Mendadak Terkenal

rame2

Dulu, saya lumayan sering menonton berbagai pementasan. Entah itu pentas pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pentas drama, bahkan hingga diskusi sastra yang cenderung berat untuk dicerna. Maaf, untuk poin terakhir bukan termasuk pementasan.

Ditambah lagi apabila yang berpentas adalah teman saya. Maka, hampir pasti saya tak pernah alpa, meskipun hujan (kebanyakan teman saya tergabung dalam sanggar teater Peron FKIP UNS). Apalagi dulu, saya ngekos di dekat Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) yang menjadi pusat kegiatan seni dan sastra di Surakarta dan Jawa Tengah. Semua itulah yang kemudian menjadikan saya terpaksa, mulai tertarik, dan sedikit mendalami dunia sastra Indonesia hingga sekarang.

Meski demikian, saya tak pernah naik ke atas pentas karena saya selalu menjadi penonton dan penikmat dalam setiap acara yang berlangsung di tempat itu. Namun, ada satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya. Kejadian yang membuat saya sejenak berkeringat dingin karena menjadi perhatian para sastrawan se-Jawa Tengah. Berikut ini adalah kisahnya.

__________

Suatu siang beberapa tahun yang lalu di kampus PBS FKIP UNS.

“Andi, besok ada acara tidak?” tanya dosen saya tiba-tiba.

“Emm… besok jam berapa pak?”

“Ya kira-kira setelah Asar.”

“Oh, insya Allah tidak ada, Pak. Kalau boleh tahu, ada acara apa?”

“Besok saya ada acara di TBS. Datang ya. Ini, bawa surat undangan milik saya, nanti tunjukkan kepada panitianya.”

“Insya Allah, Pak.”

Pak dosen kemudian menyodorkan sebuah kertas yang telah terbungkus amplop kepada saya. Amplop yang pada akhirnya tidak saya tunjukkan kepada panitia karena tidak ditanyakan oleh mereka.

TBS (Taman Budaya Surakarta) atau TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah) entah mana yang benar, saya tak begitu peduli. Namun, setahu saya tempat tersebut adalah pusat kesenian dan kesastraan yang sangat terkenal di Surakarta.

Berbagai pementasan, mulai dari pentas teater, pembacaan puisi dan prosa, musik, tari, hingga diskusi sastra, kebudayaan, dan terkadang menyenggol politik sering diadakan di tempat tersebut. Tak hanya orang Jawa Tengah saja yang pernah berpentas di sana. Bahkan seorang penyair Jerman pun pernah membacakan puisinya di tempat tersebut, dan saya kebetulan menontonnya.

Singkat cerita, waktu yang dinantikan pun tiba. Seperti biasa, dengan berkendara sepeda motor saya menuju ke sana. Tak ada perasaan apapun yang mengganjal di hati. Yang saya ketahui bahwa acara yang akan saya hadiri itu adalah acara pembacaan dan diskusi puisi dalam sebuah antologi karya para sastrawan se-Jawa Tengah.

Dalam pikiran saya telah terbayang bahwa acara tersebut pasti sekaligus dijadikan ajang temu, silaturahmi, dan bertukar pikiran antarkomunitas sastra dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Maka dalam benak saya, dalam acara tersebut saya akan menempatkan diri sebagai pendengar yang baik saja.

Setibanya di TBJT, segera saya menuju Teater Arena, tempat acara tersebut dilangsungkan. Karena sengaja berangkat agak terlambat, di sana telah berkumpul banyak orang. Entah mana peserta dan mana penonton, semua sama-sama berdiri di latar Teater Arena. Tak beberapa lama, pak dosen yang mengajak saya pun bisa saya temukan. Segera saya menghampiri dan menyalaminya.

“Andi, dengan siapa ke sininya?” tanya dosen saya.

“Sendirian Pak.”

“Oh ya sudah, yuk kita masuk saja. Sebentar lagi acara mau dimulai.”

Dan memang benar, tak beberapa lama kemudian acara dimulai. Ketika itu, saya diajak dosen saya untuk duduk di kursi penonton deret paling depan. Kami berdua duduk berjejeran.

“Duduk di sini saja ya. Di sini juga ada Espe (Mukti Sutarman Espe) lho, sudah ketemu?”

“Apa pak?” respons saya terkejut.

“Mukti Sutarman Espe guru kamu ketika SMP. Puisinya kan saya masukkan dalam antologi ini. Tadi saya sudah ketemu sebentar, dan saya tanyakan tentang kamu. Tapi, tampaknya dia sudah lupa.”

Ah, ternyata saya baru tahu bahwa guru SMP saya juga hadir di sini. Dan saya juga baru tahu bahwa pak dosen yang duduk di samping saya adalah salah satu dewan penyeleksi antologi puisi ini. Maka, sudah pasti beliau akan naik pentas dalam acara ini. Dan memang benar, pada kesempatan pertama, para dewan penyeleksi pun dipersilakan naik podium. Otomatis, saya duduk sendirian di depan. Maaf, maksud saya tidak sendirian, tapi tetap saja serasa sendirian karena saya tak mengenal orang yang duduk di kanan kiri saya. Bahkan, mungkin hampir semua orang yang berada di dalam ruangan itu.

Belum selesai saya menenangkan diri, tiba-tiba pak dosen berkata di atas podium kurang lebih demikian, “Saya datang ke sini tidak sendirian. Saya ke sini bersama seorang mahasiswa saya yang kebetulan adalah siswa Mukti Sutarman Espe. Namanya Andi Wicaksono. Silakan berdiri.”

Badhala… Saya benar-benar terkejut mendengar kalimat perkenalan oleh dosen saya. Mungkin bagi para hadirin dan peserta, ini adalah sebuah perkenalan yang tidak penting. Toh, siapa sih Andi, cuma mahasiswa biasa. Maka, dengan malu-malu saya berdiri dan menyunggingkan senyum kepada hadirin. Dengan muka yang entahlah, saya menyalami mereka untuk kemudian segera duduk kembali. Setelah itu, saya hanya bisa menunduk dan secara tidak sadar keringat dingin telah membasahi tubuh saya.

Kejadian ini memang terjadi sangat singkat, tapi kesannya sangat dalam. Setidaknya inilah yang saya rasa. Entahlah bagi Anda yang membaca sepenggal kisah ini.

__________

Keterangan gambar:

Daripada pusing mikir mau pasang gambar apa yang pas, mending asal tempel aja (sambil mencari yang pas)😛

Itu adalah foto kenangan saya dengan rekan-rekan kuliah saya yang sudah lulus semua (kecuali saya)….

Comments
7 Responses to “Mendadak Terkenal”
  1. Asop mengatakan:

    Walah, segera menyusul lulus Mas!🙂

    __________
    masdeewee telat njawab:
    mohon doanya mas…

  2. krupukcair mengatakan:

    jadi pengin ketemu sama yang punya blog nih…❗

    _________
    masdeewee njawab:
    jangan menyesal lho mas, saya tu orangnya pemalu…😛

  3. nh18 mengatakan:

    Itu cara sang dosen menghormati Mahasiswanya Mas …
    Dan saya yakin dia pasti ada maksud tertentu melakukan hal tersebut …
    dan ini saya pikir bukan hal yang biasa …
    ini luar biasa …

    salam saya Mas Andi …

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehe… tapi tetap saja membuat saya grogi

  4. kyaine mengatakan:

    Konggres Bahasa Jawa mendatang di Surabaya (?) ikutan nggak mas?😉
    di sana akan ketemu sastrawan2 jawa spt Pak Suparto Brata, mBah Brintik, dll

    _________
    masdeewee njawab:
    waduh, maqom saya belum sampe sana pak…😛

  5. thomas jewelry mengatakan:

    This is the wonderful thing i spend long time to find it.

  6. wibisono mengatakan:

    mendadak terkenal.. bukan mendadak dangdut ya..

    kalo waktu itu disuruh ma dosennya nyanyi gimana mas??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: