Soal Ujian Cabul, Salah Penuliskah?

Siang ini saya terkejut membaca berita yang berisi tentang lolosnya soal Ujian Tengah Semester (UTS) yang berkonten cabul di Sidoarjo. Ironisnya, kesalahan itu baru diketahui ketika soal telah disebar ke seluruh sekolah di Sidoarjo Jawa Timur. Dan kebetulan soal tersebut untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas 6.

Hingga  saat ini penyelidikan telah dilakukan dan sang penulis soal telah dipanggil untuk menghadap Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo. Karena sangat terpukul dan tak menyangka akan seperti itu, si penulis bahkan sempat stres dan pingsan ketika ditanya perihal kejadian itu. Pertanyaannya, benarkah sekonyong-konyong kesalahan langsung ditimpakan kepada si penulis begitu saja?

Menulis  soal ujian bukanlah perkara yang gampang. Tidak sekadar asal menulis lalu langsung diterbitkan atau dicetak untuk disebarluaskan. Seperti halnya menerbitkan buku, ada alur tersendiri yang harus dilalui sebelum soal tersebut masuk proses cetak. Seperti apakah gambaran alur tersebut?

Pertama, penulis soal bukanlah orang asal-asalan. Penulis soal tentunya adalah orang yang berkompeten di bidangnya. Andaikan sang penulis adalah guru maka guru tersebut pun bukan sembarang guru. Setidaknya, dia memiliki pengalaman di bidang penulisan soal-soal ujian atau sejenisnya.

Kedua, proses editing yang ketat. Proses editing di sini jangan hanya diartikan bahwa yang diedit hanyalah unsur EYD saja. Lebih dari itu, kesesuaian tiap butir soal dengan kurikulum pun dipertimbangkan pula. Dalam hal ini yang mengedit adalah tim ahli yang mengetahui kurikulum pendidikan. Setelah itu, masih diedit pula mengenai kevalidan tiap butir soalnya sehingga tidak ada soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk dikerjakan.

Ketiga, tahap setting. Naskah yang telah diedit, disetting tata letaknya dan sebagainya agar tampak tidak membosankan sehingga siswa tidak jenuh untuk membaca dan mengerjakannya.

Keempat, editing akhir (pracetak). Naskah diedit kembali namun tidak sekompleks ketika proses editing pertama.

Kelima, cetak. Setelah memasuki tahap ini, tandanya naskah telah layak untuk digunakan sebagai soal ujian.

Itulah lima alur yang saya ketahui. Dan untuk sampai ke tahap kelima tidak semudah yang dibayangkan. Misal, ada soal yang tidak sesuai dengan kurikulum maka soal tersebut dikembalikan lagi kepada penulis untuk diperbaiki. Oleh karena itu, saya heran dengan kejadian ini. Kenapa hal yang seperti itu bisa lolos?

Dikaji dari judulnya saja, wacana dalam soal tersebut masih kurang layak untuk dijadikan wacana soal dalam pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas 6.  Setidaknya ada empat kesalahan yang saya temukan.

Judul: Pengusaha Bandel di Krangkeng Bareng Mak Erot

Kesalahan I: Penempatan kata depan di yang tidak tepat.

Kesalahan II: Pemilihan kata krangkeng bukan EYD. Kenapa tidak menggunakan kata tahan, penjara, bui, atau padanan kata lainnya yang telah EYD?

Kesalahan III: pemilihan kata bareng yang tidak EYD. Seharusnya bersama.

Kesalahan IV: ada penyebutan nama Mak Erot yang kurang layak dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar.

Memang, dalam hal ini penulis adalah orang yang harus bertanggung jawab. Namun, kenapa wacana tersebut bisa lolos begitu saja? Apakah soal tersebut telah melalui alur yang benar?

Anehnya, judul wacana tersebut dicetak dengan style berbeda dengan jenis font dan ukuran yang berbeda (lihat gambar). Dan celakanya, wacana tersebut ditempatkan di halaman pertama sehingga dalam sekali lihat bisa langsung ketahuan (lihat gambar).

Mari kita berintrospreksi diri.

Kepada Para Penjaga Al-Aqsha

Kepada saudaraku di Palestina, saya sampaikan berita gembira dari Al-Qur’an kepada kalian:

01

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (memperbanyak zikir dan doa) agar kamu beruntung.” (Al-Anfâl: 45).

02

 

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249).

03

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imrân: 175).

 

Saudaraku, doa kami selalu bersamamu.

 

Sumber foto: http://foto.detik.com/

Ditulis dalam Refleksi. 4 Komentar »

Suatu Saat Sastra Indonesia Hanya Tinggal Kenangan

“Eh, udah baca Harry Potter yang terbaru?”

“Sherlock Holmes mau difilmkan lho.”

“Aku suka sekali novel-novel karya Paulo Coelho.”

Di satu sisi saya bersyukur karena masyarakat Indonesia (terutama kaum muda) mulai merespons positif budaya membaca. Di sisi lain, agak miris karena kalau seperti ini terus bisa jadi karya sastra lokal akan semakin tersingkir.

Secara jujur, saya pun pernah membaca buku-buku di atas. Setidaknya novel Harry Potter pernah kubaca walaupun sampai sekarang belum sampai pada seri terakhirnya. Serial detektif karya Sir Arthur Conan Doyle pun tetap membekas di benak saya karena kehebatan alur berpikirnya. Adapun Paulo Coelho baru satu karyanya yang telah kubaca dan itu pun memberi kesan yang mendalam.

Namun, seharusnya kita sadar bahwa Indonesia pun memiliki karya yang tidak kalah bagus dari karya-karya terjemahan di atas. Misalkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang telah diterbitkan dalam beberapa bahasa selain bahasa Indonesia. Tetralogi Pulau Buru karya mendiang Pram yang masih saja fenomenal. Hingga beberapa novel dan roman lokal lainnya yang mengisahkan budaya kita sendiri.

Maaf bila ada yang tersinggung. Namun, niat awal saya menulis ini adalah untuk mengajak Anda para pembaca untuk senantiasa berimbang dalam menentukan bahan bacaan. Perlu Anda ketahui, kebesaran roman seperti Sitti Nurbaya, Atheis, Salah Asuhan, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan roman-roman lainnya kini mulai terkikis. Hal ini disebabkan, kebesaran buku itu mulai tergantikan dengan sinopsis-sinopsis singkatnya.

Kenapa bisa begitu? Karena pembaca (dalam hal ini siswa) mulai malas membacanya. Walaupun sudah masuk dalam kurikulum pendidikan, tapi ternyata masih bisa diakali.

Sebagai contoh, suatu ketika seorang siswa diberi tugas membuat sinopsis novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Tentunya tujuan sang guru adalah agar siswanya mau membaca buku tersebut. Namun, entah karena kesulitan mencari bukunya, atau malas membaca buku jadul seperti itu maka si siswa pun lebih memilih mencari sinopsisnya secara instan di dunia maya. Mungkin di dalam benaknya berkata, “Buku apa itu? Achdiat? Sapa lagi itu? Mendingan baca buku xxxxxxx aja (yang notabene adalah buku terjemahan dan lebih populer).”

Contoh di atas adalah permisalan dan hanya sebuah rekaan saja (bahasa kerennya HOAX). Namun, jika seperti itu kenyataannya maka perlu kita khawatirkan. Karena, pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah siswa itu sendiri. Dia tidak akan mengerti di mana letak kelebihan novel tersebut dan parahnya dia tidak mengetahui apa amanat yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya jika kita hanya berpangku tangan maka sastra Indonesia hanyalah tinggal kenangan. Anak cucu kita kelak hanya mengenal bahwa dahulu ada roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Roesli yang katanya itu adalah roman yang fenomenal. Dan sebagainya.

Silakan Anda baca karya terjemahan tapi jangan abaikan karya lokal.

Silakan Anda mengarungi samudra sastra tapi jangan kesampingkan agama.

Swedia Duhai Swedia

Pada kesempatan kali ini saya mau berbicara tentang sepakbola. Ingat, sepakbola.

Perlu Anda tahu, saya adalah salah satu penyuka bola. Tentunya, tidak heran bila seorang penyuka bola memiliki tim kesayangan yang dijagokan. Apabila klub, saya adalah seorang Laziale (sebutan bagi suporter SS. Lazio). Adapun untuk timnas, saya menjagokan Blagult (julukan untuk timnas Swedia). Sekali lagi, saya mengajak berbicara tentang sepakbola. Bukan nasionalisme maupun sentimen lainnya.

Baru-baru ini, putaran kualifikasi Piala Dunia 2010 hampir berakhir. Beberapa timnas lolos menuju Afrika Selatan, namun ada pula yang gigit jari. Dan salah satu timnas yang gigit jari adalah Swedia. Meski bisa unggul atas timnas Albania 4-1, tapi apa mau dikata. Kemenangan itu menjadi tidak berarti karena di lain pihak, Portugal pun meraih angka penuh atas Malta 4-0.

Hasil tersebut menempatkan Swedia berada di posisi ketiga grup A yang hanya terpaut satu angka dengan Portugal. Dengan kata lain, Portugal telah memupuskan kegembiraan sang Viking. Sangat ironis memang. Di satu sisi mereka menang besar, tapi di sisi lain kemenangan itu tak membawa arti apapun (meski menang 100-0 pun).

Selain menelan pil pahit bahwa Swedia tak bisa mendapat tiket menuju Afsel, ternyata mereka masih harus menelan pil yang lebih pahit lagi. Yaitu, kemungkinan sang pelatih, Lars Lagerback, akan mengundurkan diri dari jabatan yang telah dia emban hampir selama sembilan tahun. Sangat beralasan memang, karena sejak tahun 2000 mereka selalu lolos menuju Piala Dunia dan Piala Eropa. Sehingga inilah prestasi terburuknya sejak dia menukangi Swedia.

Pada akhirnya berat terasa bila saya tak bisa menyaksikan gedoran Kim Kallstrom, umpan manis Henrik Larsson, dan gol spektakuler Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia kelak.

Sumber gambar: http://www.detiksport.com/sepakbola/

Cermin Bagi Pemimpin

Dalam sejarah tercatat bahwa dahulu ketika masa kekhalifahan Umar bin Khatab pernah terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan. Ketika itu, dijelaskan bahwa banyak manusia dan hewan yang mati karena kejadian tersebut. Tahun tersebut dikenal dengan Tahun Ramadah. Lantas apa yang dilakukan oleh Sang Khalifah ketika itu?

Yang jelas, beliau tidak cari pinjaman fresh money ke IMF atau bahkan melakukan kunjungan kerja ke negeri yang kaya. Pada masa-masa sulit tersebut, beliau hanya mengonsumsi minyak dan cuka sebagai makanan sehari-harinya. Tidak tanggung-tanggung, beliau tetap melakukan “aksi” tersebut hingga fakir miskin mampu membeli makanan. Padahal krisis tersebut terjadi tidak dalam hitungan hari atau minggu.

Tentunya sangat ironis bila dibayangkan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dunia justru hidupnya seperti itu. Pertanyaannya, bisakah pemimpin kita mengambil teladan dari langkah beliau?

Baru-baru ini pemerintahan Indonesia telah berganti penampilan. Para pejabat yang tadinya mengemban amanah untuk mengatur negara kini telah berganti dengan wajah-wajah baru dan sebagian kecil wajah lama. Ada yang yang bersuka cita, ada yang gembira, ada yang bersyukur, tapi jarang ada yang menangis sedih karena takut atas tanggung jawabnya.

Terlepas dari ekspresi mereka, tampaknya perlu kiranya para pemimpin bercermin pada tokoh yang bergelar Al-Faruq (Sang Pembeda) ini. Sadarlah bahwa tugas yang Anda emban sangatlah berat.

Begitu pula kepada para wakil rakyat. Dalam hal ini saya kembali teringat dengan sebuah tulisan karya mendiang Harry Rusli yang kurang lebih mengatakan bahwa sudah jamak diketahui bahwa gaji seseorang pasti lebih tinggi dibanding dengan gaji wakilnya. Buktinya, gaji presiden tentunya lebih tinggi dibanding dengan gaji wakil presiden. Namun, bagaimana dengan gaji rakyat? Lebih tinggikah dibandingkan dengan gaji wakil rakyat?

Pada akhirnya, saya yang wong cilik ini nggak bisa banyak berpesan kepada Anda. Namun, dalam kesempatan ini perlu kiranya Anda membaca cuplikan nasihat panjang Khalifah Ali bin Abu Thalib berikut ini:

“Ambillah pelajaran ini dariku. Aku datang ke negeri ini laksana semut kecil lalu Allah karuniakan kepadaku nikmat yang demikian besar ini. Maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah kamu untuk meninggikan agama Allah dan hormatilah ahlinya. Janganlah kamu menghambur-hamburkan harta negara dalam foya-foya dan senang-senang atau kamu pergunakan lebih dari yang sewajarnya. Sebab, itu semua merupakan penyebab utama kehancuran.”

Ditulis dalam Refleksi. Tag: . 6 Komentar »

7,6 Skala Richter

Betapa mudah segalanya datang dan hilang dari kita. Tidak jaminan bahwa orang yang hari ini kaya, esok akan tetap kaya. Tidak jaminan bahwa orang yang hari ini sehat, esok akan tetap menghirup segarnya udara Allah. Suratan takdir telah kering dan manusia hanya bisa berusaha dan berdoa.

Kemarin, di belahan bumi yang kita pijak, tepatnya di Padang, telah terjadi musibah gempa dengan kekuatan guncangan 7,6 SR. Ratusan gedung yang dulu berdiri gagah, seolah menjelma menjadi tumpukan pasir yang lemah tak berdaya. Roboh.

Ratusan nyawa melayang. Hingga siang ini dilaporkan bahwa korban tewas telah mencapai 220 orang. Diperkirakan, jumlah tersebut akan terus bertambah.

Oleh karena itu, marilah kita perbanyak istighfar dan introspeksi diri. Barangkali dosa dan maksiat kita adalah penyebab kejadian pahit ini terjadi. Berikan bantuan Anda walau itu hanya sebatas doa.

Ditulis dalam Indonesia. 5 Komentar »

Rubah dan Ubah, Beda?

Setelah beberapa kali nulis tulisan yang gak penting, sekarang saya akan kembali menulis tentang tulisan yang agak penting. Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak Anda untuk mengingat kembali pelajaran Bahasa Indonesia kelas IX (atau tiga) SMP. Yaitu, tentang kesalahan persepsi kata dasar.

Ketika membaca judul di atas maka sangat dimungkinkan para pembaca (saya dan Anda) akan langsung berkata, “Ya jelas beda.” Rubah adalah kata benda yang bermakna nama salah satu jenis hewan. Sedangkan ubah adalah kata kerja yang bermakna menjadi lain (berbeda) dari semula.

Ada beberapa contoh kasus. Terkadang saya menemukan contoh kalimat dengan jenis hampir sama seperti ini.

1. Seekor ulat kelak akan berubah menjadi kupu-kupu.

2. Tiada seorang pun yang dapat merubah nasib yang sudah digariskan.

3. Rubah pikiranmu sekarang juga!

Sekarang, fokuskan perhatian Anda pada kata yang bercetak tebal. Tahukah Anda dari kelima contoh kalimat di atas terdapat kesalahan dalam persepsi kata dasar? Mari kita bahas satu per satu.

1. Seekor ulat kelak akan berubah menjadi kupu-kupu.

Kalimat ini benar karena kata “berubah” adalah kata bentukan. Proses pembentukannya adalah:

ber- + ubah ———- berubah.


2. Tiada seorang pun yang dapat merubah nasib yang sudah digariskan.

Kalimat ini tidak baku karena terdapat kata merubah yang mengalami pembentukan yang salah. Bukti:

merubah ———– me- + rubah

Pembentukan ini salah karena kata dasar ‘rubah’ tidak bisa diberi imbuhan apapun. Hal ini disebabkan,  ‘rubah’ adalah jenis kata benda. Selain itu, berdasarkan konteks kalimatnya, seharusnya kata dasar yang tepat adalah ‘ubah’, sehingga:

me(N)- + ubah ———— mengubah.


3. Rubah pikiranmu sekarang juga!

Waaaaah, kalo ini makin salah, dan Anda pasti sudah tau jawabannya kan? ;)

Simpulan yang bisa ditarik adalah jangan gunakan kata bentukan ‘merubah’ pada tiap tulisan Anda. ‘Merubah’ adalah salah satu contoh kesalahan dalam persepsi kata dasar. Hal ini disebabkan, mayoritas orang telah familiar dengan istilah ‘berubah’. Bahkan Kotaro Minami tiap hendak bertransformasi menjadi Ksatria Baja Hitam, dia selalu meneriakkan kata, “BERUBAH!!!”

Namun, karena kebiasaan mas Kotaro itulah maka mind set masyarakat Indonesia pun terbentuk secara alami. Dengan sekonyong-konyong, mayoritas pengguna bahasa Indonesia pun berpersepsi bahwa berubah, merubah, dan rubah memiliki makna yang saling berhubungan.

Bak semangkuk soto Kudus, persepsi keliru itu serasa enak di lidah. Padahal tak terasa, sebuah racun yang bernama kesalahan persepsi kata dasar telah tercampur di dalamnya.

Oleh karena itu, mari kita UBAH persepsi itu mulai dari diri kita sendiri. Gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

NB: Maaf hanya tulisan picisan yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi para blogger mumpuni seperti Anda. Tapi jangan pandang remeh kaidah yang terkandung di dalamnya.

Hubungan Antara Plat Nomor dan Nama Kota

Dulu saya adalah orang yang memiliki anggapan bahwa plat nomor di Indonesia itu disesuaikan dengan nama kota yang bersangkutan. Kenapa demikian? Karena, kebetulan saya besar di kota Kudus yang ternyata dapat jatah inisial plat K. Namun, anggapan itu harus terbantahkan ketika suatu ketika saudara dari Jakarta datang berkunjung dengan mengendarai mobil pribadi. Awal mula saya dengan yakin berhipotesis (halah), pasti plat nomernya J. Ealah, setelah saya longok langsung ternyata kok B….

Sehingga sejak saat itu pun saya kembali berpikir. Hingga ketika saya agak dewasa dan mulai agak kenal seluk beluk sejarah maka saya kembali membenarkan hipotetsis tersebut. Coba Anda pikir, nama lain Jakarta apa??? Batavia kan ….

Dan sekarang, hipotesisku kembali diuji kevalidannya. Sejak lulus SMA, saya berhijrah ke Surakarta melaksanakan mandat orang tua untuk menuntut ilmu. Kebetulan, kota Surakarta berplat AD. Aku pun kembali memutar otak. Dan akhirnya kutemukan keterhubungannya. Coba apa nama panjang Surakarta? Jawabannya, Surakarta HADiningrat.

Bahkan saya pun sekarang telah siap bila suatu saat ditanya istri saya. Perlu diketahui, istri saya adalah orang Wonosobo yang notabene punya kendaraan bermotor berplat AA. Bila kelak istri bertanya, maka akan saya jawab:

Coba dinda ingat pelajaran menulis aksara Jawa. Seperti apakah tulisan kota kelahiran dinda? Maka akan didapati bahwa penulisannya menjadi WAnAsaba. (seperti halnya hanacaraka, bukan honocoroko).

Nah, bagaimana dengan kota lainnya??? Jogja dengan plat AB-nya? Semarang dengan plat H-nya? dan semua kota yang belum saya kaji keterkaitannya? Lha, itu jadi PR kita bersama aja…. :D

NB: Tulisan ini 100% nyeleneh. Jangan ikuti mazhab ini hingga ada keterangan resmi dari pihak yang bertanggung jawab.  Selain itu, bila tulisan ini membuat Anda tidak berkenan, saya siap menghapusnya kok.

Ditulis dalam Subjektif. 11 Komentar »