KURSI PANAS

menanti ujian

Malam tanggal 17 Januari 2o11. Berlembar-lembar hasil laporan penelitian tugas akhir yang telah saya susun dengan rapi tak sedikit pun saya jamah. Malam itu saya lebih memilih memejamkan mata, mengisi ulang tenaga untuk menghadapi ujian akhir yang akan dilaksanakan besok siang.

Pagi tanggal 18 Januari 2o11. Saya persiapkan segalanya. Dengan dibantu istri, semua keperluan ujian yang telah saya persiapkan kembali ditata ulang untuk kemudian dimasukkan ke dalam tas. Tak lupa jas hitam dan dasi biru milikku.

Untuk kedua kalinya akhirnya saya memakai jas dan dasi itu. Dulu, keduanya telah saya pakai perdana ketika mempersunting ibu dari anak lanang saya, tepatnya pada tanggal 7 Agustus 2009 selepas Isya.

Tak beberapa lama, sampailah kami di kampus. Entahlah pukul berapa tepatnya, tapi yang jelas kehadiran saya membuat terkejut salah satu dosen penguji saya. “Anda ujiannya masih nanti siang kan? Kok sudah datang sepagi ini,” kata beliau.

Waktu yang lumayan panjang itu pun saya manfaatkan untuk membuka kembali lembaran hasil penelitian saya. Mengingat kembali alur penelitian yang telah saya lakukan dahulu. Setelah itu, saya tersadar ternyata hampir setahun waktu berjalan. “Semoga jangka waktu yang lumayan lama ini tak mengikis ingatanku perihal penelitian ini,” batin saya.

Di sela-sela itu, tiba-tiba telepon seluler yang berada di saku celana bergetar menandakan ada panggilan masuk. Dosen pembing pertama menelepon saya. Beliau menyampaikan sebuah pemberitahuan agar ujian dimulai dahulu saja, karena siang nanti beliau akan menghadiri rapat. Sebelum menutup teleponnya, beliau berpesan akan menguji saya pada jam terpisah secara empat mata.

Tak lama kemudian, azan Zuhur sayup terdengar. Saya pun hendak berangkat menghadiri shalat. Namun, tiba-tiba pesan singkat masuk di telepon seluler saya. Kali ini pesan datang dari dosen penguji kedua. Beliau juga menyampaikan pesan agar memulai ujian dahulu. Beliau akan hadir agak terlambat karena ada agenda mendadak di kampus.

Melihat kondisi yang dimikian, saya memutuskan urung berangkat ke masjid. Saya lebih memilih bergegas ke mushala kampus karena letaknya masih satu bangunan, hanya berbeda lantai.

Selesai shalat, istri yang dari tadi duduk di depan ruang ujian berkata bahwa tadi saya dicari dosen penguji pertama. Beliau minta segera diadakan ujian. Segera saya pun memakai jas dan dasi itu. Sambil membaca basmalah, saya bergegas menghadap beliau.

Dengan persiapan yang singkat, saya menata perlengkapan ujian saya. Salah satunya adalah mengoneksikan laptop (pinjaman) ke LCD. Namun, belum selesai saya mempersiapkan, bapak dosen yang telah meraih gelar profesor itu berkata, “Tak usah pakai itu, langsung ujian saja.”

Pukul 12.30. Yang terjadi kemudian adalah ujian secara empat mata. Sebab, dua dosen telah berpesan akan menguji secara terpisah. Sedangkan satu dosen lagi belum hadir karena waktu ujian yang dilakukan berlangsung lebih awal, 30 menit lebih cepat dari waktu yang tertera di undangan.

Bapak dosen membuka ujian dengan menanyakan kesiapan dan kondisi fisik dan psikis saya. Setelah saya jawab pertanyaan tersebut dengan jawaban positif maka beliau pun berkata, “Baiklah, ujian bisa segera dimulai dan sesuai dengan pernyataan Anda tadi, itu tandanya Anda telah siap menerima apapun kemungkinan hasil dari ujian ini, positif atau negatif.”

“Waduh, pak dosen langsung tampil menyerang pada menit pertama,” batin saya. Saya pun menjawab pernyataan tersebut dengan satu kalimat, “Siap, prof.”

Satu persatu pertanyaan dan kritik pun beliau utarakan. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan kepada saya untuk menjawab semua pertanyaan itu dengan baik dan membesarkan hati saya untuk menerima segala kritik beliau. Hingga akhirnya ujian dosen penguji pertama berakhir.

Selanjutnya, karena telah hadir maka dosen penguji kedua pun langsung menguji saya. Setelah itu, dosen pembimbing kedua telah hadir untuk menguji saya. Dan akhirnya, dosen pembimbing pertama pun menutup estafet ujian akhir pada hari itu. Uniknya, keempat dosen tersebut semuanya menguji saya secara terpisah atau empat mata. Sehingga, waktu ujian yang diperkirakan berlangsung selama dua jam berubah menjadi dua setengah jam, atau dapat dikatakan ujian mulai pada pukul 12.30 sampai pukul 15.00.

Meski demikian, waktu yang panjang tersebut tak menjadi soal bagi saya dan para dosen penguji. Hingga akhirnya, diputuskan bahwa saya pun dinyatakan lulus dengan revisi selama sebulan.

Keterangan gambar:

Gambar ini diambil ketika saya sedang mengunggu ujian keempat. Silakan dinilai sendiri seperti apa wajah saya ketika itu, hehehehe…

Comments
7 Responses to “KURSI PANAS”
  1. eMak mengatakan:

    Alhamdulillah.. eMak ikut bangga dan bahagia untuk mas Andi sekeluarga.

  2. eMak mengatakan:

    ekspresi wajahnya itu lho, para prof sudah pasti gak tega😛

  3. nh18 mengatakan:

    Alhamdulillah Mas Andi …
    Saya ikut bahagia …

    Mengenai Foto …
    Just Wondering …
    Itu tas kresek sama tas berwarna ungu itu isinya apa ya Mas ?
    Ruyung kah ?

    Hehehe

    Atau perlengkapan si anak Lanang ?

    Salam saya Mas Andi …

  4. Hafid Junaidi mengatakan:

    eksprresinya tenang tapi mneghanyutkan ^_^ hi6

  5. adhi INC mengatakan:

    Mas kapten…
    mesti pas ijab biyen lemu….
    bareng ujian dadi kuru ….
    jase ketok gegeden…
    tapi salut saiki wes dadi M.Pd.
    Mase Pinter Dewe…
    hehehehehe…

  6. viany mengatakan:

    Alhamdulillah dan selamat Pak sudah meraih cita-citanya, semoga ilmunya bisa diterapkan secepatnya…

  7. nurrahman mengatakan:

    wah saya turut seneng kang, selamat jd magister,moga bs segera nyusul😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: