Mandek Mas, Ketak Ndiasmu!

Tadi pagi, saya mendapatkan perkataan yang kasar dan tidak enak dari seseorang. Perkataan tersebut adalah, “Mandek mas, ketak ndiasmu! (Berhenti mas, saya jitak kepalamu!)”

Kronologinya adalah sebagai berikut.
Pukul 06.00 WIB. Saya beserta keluarga (1 istri dan 1 balita) bepergian menuju Kartasura hendak membeli bubur kacang hijau di depan terminal lama Kartasura. Alasan kami kenapa hanya untuk membeli bubur saja harus sampai ke Kartasura, karena menurut kami buburnya sangat enak. Walaupun tempat jualannya hanya berada di emperan toko, kami sudah menjadi pelanggan bapak penjaja bubur itu cukup lama.

Singkat cerita, usai jajan bubur, kami pun pulang. Ketika itu, jalanan telah ramai dengan para pengguna jalan yang hendak mulai beraktivitas di institusinya masing-masing. Kemungkinan, ketika itu waktu telah menunjukkan pukul 06.30. Mayoritas mereka tampak bersicepat mengendarai kendaraannya masing-masing dengan tujuan agar tidak terlambat sampai tujuan.

Meski demikian, saya lebih memilih mengendarai kendaraan dengan santai. Alasannya, toh saya masuk kerja masih jam 08.00. Selain itu, di belakang saya ada istri yang sedang menggendong anak lanang yang ketika itu sedang tidur dipelukannya.

Biasanya, kami lebih memilih lewat jalan pedesaan dibanding jalan raya. Namun, kebetulan ketika itu saya lebih memilih untuk melalui jalan raya dengan pertimbangan karena jalan desa pasti biasanya ramai dengan anak-anak sekolah yang berangkat sekolah. Tak jarang, di antara mereka ada yang ugal-ugalan mengendarai kendaraannya.

Memilih jalan raya bukannya jaminan aman, karena lintasan tersebut juga penuh dengan kendaraan besar. Meski demikian, di jalan raya paling tidak ada banyak rambu-rambu lalu lintas dan tak jarang para petugas pengatur lalu lintas sehingga perjalanan pun bisa lebih teratur dan tertata.

Hingga sampailah kami di depan sebuah instansi besar. Di depan pintu masuk instansi tersebut terdapat beberapa petugas pengatur lalu lintas yang (sepertinya) bertugas mempermudah para pegawai instansi tersebut dari arah seberang untuk memasuki kantornya. Ketika itu, mereka memberi isyarat kepada pengguna jalan untuk berhenti. Namun, saya telat menyadari isyarat tersebut. Meski demikian, kecepatan laju motor saya tak terlalu cepat sehingga bisa dengan segera menghentikan laju motor saya.

Meski demikian, karena keterlambatan respons saya, motor pun berhenti dalam posisi separuh ban depan telah melalui batas yang telah ditentukan. Yang terjadi selanjutnya, salah satu petugas yang berdiri di dekat kami pun menoleh dan melontarkan kalimat tersebut dengan nada ketus.

Saya, entah karena memang merasa bersalah kemudian secara refleks menoleh ke petugas tersebut, menyunggingkan senyum padanya, dan menganggukkan kepala tanda memberi hormat ala adat Jawa. Bahasa nonverbal yang cukup ampuh, karena setelah itu mas pengatur lalu lintas segera memalingkan muka dan tak menggubris saya lagi.

_________

Saya prihatin dengan kejadian tersebut. Memang benar, ini berawal dari kesalahan saya. Tapi, apakah pelanggaran separuh ban dengan laju kecepatan motor pas-pasan menjadi sebuah alasan bahwa saya sangat layak mendapatkan umpatan seperti itu? Berapa centimeter kah diameter ban motor?

Mengapa mas petugas tidak menyuruh saya mengundurkan sedikit saja motor saya sehingga usai urusannya. Justru dia malah memilih untuk sebentar tak menghiraukan jalan yang dia atur, membiarkan saya di posisi tersebut, dan mengeluarkan kata yang tidak mengenakkan.

Saya khawatir, jika seperti ini bahasa yang digunakan para pengatur lalu lintas, lantas seperti apakah bahasa yang digunakan mereka yang suka ugal-ugalan mengendarai sepeda motornya di jalanan? Mungkin inilah potret bahasa jalanan, vulgar. Anda harus bersabar dan jangan ikuti cara berbahasa yang seperti itu. Tetaplah santun dalam bertutur, karena santunnya tutur pun bisa menjadi senjata ampuh. Percayalah.

 

_______

Sumber gambar dari sini.

Comments
6 Responses to “Mandek Mas, Ketak Ndiasmu!”
  1. nh18 mengatakan:

    Saya ikut geram kepada Doktorandus Petugas tersebut …
    Ringan bener berkata-kata ..
    kalau mas Andy sendirian sih … mungkin saya tetap agak marah tetapi tidak se geram ini
    Ini ada mbak Rie sama anak lanang …
    Laki-laki macam apa itu ?

    wah maap Mas Andi … saya kok jadi ngomel ndak keruan …
    saya bisa membayangkan tampang Doktorandus skuritih yang bersangkutan ituh …

    Salam saya

    tenang om, semua aman terkendali kok…😉

  2. nurrahman18 mengatakan:

    saya pernah dipenthung spion nya mas,

    jadi masih mending saya ya mas… cuma dibentak

  3. advertiyha mengatakan:

    Ckckckck… sebegitunya, terlalu ringan mengeluarkan umpatan bukti bahwa sesungguhnya orang itu lebih parah daripada yang diumpat.

    Bahasa yang keluar dari mulut kita mencerminkan bagaimana hati kita, dengan tutur yang santun dan raut muka yang manis, maka segala urusan pasti jadi ringan..🙂

    saya salute dengan tanggapan mas Andi pada bapak petugas itu, cukup mengangguk dan tersenyum, dan Allah menyukai orang-orang yang sabar, bukan begitu mas?? hehhe…

    setahu saya memang demikian mbak… saya cuma ikut seperti apa yang dilakukan Nabi ketika beliau diuji dengan cemoohan orang2 jahiliyah…

  4. miyosi mengatakan:

    walah,,,, aku pikir di jawa masih ramah😦

  5. adhi inc mengatakan:

    bandem ruyung wae mas…..
    hehehehe…
    ojo ding…
    banyak2 lah sabar mas…
    wong sabar rejekine tambah akeh…

  6. agan agan batok mengatakan:

    sindrom seragam… hehe… coba kamu beli buburnya pake seragam yang lebih mentereng dari beliau… pasti luruh dalam sekejap seragam kebanggannya… ( misal benar kejadian keren tenan yoh misal tuku bubur ae kok nganggo seragam dinas militer) …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: