Perkenalan dengan Heru Kesawa Murti (Pak Bina)

Cerita masalah kuliah lagi-kuliah lagi. Saya harap rekan-rekan tidak bosan berkunjung ya, karena ini cerita yang nggak teoretis banget (seperti postingan kemarin). Ini hanya sekelumit pengalaman tentang KKL saya yang sebenarnya telah berlalu kira-kira setahun silam.

Bukannya saya sok nyeni atau sok nyastra, tapi karena ada suatu keperluan maka saya dengan seorang teman kuliah (yang kebetulan adalah vokalis grup musik humor Surakarta) melakukan kunjungan ke Yayasan Bagong Kussudiarja (YBK) yang bertempat di DIY. Ketika itu, saya mendapat tugas suci untuk mengantar proposal KKL program studi S2 kami ke tempat tersebut, lebih tepatnya ditujukan kepada kelompok teater Gandrik.

Singkat cerita, sampailah kami berdua di YBK. Sangat ramai, itulah kesan pertama kami sampai di tempat tersebut. Bahkan ketika memasuki gang menuju sanggar, kami ditanyai undangan. Untungnya, setelah saya menjelaskan tujuan kunjungan kami pada pagi menjelang siang itu, kami pun dipersilakan masuk.

Memasuki kompleks YBK, kami agak bingung. Banyak orang berlalu lalang. Hingga akhirnya teman saya yang vokalis itu memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang wanita yang juga tampak sibuk. Melalui petunjuk wanita tersebut maka sampailah kami di gedung sekretariat yayasan.

Setelah memberikan sedikit penjelasan tentang tujuan kunjungan maka dipertemukanlah kami dengan seorang lelaki. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Heru. Tak ada rasa de javu apapun ketika itu. Lelaki itu menjelaskan bahwa dia adalah pengurus teater Gandrik.

Namun, lama-kelamaan ketika saya pandang wajah Pak Heru, saya merasa tidak asing dengan wajahnya. “Kok wajahnya seperti pernah masuk tivi ya,” gumam saya. Saya putar memori saya berlawanan arah jarum jam. Sampai akhirnya teringatlah saya bahwa beliau adalah salah satu tokoh dalam film Mbangun Desa yang dulu sering diputar oleh stasiun TVRI. “Ah iya, beliau ini kan pemeran tokoh Pak Bina,” gumam saya agak girang dan sok pinter.

Tak terasa perbincangan telah berjalan hampir setengah jam. Tiba-tiba, teman saya pun bertanya kepada beliau tentang nomor kontak yang bisa dihubungi, “Pak Heru, bisa minta nomor HP-nya?”

Beliau pun memberikan nomor kontaknya kepada kami. Tidak sampai di situ saja, bahkan beliau kemudian menawarkan alamat emailnya. “Sekalian dicatat, ini alamat email saya.”

“Oh iya pak, saya catat,” jawab saya.

Pak Heru dan Masdeewee

Betapa kaget kami ketika dia memberi tahu alamat emailnya. Karena, salah satu potongan akun email beliau adalah kesawa. “Badhala, jadi kami hampir setengah jam berbincang dengan salah satu tokoh pendiri teater Gandrik?!”

Nuwun sewu, ndak leres niki kalih Pak Heru Kesawa Murti? (mohon maaf, benarkah Anda Heru Kesawa Murti?)” tanya saya.

Beliau pun mengiyakan. Weleh-weleh. Dosen saya hampir dalam tiap mata kuliah apresiasi drama pasti menyinggung nama besarnya, karya-karyanya, teaternya, dan pementasannya. Tidak disangka, saya bisa bertatap muka dan berbincang cukup lama dengan beliau. Dan yang memalukan, saya baru sadar bahwa beliau adalah tokoh sastra Indonesia.

“Maaf Pak, saya baru sadar kalau njenengan adalah Pak Heru Kesawa Murti. Kemarin saya bersama teman-teman habis mementaskan naskah njenengan.”

“Oh ya?”

“Iya Pak, kami mementaskan naskah njenengan yang berjudul Isyu.”

Beliau kemudian tersenyum. Kami pun berpamitan dengan terbengong-bengong. Belum selesai bengong kami, tiba-tiba Pak Heru berkata, “Lha itu Pak Butet, silakan kalau mau berbincang.”

Karena sudah terbengong-bengong di akhir perbincangan, kami pun belum siap tuk berbincang dengan Pak Butet. Akhirnya, kami pun hanya bisa tersenyum.

Ketika kami hendak keluar, teman saya pun menanyakan perihal ada acara apakah di sanggar ini kok begitu ramainya. Maka dijawab oleh Pak Heru, “Itu baru ada pentas musik Pak Djaduk dengan rekan Sinten Remennya.”

“Kami boleh nonton Pak?” spontan saya bertanya.

“Boleh, silakan. Barus aja mulai kok.”

Waaaah betapa beruntungnya kami berdua. Niat awal memasukkan proposal kegiatan kunjungan. Di benak kami, pasti Cuma ketemu sama bagian administrasi, terus pulang. Oalah, lha kok malah di luar perkiraan, justru saya bisa bertemu dengan 3 tokoh hebat dunia sastra dan seni Indonesia. Gratis lho….

Comments
9 Responses to “Perkenalan dengan Heru Kesawa Murti (Pak Bina)”
  1. kyaine mengatakan:

    selain bertemu dengan Pak Bina, ketemu dng anggota Gandrik yg lain nggak mas, seperti Denbaguse Ngarso?
    Ketika saya masih kuliah dulu, salah satu anggota Gandrik, mas Sepnu, adalah pegawai TU fakultas tempat saya kuliah loh..🙂

    _________
    masdeewee njawab:
    selain beliau2 itu, kami juga bisa berbincang dengan seorang sesepuh Gandrik, gus. tepatnya pak Jujuk Prabowo.

  2. Miftahgeek mengatakan:

    Ha, ha, yang gratis dan mantap karyanya emang paling yahud😀

  3. nakjaDimande mengatakan:

    hwaaa senangnya mas Andi ketemu 3 tokoh hebat tsb, klo aku pasti udah terbengong-bengong ngga bisa ngomong😀

  4. catatanpelangi mengatakan:

    Jadi flashback masa kuliah..berasa cepat waktu bergulir

  5. nurrahman18 mengatakan:

    wah serasa ketemu bintang pujaankah kang? hehe

  6. wibisono mengatakan:

    wah alangkah senangnya bisa ketemu idola kita..

  7. Mas Ben mengatakan:

    Wah kalau ketemu beliau lagi titipkan salam saya ya, penggemar beliau hehhee

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  8. Huang mengatakan:

    Wah pasti perasaan anda begitu ketemu beliau🙂.

  9. annosmile mengatakan:

    wah..senengnya bisa ketemu beliau…
    beliau punya fb juga nggak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: