Dan Terulang Lagi …

Sebentar lagi azan Asar berkumandang. Saya yang sejak pulang sekolah rebahan di kamar mulai mempersiapkan diri untuk menjemput panggilan shalat itu. Memang, siang itu udara sangat panas, tapi bukankah menjawab panggilan Allah itu lebih utama daripada mendiamkannya?

Senyampang kemudian kumandang panggilan shalat itu pun mulai sayup terdengar. Saya yang telah bersiap-siap lebih awal pun segera mengeluarkan sepeda kesayangan untuk kemudian kukayuh menuju masjid di dekat pasar.

***

Alhamdulillah, sejak dibelikan sepeda biru oleh bapak ketika awal masuk SMP, saya masih mampu menjaga amanah itu hingga sekarang. Dan harus kusyukuri bahwa amanah itu bisa saya jaga hingga saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Meski kini sepeda itu tak lagi berwarna biru.

Ya, dia tak lagi berwarna biru dan berubah menjadi hitam dengan dilengkapi tempelan stiker di sana-sini. Cukup panjang bila harus saya ceritakan. Namun, pada intinya perubahan warna itu adalah hasil dari realisasi ide saya dan seorang teman untuk mengubah tampilan sepeda kami berdua.

Hanya dengan bermodal sekaleng cat khusus dan alat penyemprot obat nyamuk cair, kami bisa mengubah tampilan sepeda kesayangan kami secara mengejutkan. Bahkan beberapa teman ada yang iri melihat dua sepeda kami yang sama-sama berwarna hitam elegan. Apalagi ayah dan ibu. Mereka sempat tak percaya dengan perubahan sepeda saya. Maklum, mereka tak tahu proses pengerjaannya, karena kami lakukan di halaman belakang rumah teman saya.

Dan tak terasa, si hitam itu telah berumur tiga tahun sejak berakhirnya proses pengecatan.

***

Setelah beberapa menit mengayuh, sampailah saya di pelataran masjid. Seperti biasa, sepeda pun segera saya parkirkan di tempat parkir yang telah disediakan. Tampak di sana telah berjajar beberapa kendaraan, ada sepeda, sepeda motor, dan becak. Saya pun memilih memarkirkan sepeda itu di samping becak, karena posisinya yang teduh tepat berada di bawah pohon mangga.

Singkat cerita, shalat jamaah Asar pun telah berakhir. Seperti biasa, selepas shalat saya duduk di teras masjid untuk kemudian bercakap-cakap sejenak dengan beberapa jamaah lain. Kebetulan, di tempat itu ada seorang teman maka langsung saja saya menyalami dan duduk di sebelahnya.

Mlaku Ndi? Mengko mulihe mbonceng aku wae (Jalan Ndi? Nanti pulangnya bonceng aku saja),” ajak teman saya.

Ora, aku ngepit kok (Ndak, aku naik sepeda kok),” jawab saya sambil tersenyum.

Lha ndi pite (Kamu parkir di mana sepeda kamu)?”

Ha kuwi sing nang samping becak (Itu yang di samping becak),” sambil menunjuk tempat yang saya maksud.

Ndak kuwi pitmu (Masak itu sepedamu)?” ucap teman saya sambil mengernyitkan dahi.

Saya pun segera berdiri sambil menunjuk letak parkir sepeda yang saya maksud. Namun, belum sampai telunjuk saya tertunjuk, tiba-tiba saya terdiam. Terdiam untuk sebuah alasan yang sangat sederhana. Berada di manakah sepeda yang hendak saya tunjuk?

Lantas, saya memperhatikan sekeliling masjid, siapa tahu ada orang yang sengaja memindahkan sepeda saya ke tempat lain di dalam lingkungan masjid untuk suatu alasan. Namun, tak juga saya temukan sepeda hitam itu.

Maka, sebuah simpulan bisa saya tarik bahwa sepeda saya telah raib. Sama seperti kejadian pada kurang lebih lima tahun yang lalu. Namun, itu tak membuat saya sangat panik seperti pengalaman pertama saya. Dengan tenang walau sebenarnya jantung sangat berdegup, saya berkata kepada teman, “Pitku ilang, digoleki yuk, sopo ngerti isih iso kecekel (Sepedaku hilang, dicari dulu yuk, siapa tahu masih bisa terkejar).”

Ekspresi pertama yang kemudian muncul di raut muka teman saya adalah terkejut. Karena saking terkejutnya, dia langsung berdiri dari posisi duduknya dan kemudian mencari kunci sepeda motornya. Sambil bingung mencari kunci, dia tak habis pikir dengan sikap saya yang menurutnya terlalu santai. Entah santai apa yang dia maksud, padahal suasana hati ini tak menentu.

Lantas kami pun segera berputar mengelilingi kampung di sekitar masjid. Satu per satu masyarakat yang kami temui selalu kami tanyai apakah beberapa menit yang lalu melihat sepeda hitam laki-laki federal yang lewat sini. Namun, semua orang selalu menjawab sama, tidak tahu.

Karena tampaknya usaha kami tak membuahkan hasil maka akhirnya kami pun pulang. Oleh teman, saya diantar pulang sampai di depan rumah. Setelah berpesan untuk sabar, dia pun pamit mohon diri.

Saya kemudian masuk rumah. Ibu tak curiga, apalagi bapak. Setelah itu saya segera masuk kamar, melepas kemeja, dan merebahkan diri di kasur. Tiba-tiba seolah waktu berputar berbalik untuk mengembalikan saya pada masa kurang lebih lima tahun silam. Kejadian pahit itu terulang kembali.

***

Teman, tahukah Anda, bapak dan ibu baru tahu sepeda saya hilang setelah beberapa hari kemudian (hampir seminggu). Itu pun karena diberi tahu oleh tetangga.

__________

Saya sarankan bagi Anda yang bingung dengan kisah ini untuk membaca tiga kisah pembukanya secara urut:

1. Sepedaku hilang.

2. Pelajaran berharga.

3. Aduhai sepeda biru.

__________

NB: Nandi aku suka sekali jepretanmu ini.

Comments
9 Responses to “Dan Terulang Lagi …”
  1. asepsaiba mengatakan:

    Sabar Ndi.. semoga bisa mengambil hikmahnya… dan si Maling memanfaatkannya dengan baik, tersadar, dpt hidayah, trus balik lagi deh sepedanya…:D (mungkin gak ya?)

    ________
    masdeewee njawab:
    saya amini aja ya mas…. semoga bermanfaat, amiin…

  2. nakjaDimande mengatakan:

    Jepretan Nandi memang memukau

    dan tentang ekspresi santai Mas Andi, bikin kuatir tuh..
    gak ketauan soalanya😀

    __________
    masdeewee njawab:
    yah mau ekspresi yg gimana lagi kan bund, masak tiba2 nangis di depan mesjid…😀

  3. setyantocahyo mengatakan:

    ikut berduka ya mas…
    iklaskan saja.., pasti Allah akan mengganti lebih dari itu…

    salam hangat sll dri sya..

    ________
    masdeewee njawab:
    amiiin… kalo itu 100% saya yakin pak.😉

  4. nh18 mengatakan:

    Aadddooohhh … nasip mu pit .. pit …

    tetapi kali ini dengan alasan yang benar ya Mas ?
    di lokasi yang seharusnya dan terhormat … hehehe

    bukan diparkiran tempat Game …

    Akhirnya sekarang ?
    Kapok kah punya sepeda ? atau si hitam yang dulunya biru itu sudah ada gantinya ?

    salam saya mas Andi

    (Nandi … Top Abis fotonya ….)

    ________
    masdeewee njawab:
    setidaknya bapak sama ibu ndak bisa memarahi saya karena:
    1. saya sudah kelas 3 SMA.
    2. sepeda hilang di masjid ketika saya shalat.
    3. saya tidak melakukan penyelewengan amanah apapun.

    oya, sejak kejadian itu sampai sekarang saya ndak punya sepeda onthel pak… tapi sekarang gantian diamanahi pit montor aka sepeda motor… hitam pula…😉

  5. sunarnosahlan mengatakan:

    salah satu atau keduanya apakah kemudian bisa ditemukan?

    _______
    masdeewee njawab:
    sampai sekarang masih belum ketemu pak….

  6. kyaine mengatakan:

    yg nyuri sepeda lebih membutuhkan mas…
    biarken saja
    ikhlasken saja

  7. kanvasmaya mengatakan:

    waduh ndi malang nian nasib pit mu.. *sambil nengok keluar, mash ada gak ya pitku😀 * hehehe ^ ^v
    yah.. dua kata yang insyaallah bisa diterima.. sabar nggiih..🙂

  8. nurrahman18 mengatakan:

    OOT : kang,sepedane koncoku anak FISIP uns tau ilang di parkiran, tp ternyata diamankan satpam,hehe, kejadian beneran karena teman saya lupa bawa sepeda ke kampus, biasanya jalan kaki

  9. matahari mengatakan:

    ini sengsara membawa nikmat, bukan? dulu sepeda, sekarang ada motornya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: