Menanti Kabar dari Seorang Rekan

kabut pagi di kampung istri

Pagi berkabut. Tebal. Dingin menusuk. Anak-anak berseragam putih merah, putih biru, dan putih abu-abu mulai berangkat hendak menuntut ilmu. Ketika itu aku berjalan menikmati pagi bersama istri yang tengah memasuki bulan kedelapan kehamilannya.

Sembari berjalan bertelanjang kaki, kami bercakap-cakap sambil menikmati pemandangan sekitar. Pemandangan desa kelahiran istriku. Tiba-tiba, aku teringat dengan pertemuanku dengan seorang kawan, seorang kakak almamater yang kini telah berprofesi sebagai guru di sekolah pedalaman. Maka, aku ceritakan pertemuan singkatku itu kepadanya.

Kami membincangkan tentang kondisi anak didiknya. Tentang orientasinya, tentang motivasinya. Dia mengeluh kepada saya, “Bagaimana mau belajar, ketika di dalam pikirannya hanya ada bekerja dan menikah. Padahal usia mereka masih SMP.”

Memang cukup beralasan perkataan rekanku itu. Kebetulan, anak-anak siswa didiknya tinggal tak jauh dengan perkebunan salak. Tiap sepulang sekolah, kebanyakan siswanya langsung menyusul ke kebun (lebih tepat saya bilang alas alias hutan) membantu bapaknya mengais rezeki. Sedangkan siswinya telah dididik secara alami untuk mempersiapkan diri untuk segera berumah tangga.

“Lantas kenapa tidak kau coba buka wawasan mereka dengan menggalakkan membaca novel atau buku-buku cerita?” tanyaku.

“Bahkan ketika hendak kujelaskan tentang novel, mereka bertanya dengan polosnya, ‘Novel itu apa Pak?'” jawabnya sedikit meringis.

Kabut semakin tipis. Istriku pun mengajakku pulang. Beberapa sepeda motor telah berseliweran menandakan hari beranjak semakin pagi. Anak-anak berseragam putih merah, putih biru, dan putih abu-abu semakin bergegas menjemput ilmu.

***

Kini, berbulan-bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Janin yang dulu dikandung istriku pun telah terlahir dan memasuki bulan ketiga usianya. Aku kembali teringat dengan rekanku dan siswa didiknya. Bagaimana kabarnya?

_________

Foto hasil jepretan pribadi. Setelah saya tunjukkan kepada istri, ternyata pemandangan yang saya foto adalah pemakaman. Perhatikan dua bangunan yang menyerupai rumah di dalam foto, itu adalah cungkup makam.

Comments
3 Responses to “Menanti Kabar dari Seorang Rekan”
  1. kyaine mengatakan:

    bawalah pak novel ali ke sana mas… utk menjelaskan apa dan siapa itu “novel”🙂

    _________
    masdeewee njawab:
    waduh…

    • nurrahman18 mengatakan:

      ingin sekali saya punya angan2 utk bisa membuat perpustakaan gratis atau buku2 gratisbagi sodara2 yg kurang beruntung..ya,sekadar berbagi, apa saja itu, sekecil apapun itu; semoga suatu saat kelak.amin!

      ________
      masdeewee njawab:
      amin mas… mungkin sementara bisa ikut menggalakkan program solo sinau-nya Bengawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: