COPET

apakah ini Dan?

Saya punya seorang teman kuliah yang mendapat nama karapan (alias) Copet. Bagi beberapa orang mungkin akan menganggap bahwa ini adalah nama panggilan yang bisa memperburuk citra dirinya. Saya pun beranggapan demikian. Namun, sebenarnya sejarah penyematan nama alias itu memiliki cerita yang cukup menarik. Berikut ini adalah ceritanya.

 

________

Sebutlah namanya Dan. Dan adalah teman kuliah saya yang besar dan tinggal di daerah sekitar terminal. Seperti yang kita tahu, lingkungan sekitar terminal pastilah berbeda dengan lingkungan hunian elit yang berada di tengah kota. Masyarakat di sana pada umumnya telah terkondisikan dengan baik dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Mereka memiliki wawasan lebih perihal hitamnya fenomena jalanan, dan salah satunya adalah copet.

Bila ditanya, Dan sangat tahu seluk beluk perihal dunia copet. Mulai dari bahasa sandi yang sering mereka gunakan, modus operandinya, ciri-cirinya, dan daerah operasinya. Bahkan, dia lumayan tahu siapa saja copet yang mangkal di daerahnya.

Nah, ceritanya pada suatu hari Dan hendak berangkat ke kampus. Karena tak ada kendaraan pribadi yang bisa dia pakai berangkat ke kampus, dia pun memilih untuk naik bus kota.

Kebetulan ketika itu Dan duduk di dekat jendela di samping seorang pemuda yang tampaknya adalah anak kuliahan juga. Tak beberapa lama, bus berhenti dan naiklah seorang wanita setengah baya. Wanita yang berpenampilan seperti ibu-ibu itu membawa tas wadah perlengkapan bayi. Dia sendirian.

Karena kebetulan bus telah penuh, wanita tersebut pun berdiri. Dan posisi berdiri ibu itu berada di samping kursi pemuda yang duduk di samping Dan.

Biasanya, seorang penumpang yang berdiri di dalam bus tentu sangat ingin segera duduk. Namun, berbeda dengan ibu yang satu ini. Tiap ada kursi kosong, dia tak segera menempatinya sehingga ditempati oleh orang lain. Hal ini terus berulang hingga membuat Dan agak curiga. Tapi, segera dia menepis pikiran buruknya. “Tidak mungkin seorang ibu berbuat neko-neko,” batinnya.

Singkat cerita, bus pun sampai di depan Fakultas Hukum UNS. Pemuda yang duduk di samping Dan memberi kode kepada kondektur untuk berhenti. Selepas pemuda itu turun, bus tak segera melaju. Bus ngetem sejenak mencari penumpang.

Tak selang beberapa lama, tiba-tiba pemuda itu kembali menuju bus dengan setengah berlari. Sesampai di dalam bus, dia meminta kepada sopir untuk jangan melanjutkan perjalanan dulu. Dia berkata kalau HP-nya telah raib.

Setelah itu, kondektur pun bertanya, “Lungguhmu jejer sopo mas (kamu duduk di samping siapa mas)?”

Pemuda itu pun tak langsung menjawab. Dia memilih untuk memperhatikan satu per satu wajah penumpang. Kemudian suasana pun menjadi agak tegang. Di tengah ketegangan, tiba-tiba pemuda itu berkata, “Bu, saget ningali isi tase njenengan (Bu, bisakah saya lihat isi tas Anda)?”

Ternyata si pemuda mencurigai wanita tengah baya itu. Lantas pandangan seluruh penumpang pun tertuju padanya. Tiba-tiba dengan nada tinggi ibu itu menjawab, “Sak penake wae kowe mas, mbok kira aku copete po (Seenaknya saja kamu, kau menyangka aku copetnya ya)?” lanjutnya, “Mase kuwi lho, kan lungguh jejermu kawit mau (Mas yang itu lho, dia kan tadi duduk di sampingmu).”

Di luar perkiraan, ternyata si ibu itu menunjuk Dan. Dia terkejut. Wajah seluruh penumpang pun berbalik memperhatikannya. Mimpi apa semalam sehingga teman saya yang berambut gondrong sebahu itu tiba-tiba menjadi tertuduh. Namun, ketika dia hendak angkat bicara, pemuda yang kehilangan HP itu langsung berkata, “Nggak, dia bukan copetnya karena dari tadi tangannya terus berada di atas pahanya. Lagian, HP saya berada di saku kanan sedangkan dia duduk di sebelah kiri saya.”

Suasana pun semakin mencekam. Melihat perkembangan keadaan yang semakin panas, Dan pun angkat bicara, “Gini aja mas, tas kita berdua silakan kamu geledah aja.”

“Ya bu, saya ingin lihat isi tas Anda dulu,” tiba-tiba pemuda itu menyela.

“Kurang ajar kamu mas, saya nggak sudi. Emangnya saya copet?” ibu itu menjawab dengan nada yang tinggi tanda penolakannya.

“Sudah … sudah … ini mas, silakan geledah isi tas saya dulu. Kalau perlu periksa juga tubuh saya,” kata Dan menengahi.

Sekilas, Dan melihat wajah si ibu. Wajah yang tadinya terlihat tenang tiba-tiba berubah menjadi abang ireng tak karuan. Entah apa artinya. Namun ….

“Nggak mas, saya percaya bukan kamu copetnya. Toh juga saya sering lihat kamu naik bus jurusan ini ke kampus,” tutup si korban.

Mendapat pembelaan seperti itu justru membuat Dan semakin sebal. Padahal jika pemuda itu mau menggeledah tas dan tubuhnya maka urusan bisa segera selesai, apakah dia copet atau tidak. Namun, yang terjadi kini justru semakin ruwet.

Pada akhirnya melihat perkembangan yang makin tak jelas, pemuda itu pun angkat bicara, “Ya sudah, HP sudah saya ikhlaskan. Bagi pelaku, berhati-hatilah karena saya sudah tahu siapa Anda.” Lantas, pemuda itu turun dari bus dan pergi bergegas menuju kampus.

Tak beberapa lama, ketika bus telah sampai di gerbang belakang kampus, Dan pun turun. Pandangan seluruh penumpang tertuju kepadanya. Pandangan curiga.

Sesampainya di kampus, yang pertama dia lakukan adalah misuh-misuh (mengumpat) tak tahu tujuan. Melihat tingkah teman saya yang satu ini maka saya dan beberapa teman pun menanyainya. Lantas, dia pun menceritakan kisah yang dialaminya itu kepada kami. Semuanya.

Ekspresi spontan kami ketika itu pun tertawa terbahak-bahak. Kemudian seorang teman berseloroh, “Jangan-jangan memang kamu copetnya, Dan?” mendengar seloroh tersebut, wajah Dan pun memerah dan sekonyong-konyong mengumpat, “***.”

Sejak saat itulah kemudian Dan si lelaki berambut paling konsisten dengan kegondrongannya itu mendapat nama gelar baru, yaitu copet. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, karena pengetahuannya yang lebih perihal dunia copet-mencopet. Kedua, karena kejadian yang menimpanya itu.

________

Oya, kini Dan sudah tak gondrong lagi kok. Dia sering menjadi penasihat saya tiap saya hendak mudik ke kampung halaman dengan mengendarai bus. Pernah suatu ketika tiba-tiba Dan menarik bahu saya sebelum naik bus dan berbisik, “Ati-ati dompet, nang njero (bus) kono ono copet (Hati-hati dompet, di dalam bus [yang hendak saya naiki] ada copetnya).”

Comments
10 Responses to “COPET”
  1. indra kh mengatakan:

    Lucu juga ceritanya, mas. Kadang orang kasihan dengan nama2 alias yang ditujukan untuk seseorang, padahal yang bersangkutan kadang enjoy2 saja.

    iya mas, dia sih enjoy aja… tapi kalau orang tuanya tahu, jadi gak enak juga sih…

  2. nh18 mengatakan:

    Hahaha …
    Saya tersenyum Mas Andi …
    Bersyukurlah mas Dan tidak dihakimi massa
    memang sebetulnya lebih enak kalau dibuktikan dengan mengeluarkan seluruh isi Tas Masing-masing.

    Dan satu lagi pelajarannya …
    “Packaging itu kadang (bisa jadi) menipu”

    Salam saya Mas Andi

    hahaha… packaging… tapi tepat sekali pelajaran dari panjenengan om

  3. Abied mengatakan:

    Hahaha …
    Ya kalo bisa sih memberi julukan pada orang yang baik.
    Ntar kalo namanya digonta-ganti bisa disuruh potongkan kambing untuk akikah.
    Salam kenal …

    weleh julukan sampe diakikahi ya mas…

  4. Toko Bunga Madiun mengatakan:

    Kebiasan Buruk tidak memanggil nama yang asli selain tidak baik untuk perkembangan si anak sendiri dan parahnya Lingkungan akan memanggil dengan alias..saya kurang setuju..

  5. joanna mengatakan:

    ihh..saya jadi ikut ngerasakan ketegangannya lho..hmm..seharusnya di geledah saja ya kedua tas tersebut🙂 ga nyangka ibu2 bisa mencopet juga ? dah ahli banget yaa..

  6. nakjaDimande mengatakan:

    Bundo paling suka sama ‘Dan’ nya sheila on 7, xixi..

    ‘Dan’ yang ini.. hmm, gondrong dan jago ngegitar.. dgandrungi cewe2 biasanya
    tapi dimusuhin sama penumpang bis..😛

  7. bet365 mengatakan:

    how are you I was fortunate to come cross your website in google
    your subject is splendid
    I learn a lot in your blog really thank your very much
    btw the theme of you website is really outstanding
    where can find it

  8. miyosi mengatakan:

    wahh….aku jadi pengen wawancara mas, hehe

    lumayan kan dapat ilmu ttg copet, krn aku pernah kecopetan di KRL😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: