Puncak itu adalah Desember

puncak

Ternyata rentang waktu satu tahun adalah rentang yang sangat pendek. Berbagai perencanaan yang tersusun dengan matang, ada yang dapat terlaksana walau dengan terlambat dan ada yang terancam tak terlaksana jika tidak segera ditindaklanjuti. Mengapa saya berkata demikian? Karena, setidaknya masih ada sisa waktu sekitar sebulan, yaitu bulan Desember yang sebentar lagi akan kita masuki.

Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit mengevaluasi satu fragmen dari kehidupan saya selama tahun 2010. Fragmen tersebut adalah perjalanan hidup saya dalam hal pendidikan formal.

Setidaknya ada tiga alasan atau latar belakang mengapa saya memilih untuk mengevaluasi perjalanan pendidikan formal saya. Tiga alasan tersebut antara lain, dapat dijabarkan sebagai berikut.

Pertama, aspek privasi. Ada hal yang bisa diketahui untuk umum dan ada yang tidak. Sisi keluarga dan keuangan adalah contoh yang termasuk dalam kanal pribadi yang tak bisa saya buka di sini. Adapun dengan ‘mengumumkan’ sisi pendidikan formal, ini tidak terlalu mengganggu privasi saya.

Kedua, aspek urgensi. Ya, sisi ini saya pilih untuk saya evaluasi karena memiliki tingkat urgensi yang tinggi bagi saya. Semoga setelah proses evaluasi ini bisa memunculkan energi positif untuk segera menindaklanjuti beberapa celah kekurangannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ketiga, aspek manfaat. Dengan mengevaluasi perjalanan pendidikan formal saya semoga dapat memberi pelajaran, setidaknya kepada saya pribadi dan rekan sekalian dalam banyak hal. Mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, dan sebagainya.

Sejak kurang lebih bulan Agustus 2008, alhamdulillah saya dikaruniai kelonggaran oleh Allah untuk melanjutkan studi jenjang strata dua pada jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNS. Tak terasa, kini lima semester telah saya jalani dan kini saya telah memasuki penghujung semester. Dengan kata lain, saya terancam memasuki semester keenam. Padahal, di mata jurusan kami, lima semester adalah waktu yang terlalu lama. Hal ini terbukti dengan mayoritas rekan kuliah saya telah mendapat predikat magisternya pada semester keempat. Selain itu, sebenarnya materi perkuliahan telah selesai didapatkan pada dua semester pertama. Adapun semester ketiga, hanya ada dua mata kuliah, yaitu Makalah Kualifikasi (semacam proposal sekaligus seminar) dan Tesis.

Mengapa saya bisa begitu lama dalam menyelesaikan studi? Berikut ini adalah rapor merah saya yang saya nilai secara subjektif. Agar tak terlalu serius (alias, biar terkesan sersan), tiap poin saya wakili dengan lirik lagu yang sesuai dengan pembahasan.

1. “Ku akui aku telah larut,” DEWA

Faktor pertama, saya terlalu larut dengan posisi dan status saya. Sejak memasuki semester ketiga, saya merasa telah bebas dari belenggu. Dan ini berkepanjangan hingga saya tersadar telah memasuki semester keempat pada bulan Januari 2010. Segera, saya pun membuat rencana dadakan untuk melakukan penelitian tesis pada bulan Februari 2010. Konsultasi proposal tesis pun saya lakukan, dan satu kalimat dosen saya ketika itu yang masih saya ingat, “Wah setelah jadi manten anyar (pengantin baru), jadi keasyikan bulan madu ya, sampai satu semester jarang tampak ke kampus.”

Menohok, tapi memang demikian adanya. Setelah menikah, saya lebih banyak ke kampus hanya untuk menyelesaikan makalah kualifikasi saja.

2. “Santai saja cinta kan datang,” JAVA JIVE

Saya sedang tak jatuh cinta, tapi memang lagu ini benar-benar mempengaruhi dan pas dengan kondisi saya. Faktor kedua adalah saya terlalu santai sehingga banyak perencanaan yang kemudian tertunda. Rencana penelitian yang akan dilangsungkan pada bulan Februari pun molor menjadi Maret 2010. Ini adalah sebuah dampak sistemik yang sangat berkait dengan faktor pertama.

Seperti yang kita tahu, proses ACC proposal tugas akhir tidaklah semudah membalik telapak tangan. Kenyataannya, saya harus melalui beberapa pembimbingan dan revisi hingga akhirnya proposal saya layak ditindaklanjuti menuju penelitian. Tidak sampai di situ saja, ternyata setelah itu pengadministrasiannya pun butuh waktu.

Namun, toh selepas itu semua akhirnya saya bisa melaksanakan penelitian. Selama sebulan penuh saya mengambil data, mulai dari awal bulan sampai akhir Maret. Bagi saya, ini keterlambatan yang masih bisa ditoleransi. Cuma molor sebulan.

Permasalahan selanjutnya justru setelah penelitian berakhir. Seharusnya saya segera mengolah data tersebut, tapi ternyata sindrom larut dan santai kembali menyerang saya. Tercatat, selama bulan April-Mei 2010 sama sekali tidak saya manfaatkan untuk menggarap tesis.

Bak pesakitan, tentunya jika beralasan, bisa saya ungkapkan seribu satu kilah untuk memperingan dakwaan. Namun, saya tak hendak berapologi. Inilah kenyataan, dua bulan lamanya saya tak menjamah data penelitian saya. Hingga tamparan keras sekaligus berkah dari Allah pun datang. Saya baru tersadar ketika anak lanang saya lahir pada bulan Juni 2010.

Karena kelahirannya, kemudian saya kembali berazam kepada diri saya sendiri untuk segera menamatkan studi. Ketika itu, saya langsung berkata kepada diri sendiri, “Tahun ini adalah tahun terakhir studi S2-ku!”

Konsekuensinya, maksimal bulan Desember 2010 saya harus bisa ujian tesis.

3. “Jika hanya setengah hati,” ADA BAND

Memang benar, sejak bulan Juni saya tak membiarkan satu bulan pun bolong. Olah data dan penyusunan tesis selalu saya lakukan. Namun, pengerjaannya tidak terlalu saya prioritaskan. Saya menggarapnya hanya ketika ada waktu luang saja. Padahal, dibutuhkan keseriusan untuk menyelesaikannya. Hingga tak terasa, semester kelima pun datang, tepatnya pada bulan September 2010.

Pada semester kelima inilah tugas akhir saya telah tampak berwujud. Halaman pendahuluan, bab pertama sampai kelima, daftar pustaka, dan lampiran. Semuanya telah selesai. Saya pun memberanikan diri untuk memulai konsultasi secara keseluruhan.

Man jadda wa jadda, usaha saya pun sedikit berbuah manis. Pada akhir bulan September 2010 akhirnya dosen pembimbing pertama berkenan untuk menandatangani tugas akhir saya. Maka, tinggallah seorang dosen lagi. Bersamaan dengan itu, muncul kabar bahwa dosen pembimbing kedua saya hendak berangkat ke Tanah Suci pada akhir Oktober 2010. Beliau hendak bertamu ke Rumah Allah. Maka, saya pun harus berpacu dengan waktu.

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Selama bulan Oktober, 3 kali konsultasi saya masih belum memuaskan dosen pembimbing kedua. Menurut beliau, ada beberapa hal yang harus diluruskan dari penelitian saya. Namun, tak terlalu fundamental. Saya masih ingat, tanggal 22 Oktober, bertepatan dengan hari Jumat sore adalah konsultasi terakhir saya. Beliau masih mengembalikan tugas akhir saya dengan beberapa coretan dan catatan. Beliau berpesan, agar saya jangan tergesa-gesa. Masih bisa mengejar bulan Desember.

Selepas itu, beliau pun berangkat berhaji memenuhi panggilan Allah. Ya Allah berilah keberkahan dan jadikanlah beliau sebagai haji mabrur.

4. “Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti,” CHRISYE

November adalah bulan penantian bagi saya. Namun, bukan berarti berpangku tangan. Selama sebulan dalam penantian ini, saya mulai mengumpulkan semua persyaratan ujian dan melakukan perbaikan tesis saya. Jadi, ketika sepulang dosen saya dari Tanah Suci, semuanya telah siap. Dan apabila kemudahan dari Allah datang dengan berkenannya beliau menandatangani penelitian saya, semua syarat ujian telah saya siapkan. Semuanya tinggal pancal (siap tempur).

Oleh karena itu, Desember adalah bulan penentuan. Entah nantinya evaluasi ini menjadi happy ending atau sad ending. Namun, saya sangat berharap semoga penutup tahun ini adalah kebahagiaan sehingga lirik lagu bahagia akan tertulis pada poin kelima.

Dan simpulannya adalah jangan sampai jatuh dalam lubang yang sama, inilah yang berkali-kali saya tekankan. Setidaknya ada tiga sifat buruk yang menjadi musuh besar saya, yaitu larut, santai, dan kurang serius. Ketiganya harus saya perangi menilik waktu yang kian berlari. Harus saya akui, tahun 2010 ini saya warnai dengan warna muram keterlambatan, tapi masih ada sedikit asa untuk menutupnya dengan ketepatan.

Foto hanya ilustrasi. Hasil jepretan Nandi.

__________

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

Comments
14 Responses to “Puncak itu adalah Desember”
  1. Shohibul K.U.M.A.T mengatakan:

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.M.A.T – Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp.
    Akan dicatat sebagai peserta

    Salam hangat dari Markas Blogcamp di Surabaya

    __________
    masdeewee njawab:
    terima kasih, pakdhe… salam hangat pula dari Solo

  2. nakjaDimande mengatakan:

    ikut mengaminkan semua doa dan harapan mas Andi di akhir tahun ini.

    sukses buat KUMAT nya ya mas..🙂

    ___________
    masdeewee njawab:
    terima kasih bundo…

  3. mylitleusagi mengatakan:

    salam kenal mas,,,
    ternyata kita senasib yak,,,
    aku juga,,,
    udah telat 6 bulan,,
    harusnya kemarin lulus,,
    faktornya sebenrnya sepele yakkk
    M.A.L.A.S.
    itu cuma lima huruf tapi amat berpengaruh,,,
    SEMANGAT!!!!!

    ________
    masdeewee njawab:
    selain malas, sebenarnya ada 1 lagi yang belum saya tambahkan… takut… takut diorek2 dosen, takut tidak di ACC, takut diomeli karena jarang ngampus, dan takut2 lainnya…
    salam kenal juga…

  4. Semoga tahun ini bisa ditutup dengan ketepatan….
    Makasih banyak atas partisipasinya.
    Artikelnya sudah dicatat sebagai peserta lomba.

    _________
    masdeewee njawab:
    amiin… terima kasih bang, telah sudi berkunjung…

  5. bchree mengatakan:

    jangan patah semangat bro … kita tidak pernah gagal selama terus berusaha….
    apalagi da tahu penyebabnya. semoga tahun depan lebih baik lagi …..
    semangat …. semoga sukses lombanya. salam kenal
    berbagi tak pernah rugi

    _________
    masdeewee njawab:
    terima kasih atas motivasinya pak… komentar panjenengan benar-benar powerfull bagi saya…

  6. Abi Sabila mengatakan:

    Alhamdulillah, bahagia rasanya setiap mendengar, membaca kisah sahabat yang bisa mengenyam pendidikan hingga tinggi, sementara bagi saya pendidikan tinggi masihlah mimpi. namun, insya Allah saya berusaha optimis bahwa mimpi itu bisa menjadi kenyataan apabila ada kemauan, perjuangan yang disertai doa dan tawakal. Bila tak tergapai pendidikan formal, paling tidak saya ingin lulus di setiap jenjang sekolah kehidupan dengan hasil yang memuaskan.
    Sebagai sesama kontestan, semoga kita bisa sama-sama menang, amin.

    __________
    masdeewee njawab:
    saya hanyalah salah satu dari beberapa orang yang dikarunia kelonggaran oleh Allah untuk mengenyam pendidikan formal secara lebih daripada masyarakat pada umumnya. selebihnya, kita sama.

    sedangkan untuk semua harapan dan doa panjenengan, saya turut mengamininya mas…

  7. nh18 mengatakan:

    Semoga Sukses ya Mas Andi …
    Sukses Ujiannya
    Semoga diberi kelancaran …

    Sukses pula di perhelatan Pak De

    Salam saya Mas Andi

    ________
    masdeewee njawab:
    amiiin… semoga panjenengan juga demikian…

  8. wibisono mengatakan:

    sukses ya mas……

    _________
    masdeewee njawab:
    terima kasih mas…

  9. Asepsaiba mengatakan:

    Menyadari kesalahan yang telah dilakukan adalah salah satu jiwa ksatria, bukan? So, langkah ke depan harus bisa menghapus kesalahan itu!🙂

    Sukses buat KUMAT-nya ya…

    _________
    masdeewee njawab:
    tapi saya bukan seorang ksatria, mas…😉
    terima kasih atas motivasinya…

  10. sakti mengatakan:

    wong solo tho sampeyan? UNS? salam kenal. semoga menang kumat-nya.

    _______
    masdeewee njawab:
    ya mas, saya kuliah di UNS… tapi bukan wong solo… amin dan terima kasih mas…

  11. anang mengatakan:

    tulisan luar biasa, trimakasih mau berbagi..

  12. nurrahman18 mengatakan:

    amin mas,saya doakan deh,biar nanti gantian saya didoakan,hehehe🙂

  13. hafid junaidi mengatakan:

    Yah, semoga cepat kelar tesisnya pak ^_^

  14. Nice post, dan semoga menang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: