Jujur, saya masih bingung harus saya mulai dari mana tulisan ini. Menceritakan sosok lelaki ini sangatlah sulit karena keterbatasan saya dalam mengenalinya. Paling, yang saya tahu hanyalah karyanya yang selalu abadi tak lekang dimakan zaman.
Thukul adalah pribadi yang penuh misteri, seperti banyaknya lompatan misteri di balik puisi-puisinya.
(Munir)
Bermula dari sebuah cerita dari seorang wanita. Wanita itu akrab dipanggil Mbak Pon. Dia bercerita bahwa pada akhir tahun 1997 dia pernah mengajak kedua anaknya pergi ke Yogyakarta. Hari itu, bertepatan dengan ulang tahun putra bungsunya. Dengan berkereta, mereka sebenarnya hendak ke Gembiraloka. Namun, sesampai di kota pelajar itu, tiba-tiba ia ingin berganti tujuan. Entah karena apa, Kaliurang menarik hatinya. Lantas dia pun mengajak kedua anaknya ke sana.
Sesampai di Kaliurang maka terjawab sudah. Secara tak disangka, mereka bertemu dengan Wiji Thukul, suami sekaligus ayah dari kedua anak itu. Sebuah perjumpaan yang syahdu karena telah beberapa lama mereka tak bertatap mata.
Lelaki itu lantas membelikan mobil-mobilan kepada anak bungsunya yang ketika itu masih balita. Tidak berselang lama, mereka pun berpisah. Entah sang ayah itu pergi ke mana. Mbak Pon menutup ceritanya bahwa itulah pertemuan terakhir dengan suaminya. Selepas pertemuan itu, Wiji Thukul hilang entah ke mana.
Wiji Thukul adalah lelaki biasa. Dia hanyalah anak seorang penarik becak di kota Surakarta. Ijazah pendidikan terakhirnya pun hanya mentok sampai pada jenjang SMP, tak lebih. Demi menafkahi keluarganya, lelaki itu bekerja serabutan. Suatu kali jualan koran, di lain kesempatan jadi tukang pelitur. Namun, di sela-sela waktunya, dia selalu menulis sajak. Berikut ini beberapa penggalan sajak karyanya.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
(Peringatan)
Hati siapa yang tak bergetar membaca penggalan sajak di atas? Sangat gamblang dan vulgar diungkap, tak ada bahasa figuratif seperti puisi pada umumnya. Perlu diketahui, penggalan puisi di atas adalah salah satu karyanya pada tahun 1986. Namun, ada juga puisi karyanya yang penuh dengan simbol.
Tikar plastik tikar pandan
Kita duduk berhadapan
Tikar plastik tikar pandan
Lambang dua kekuatan
Kalian duduk di mana?
(Sajak Tikar Plastik-Tikar Pandan)
Kebanyakan puisi karya Wiji Thukul adalah puisi perlawanan dan puisi yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil. Namun demikian, bukan berarti puisi karyanya sangat jauh dari unsur estetika. Oleh karena itu, pada tahun 1991 Wiji pun mendapat penghargaan atas jasanya di bidang sastra. Ironisnya, penghargaan itu bukan datang dari dalam negeri. Penghargaan itu justru datang dari Amsterdam Belanda, tepatnya Piagam Penghargaan Stichting Wertheim.
Muncul banyak pertanyaan tentunya ketika membaca semua ini. Dan salah satu pertanyaan besar itu adalah, kenapa sosok sepertinya harus hilang?








