Tangis

Tadi pagi, seorang bocah dari ponpes sekaligus panti asuhan di belakang kantor mungilku datang sembari terisak. Dengan tersengal isaknya sendiri dia meminta saya tuk mengantarnya pulang. Kebetulan ketika itu saya sedang sendirian di kantor.
Menghadapi kejadian tersebut, pertama saya agak gugup kebingungan. Namun, rasa bingung itu segera saya buang jauh. Langsung dia kutanya kenapa ingin pulang. Dia pun menjawab kangen ibunya.

Sontak tembok pertahananku pun runtuh lantak mendengar jawaban singkatnya. Sedikit rasa iba mulai muncul kepadanya. Lantas kutanyakan kelas berapa dia. Masih dengan terisak dia menjawab kelas 3 (SD). Setelah itu kutanya di mana rumahnya, dan dia menjawab satu daerah yang menurut saya masih masuk dalam wilayah Solo Raya.Sambil menghela napas sejenak lalu saya jelaskan kepadanya bahwa saya tak bisa mengantarnya pulang. Bukan disebabkan saya enggan, tapi karena ini bukan wewenang saya. Dia adalah santri satu ponpes, maka seharusnya dia mengutarakannya kepada ustadznya, bukan kepada saya yang kebetulan berkantor di dekat pondok sekaligus panti asuhan tempat dia menimba ilmu. Setelah itu saya jelaskan pula bahwa dia berada di ponpes ini juga atas amanah ibunya.

Belum selesai saya sampaikan “ceramah” kepadanya, tiba2 tangisnya makin menjadi. Sekonyong2 dia lantas meminta saya tuk mengantarnya di tempat pemberhentian bus. Sontak saya tolak permintaan itu sembari bertanya, “Apakah kamu punya uang?” Dia jawab, punya. Lantas saya tanya, “Apakah kamu tahu rute bus?” Dia pun menjawab tahu. “Benar tahu? Kalau nyasar gimana? Kalau ada penculik gimana? Justru kamu bikin gelisah orang banyak. Ustadzmu, ibumu, dan teman2mu.” Dan sesuai perkiraan, dia pun menangis semakin menjadi.
Saya pun tak bisa berlama-lama menghadapi masalah ini. Lantas saya tawarkan opsi terakhir kepadanya, “Sudah, kamu saya antar ke kantor ustadz. Nanti utarakan maksudmu itu ke ustadz. Saya temenin deh.”
Dia pun terdiam. Lantas segera saya ambil kunci kantor dan menguncinya, lalu saya gandeng anak itu ke kantor ustadz. Belum sampai kami di pelataran kantor, tiba2 anak itu berbalik sambil berkata tidak mau. Dia kembali menangis dan berlari menuju jalan. Untunglah salah seorang ustadz mendengar dan lantas membujuknya kembali ke ponpes. Entah perbincangan apa yang terjadi antara mereka berdua. Meski agak lama, akhirnya anak itu mau kembali ke pondoknya. Alhamdulillah.

_______
Rekan, bertetangga dengan ponpes yatim memberi saya banyak manfaat positif. Setidaknya saya bisa melihat betapa anak2 berusia belia itu dapat diarahkan menuju kegiatan positif. Dan yang paling saya sukai ketika melihat mereka mendaras dan menghafal firman Allah.
Pernah suatu ketika saat Ramadhan kemarin saya memergoki beberapa santrinya yang sedang menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an di salah satu sudut masjid ketika hari masih pagi dan lengang. Suara kanak-kanaknya dalam melantunkan hafalan ayat-ayat suci Tuhan membuat saya tertunduk malu. Karena pada saat seusia mereka, aku sangat jarang melakukan aktivitas itu.
Tak lupa, saya selalu memanfaatkan kesempatan langka bertetangga dengan banyak anak yatim ini dengan sering mengelus kepala mereka.

*Cerita ini juga saya tuliskan di catatan fb saya.

Comments
2 Responses to “Tangis”
  1. Eva mengatakan:

    Have a good day yah …

  2. Eva mengatakan:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: