Rakus

pesen yg banyak

Semalam harus saya akui, saya sangat rakus. Namun, semoga kerakusan saya ini dapat memberikan manfaat, setidaknya bagi saya sendiri dan semoga orang-orang di sekitar saya. Maaf bila terkesan naif, tapi apa yang sudah saya lakukan memang benar-benar rakus. Berikut ini adalah kronologi kerakusan saya.

Selepas Magrib, saya beserta keluarga kecil saya segera bergegas menuju kota Surakarta. Kota yang hampir selama lima tahun pernah saya tinggali ini memang selalu mendapatkan ruang tersendiri di hati kami. Hal ini terbukti setidaknya sekali dalam seminggu selalu kami menyempatkan diri berkunjung ke kota tersebut.

Tujuan kami malam itu adalah Diamond Convention Center yang bertempat di Jl.Slamet Riyadi Solo. Tempat itulah tujuan melampiaskan nafsu kerakusan kami yang telah tertahan berbulan-bulan lamanya. Lebih lanjut, di tempat itulah sebuah perhelatan besar dengan tajuk Solo Book Fair 2010 diadakan, dan kebetulan malam itu adalah malam terakhir acara tersebut.

Meski tampak sepi dan ada beberapa stand yang kosong tak ditempati, itu tak menyurutkan nafsu kami. Langsung saja kami menuju salah satu stand yang cukup ramai pengunjung. Di situ terdapat banyak buku yang dijual dengan harga yang sangat miring. Dari tempat itulah kemudian kami menemukan empat hidangan yang lezat.

1. Inside The Jihad

Bisa dibilang ini adalah hidangan lama. Memoar karya Omar Nasiri (nama samaran) ini menceritakan pengalaman nyatanya berada di lingkaran dalam organisasi Al Qaeda, sedangkan dia sendiri adalah seorang mata-mata Inggris dan Prancis yang ditugaskan untuk menyusupi organisasi tersebut.

Buku yang menjadi buah bibir pada sekitar tahun 2006 ini sebenarnya pernah sedikit saya baca tapi belum pernah sampai khatam. Oleh karena itu, mata saya langsung berbinar ketika melihat buku tebal itu. Yang saya tahu, dahulu buku tersebut dibanderol seharga 70.000 rupiah.

Perlu diketahui, saya sangat suka cerita seputar dunia intelejen dan konspirasi. Asyik untuk dinikmati karena penuh dengan ketegangan. Apalagi bila kisah tersebut berdasarkan kisah nyata. Oleh karena itulah, sampai saat ini saya masih sangat menyukai film Donnie Brasco yang dibintangi oleh aktor handal, Johnny Deep. Lho kok malah bicara tentang film ya?🙂

2. Kritik Sastra Indonesia Modern

Berbeda dengan buku pertama, buku karya Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo ini lebih bersifat teoritis. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengupas tentang perjalanan kritik sastra modern di Indonesia. Tentunya bagi saya, ini adalah buku pegangan yang penting.

Sebenarnya, buku tebal ini pun sudah cukup lama berada di pasaran. Dulu ketika masih kuliah S1, saya selalu menyempatkan untuk membacanya tiap kali berkunjung ke perpustakaan pusat UNS. Dan lagi-lagi, saya belum pernah mengkhatamkan pembacaannya. Oleh karena itu, ketika mata saya menangkap buku tersebut, secara spontan tangan saya langsung mengambilnya tanpa berpikir panjang.

3. Menata Rumah Mungil

Nah, kalau buku ini adalah pilihan istri saya. Meskipun sekarang kami belum memiliki rumah sendiri, bukan berarti kami tak butuh buku seperti ini. Buku yang dikemas secara lux dan full colour tersebut berisi tentang tips bagaimana menata rumah mungil mulai dari ukuran < 45, 45-60, dan 60-75 (dalam meter persegi).

Biasanya, kami sering membaca sekilas buku sejenis ketika mengunjungi toko buku besar. Namun, tak pernah berlanjut untuk membelinya. Oleh karena itu, tampaknya momen spesial ini menjadi titik balik bagi kami untuk mulai mengonsumsinya secara penuh. Hehehe…

4. 271 Tempat Makan di Jalur Pantura dan Selatan Jawa

Siapa yang tidak suka dengan dunia kuliner? Bisa dipastikan semua orang menyukainya. Dan karena itulah, kami membeli buku ini. Hahaha…

Tahukah Anda berapa total dana yang saya keluarkan untuk membayar keempat hidangan di atas? Hanya 80.000 rupiah!!!

Tidak sampai di situ saja. Sebenarnya, saya masih ingin melahap lagi beberapa judul buku, di antaranya adalah buku Senopati Pamungkas karya Arswendo yang ketebalannya minta ampun. Buku tersebut diobral dengan diskon mencapai 50% oleh penerbitnya. Selain itu juga novel serial Lord of The Ring yang terdiri dari tiga seri dan satu bonus novel yang dikemas dalam satu kemasan menarik. Namun, keterbatasan dana mengurungkan nafsu saya. Sehingga kami pun pulang dengan hanya membawa empat buku saja.

Acara berakus-rakus kami semalam akhirnya kami tutup dengan makan malam ala masakan Padang yang kami beli di sebuah rumah makan dekat kampus UMS.

Betapa rakusnya kami … (sendawa).😛

 

Ilustrasi tak ada hubungan dengan isi tulisan. Tanpa sengaja diburamkan demi terjaganya privasi. Benar-benar terjadi di sebuah restoran siap saji di Surakarta. Mumpung gratisan, pesen yang banyak bro!!!

Comments
6 Responses to “Rakus”
  1. nakjaDimande mengatakan:

    jadi enakan mana Mas? nasi padang atau pizza..?😀

    ________
    masdeewee njawab:
    alhamdulillah keduanya sama enaknya, bundo…😉

  2. nurrahman mengatakan:

    ngiler mode On kang, budget bukunya lagi buat nyelesain tetralogi pulau buru, hiks

    ______
    masdeewee njawab:
    wah saya malah belum punya satu pun dari tetralogi itu mas… selama ini cuma minjem… salut aku mas sama kamu…

  3. nh18 mengatakan:

    Hahaha …
    Mas Andi ini bisa saja …

    Yang jelas pilihannya beragam nih …
    Apetizer, main course dan desertnya beda-beda …
    membuat glegeennya semakin … marem ,.. mak nyosss …

    salam saya Mas Andi

  4. ernit mengatakan:

    hwalaaahhh, kerakusan akan buku bacaan ternyata,… :p

  5. Let's Share Together mengatakan:

    alo bos, salam kenal🙂
    btw tukeran link yuk😀
    ditunggu kabar baiknya ya🙂

  6. miyosi mengatakan:

    ehmmm cowok emng makannya banyak😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: