simbah

Kisah ini tidak saya alami sendiri, tapi dialami oleh istri saya. Tepatnya, ketika lebaran beberapa tahun yang lalu di rumahnya, Wonosobo. Ternyata, kota tersebut menyimpan berbagai kisah menarik. Salah satunya adalah kisah berikut ini.

Seperti biasa, ketika lebaran telah tiba maka kebudayaan saling kunjung dan bersilaturahmi menjadi kegiatan “wajib” yang dilakukan oleh para warga. Satu keluarga mengunjungi tetangganya dan yang muda mengunjungi orang yang dianggap lebih tua.

Ketika itu, saya dan kedua adik saya beserta dua saudara sepupu hendak bersilaturahmi ke rumah tetangga di sekitar rumah. Kebetulan, tujuan pertama kami adalah sebuah rumah mungil yang tak jauh dari rumah. Rumah tersebut ditinggali oleh seorang nenek.

Sesampainya di sana, seperti biasa, kami langsung dipersilakan masuk dan disuguhi dengan suguhan seperti halnya tamu yang berkunjung ke suatu rumah. Sang nenek pun bercerita kepada kami bahwa sebenarnya beliau masih ada hubungan kekeluargaan dengan keluarga ayah. Namun, entahlah saya tidak paham penjelasan silsilahnya karena terlalu rumit jika tidak diperkuat dengan penjelasan secara visual. Intinya, beliau berkata, “Simbah iki yo isih sedulur karo simbahmu (Nenek ini ya masih sekeluarga dengan kakek/nenekmu).”

Singkat cerita, kunjungan telah sampai pada penghujungnya. Sehingga sebelum berpamitan, kami bersalaman dan sungkem kepada simbah. Semoga dosa kami bisa lebur setelah bersalaman. Kami pun berbaris. Satu persatu bersalaman kepada simbah secara bergiliran. “Sugeng riyadi mbah, sedaya lepat nyuwun pangapunten (Selamat Idul Fitri, apabila ada kekhilafan mohon dimaafkan).” Dan sang simbah pun membalasnya dengan ucapan dan doa yang berbeda-beda. Entah “Muga-muga rejekine lancar.” Muga-muga dadi anak sing sholeh.” “Muga-muga ndang entuk jodo.” Dsb.

Hingga sampailah pada urutan terakhir yang kebetulan adalah adik saya. Setelah mendoakannya, simbah tiba-tiba meludah di tangannya dan selang sepersekian detik kemudian menepukkan tangan yang telah penuh dengan ludah itu ke dahi adik seraya berkata, “Tampanono dongane simbah (Terimalah doa dari nenek).” Plak….

Muka adik pun memerah. Kami hanya bisa menahan tawa. Begitu kami beranjak keluar dari rumah tersebut, adik cuma bisa berkata, “Mbak, iki piye?” sambil menunjuk dahinya yang basah dengan ludah mujarab.

NB: Tokoh saya dalam kisah di atas adalah istri saya. Sekarang, simbah telah meninggal dunia. Cerita ini saya tulis bukan bermaksud untuk menjelekkan salah satu orang atau keyakinan tertentu.

Orang Gila Masuk Desa

Cerita ini adalah cerita lama yang saya alami ketika saya berlebaran di rumah nenek di lereng gunung Sumbing. Ketika itu, jalan masih berbatu, tidak seperti sekarang yang telah teraspal halus. Namun, sampai sekarang saya masih merindukan suasananya. Pemandangan yang indah, suara gemericik air yang mengalir, dan keramahan dan keluguan masyarakatnya.

“Ndi, Ada orang gila di rumah Mbah Son,” ucap paklik (alias om) saya.

Orang gila? Saya sedikit terkejut mendengar perkataan paklik ketika itu. “Siapa orang gila itu?”

“Dia dari Jakarta. Kapan kamu ada waktu, lihat aja. Kalo perlu ajak ngobrol,” sambung paklik dengan nada menantang dan sedikit guyon.

Bagi saya, ketika mendengar kata “orang gila” maka dalam pikiran saya langsung terbayang orang yang kusut masai tak terurus, tidak pernah mandi, suka makan dari tong sampah, dan suka menceracau. Namun, kenapa paklik justru menantang saya untuk mengajak berbicara. Bahkan, sekadar melihat pun saya belum tentu mau. Apalagi, kenapa juga orang gila dari Jakarta datang ke pelosok desa ini? Ah, saya pun tak begitu menghiraukannya.

Keesokan harinya, tiba-tiba paklik saya memanggil saya. “Ndi, orang gilanya sekarang ada di ruang tamu.”

“Ha?! Di ruang tamu? Kenapa dipersilakan masuk?”

“Sudahlah, sana ajak omong.”

Aduh, dengan deg-degan saya berjalan menuju ruang tamu bersama paklik. Sudah terbayang seperti apa orangnya. Tiba-tiba saya teringat, bagaimana pula bila dia nanti mengamuk di sini? Ah, saya semakin takut membayangkannya. Tapi, kenapa paklik santai sekali?

Sesampainya di ruang tamu, saya tebar pandangan saya. Di situ cuma ada bulik yang sedang berbincang dengan seorang lelaki. Dilihat dari fisiknya, dia bukan orang Jawa karena warna kulitnya putih seperti etnis Cina. Lelaki paruh baya itu duduk berkaos putih dan memakai topi biru. Entah apa tulisan di topi itu, saya sudah lupa. Tubuhnya pun sangat terawat, bahkan saya mencium bau wangi parfum dari tubuhnya.

Saya pun diperkenalkan kepada lelaki itu. Paklik berkata bahwa saya mahasiswa UNS dan tinggal di Solo. Setelah itu, paklik berbisik, “Ini orang gilanya.”

Pada awal percakapan, saya tidak melihat tanda-tanda gila pada diri lelaki itu. Dia berbicara dengan runtut dan sistematis, bahkan tampak bahwa dia adalah orang yang terpelajar. Dia berkata bahwa dia dulu sering berkunjung ke Solo. Di sana, dia beberapa kali melakukan kunjungan bisnis.

Tiba-tiba, dia mengajak saya bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Saya pun kelabakan karena kurang bisa berbahasa Inggris secara aktif. Dia bercerita tentang bisnisnya dan sering menanyakan tentang perkuliahan saya. Lama-kelamaan saya menangkap memang ada yang aneh dengan dirinya.

Hari pun semakin siang dan saya pun mohon diri untuk sarapan. Ketika sarapan, paklik saya bercerita bahwa dulu dia pengusaha kaya di Jakarta. Namun, karena suatu hal maka usahanya mengalami kerugian hingga membuat dia terpukul. Sejak saat itulah dia menjadi agak stress. Dia suka bercerita tentang masa kejayaannya.

Adapun kenapa lelaki itu bisa sampai pelosok desa ini? Karena, dia dibawa oleh seorang anak Mbah Son (yang juga paklik saya) yang bekerja di Jakarta sana. Siapa tahu stressnya bisa terkurangi setelah menghirup udara segar lereng gunung Sumbing dan kesederhanaan masyarakatnya.

Oalah hidup. Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Ronan Keating, “Life like a roller coaster.” Hidup itu kadang naik, kadang juga turun.