Lelaki yang Dinanti

anak lanang

Selasa, 15 Juni 2010. Dengan berat hati harus saya katakan kepada istri bahwa besok saya akan pulang kembali ke Solo. Janin yang diprediksikan terlahir pada tanggal 12 itu tak kunjung memberikan tanda-tanda kelahirannya. Oleh bidan, kami diberi tahu bahwa hal itu adalah lumrah. “Selama belum seminggu, tak mengapa. Semua masih normal,” hibur ibu bidan kepada kami.

Sebenarnya saya sangat ingin menemani istri hingga usai persalinannya. Namun, realitas memaksa saya mengambil keputusan di atas. Toh, berdasarkan dari banyak informasi yang telah kami peroleh, dikatakan bahwa proses persalinan memakan waktu yang cukup lama sehingga bila suatu saat istri mulai merasakan tanda-tanda hendak melahirkan, saya bisa segera kembali lagi ke lereng Sumbing untuk menemaninya.

***

Hari semakin malam. Hujan yang turun sejak sore menambah dingin hawa dingin yang lumrah dirasakan di lereng Sumbing. Selepas Isya, tiba-tiba istri mengeluhkan rasa nyeri dan kram di sekitar perutnya. Rasa nyeri itu tak juga hilang dirasakannya. Meski demikian, kami memilih untuk tetap di rumah karena tanda-tanda persalinan belum muncul.

Hingga tak terasa saya tertidur. Dan pada pukul 22.45, istri membangunkan dan memberi tahu saya bahwa flek darah bercampur lendir telah keluar. Karena satu tanda persalinan telah muncul, barulah kami bergegas menuju kediaman bidan yang berada tak jauh dari rumah.

Sesampainya di tempat tujuan, istri segera diperiksa dan ternyata telah memasuki fase pembukaan 3 dari 10 pembukaan. Oleh bu bidan, kami ditawari untuk menginap di klinik rawat inap yang bersebelahan dengan puskesmas desa. Dan kami pun menyetujuinya.

Tak beberapa lama setelah menempati ruang persalinan, kami disarankan untuk beristirahat dahulu. “Dimanfaatkan untuk istirahat saja, karena nanti pada waktu proses persalinan membutuhkan banyak tenaga,” kata bu bidan, “Nanti saya akan kesini lagi pukul 03.00.”

Setelah itu, bu bidan pun pulang meninggalkan kami berdua. Dan rencana kepulangan saya pun akhirnya batal terlaksana. Meski demikian, justru saya mensyukurinya.

***

Tampaknya saran bu bidan sulit kami laksanakan. Kami tak bisa tidur. Sebab, hampir tiap menit istri saya selalu merasa kesakitan. Dan rasa sakit itu semakin sakit seiring berjalannya waktu.

Namun, tampaknya kami tak ditinggal begitu saja, karena hampir tiap jam selalu datang dua orang wanita yang selalu memeriksa keadaan istri. Setelah saya usut, kedua wanita itu adalah mahasiswa salah satu Akbid di DIY. Setiap berbincang, mereka selalu menggunakan bahasa Indonesia. Dan setelah saya usut lagi, ternyata keduanya berasal dari luar Jawa. Salah satunya berasal dari Kalimantan.

***

Menanti adalah aktivitas yang membosankan, namun tidak dalam hal menanti kelahiran. Bagi saya, menanti kelahiran adalah suatu keadaan yang menegangkan. Namun bagi istri saya, menanti kelahiran anak dari rahimnya adalah aktivitas yang menyakitkan. Setidaknya ini yang bisa saya simpulkan.

Proses penantian ini membutuhkan banyak tenaga dan kesabaran bagi istri saya. Berikut ini adalah penggambarannya.

Rabu, 16 Juni 2010 pukul 03.00, bu bidan pun datang dan memeriksa istri. Ada sedikit rasa lega tergambar di rona wajah istri saya. Dia berharap semoga rasa sakit itu segera berakhir. Namun, kenyataan mengatakan bahwa dia baru memasuki pembukaan 5 sehingga dia kembali diminta untuk menahan rasa sakit itu. Bu bidan pun berpesan sambil meninggalkan ruangan, “Nanti, pukul 07.00 saya akan kembali ke sini lagi.”

Pukul 07.00. Rasa sakit yang dialami istri semakin hebat. Ini bisa terlihat dari ekspresi wajah dan rintihan lirihnya. Sesuai janji, bu bidan pun kembali memeriksa dan dikatakan bahwa istri baru memasuki pembukaan 7. Sebelum meninggalkan ruangan, bu bidan berpesan, “Kalau bosan, dimanfaatkan untuk jalan-jalan saja. Dan jangan lupa sarapan.”

Saran bu bidan pun kami laksanakan. Istri saya memilih untuk berjalan-jalan keliling ruangan sambil sesekali meringis menahan sakit. Tak selang beberapa lama, dia sarapan bubur yang telah dibelikan ibu.

Setelah itu istri saya kembali rebahan sambil sesekali mengeluh, “Kok lama ya…” Meski demikian, dia masih bisa diajak becanda untuk sejenak melupakan rasa sakitnya.

Pukul 07.30. Istri sudah tak bisa diajak becanda. Sambil menahan sakit, dia sesekali sempat tertidur walau sejenak.

Pukul 08.00. Bu bidan datang berkunjung lagi. Beliau menanyakan apakah air ketuban sudah pecah. Dan dengan kuasa Allah, sampai saat itu air ketuban masih belum pecah.

Pukul 09.00. Istri kembali diperiksa lagi oleh bu bidan dan dinyatakan bahwa dia baru memasuki pembukaan 8. Dia disarankan untuk banyak makan dan minum madu sebagai penambah tenaga.

Pukul 10.00. Saya tak bisa membedakan antara tidur dan terjaganya.

Pukul 11.45. Klimaks. Sambil menangis dia berkali-kali berkata bahwa sudah tak tahan lagi, rasanya ingin keluar. Kemudian oleh bu bidan dikatakan bahwa dia baru memasuki pembukaan 9. Bila memang kuat, silakan mengejan.

Dan ternyata memang belum bisa. Bu bidan pun berkata, “Mbak, kalau Anda tetap ingin mengejan, silakan. Tapi waktunya singkat. Bila dalam waktu 1 jam masih nihil, Anda harus siap dibawa ke mana-mana (maksudnya rumah sakit kota yang memiliki peralatan lengkap, untuk menjalani proses persalinan yang tidak normal). Tapi, bila Anda mau menahan lagi, itu lebih baik karena Anda bisa menjalani proses persalinan secara normal.”

Sebuah ancaman yang tidak main-main. Setidaknya istri saya langsung terdiam kemudian mengurungkan niatnya untuk kembali mengejan. Saya pun berbisik kepadanya untuk tetap bersabar dalam menahan rasa sakit.

Tak lama kemudian, azan Zuhur berkumandang. Saya pun bergegas menuju mushala yang berada tidak jauh dari klinik tersebut. Tampaknya inilah salah satu kesempatan emas saya untuk bermunajat kepada Sang Pemberi hidup. Dan kesempatan itu tak saya lewatkan begitu saja.

Selepas shalat, saya baru sadar bahwa sejak malam saya belum tidur dan makan. Maka, saya pun mencari warung di sekitar klinik. Ada banyak pilihan warung, mulai warung yang menjajakan nasi megono, nasi goreng, bakso, mie ayam, dan sebagainya. Dan saya memilih warung yang menjajakan mie ayam.

Alhamdulillah porsinya cukup banyak sehingga bisa mengobati rasa lapar dan lelah saya.

Pukul 12.30. Saya kembali ke ruang persalinan. Istri saya terlihat tampak lebih kuat dalam menahan rasa sakit. Meski beberapa kali saya melihat guratan rasa lelah di wajahnya, tapi api semangatnya makin bertambah. Tampaknya perkataan bu bidan membuatnya terlecut untuk kembali bersemangat.

Pukul 13.00. Bu bidan untuk ke sekian kalinya menepati janjinya. Dia datang bersama 2 mahasiswa kebidanan yang setia memeriksa istri saya sejak semalam dan seorang lagi bidan desa. Mereka langsung mengenakan semacam celemek dan langsung memulai proses persalinan.

Pukul 13.05. Air ketuban telah pecah, dengan izin Allah.

Pukul 13.20. Lahirlah seorang anak lelaki dari rahim istri saya. Berat badannya 3,3 kg. Sementara itu, tinggi badannya 49 cm.

__________

Teringat sebuah ayat:

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya.” (Maryam: 7)

***

Lagi-lagi Nandi saya liburkan. Gambar diambil dari kamera HP bulik saya, jadi maaf bila kualitas gambar dan sudut pengambilan gambar serba pas-pasan.

Comments
28 Responses to “Lelaki yang Dinanti”
  1. yustha tt mengatakan:

    Selamat atas kelahiran putranya. Semoga mjd anak sholeh, mjd kebahagian bg keluarga, & mjd manfaat bg sesama. Amin.
    Salam utk istri. Selamat telah mjd ibu..๐Ÿ™‚

    _________
    masdeewee njawab:
    amin… salam akan saya sampaikan.

  2. nakjaDimande mengatakan:

    Alhamdulillahirrabbil’alamin

    Kebahagiaan tiada tara. Terimakasih ya Rabb.
    harap laporan selanjutnya, nama lelaki itu..?

    Lelaki dinanti.

  3. Irawan mengatakan:

    Selamat atas lahirnya lelaki yang telah dinanti-nanti

    ________
    masdeewee njawab:
    terima kasih…

  4. nh18 mengatakan:

    ALHAMDULILLAH …
    ALHAMDULILLAH …

    Saya tidak ingin dikatakan lebay atau bagaimana …

    Namun jujur … berita ini sungguh saya tunggu-tunggu …
    dan ketika tadi saya membuka blog mas Andi …
    Saya lihat headernya keluar
    Seorang manusia kecil
    Lucu menggemaskan …

    Dan hati saya lega berucap … aaahhh Syukurlah … Yang ditunggu sudah datang …

    Saya berdoa semoga
    Mas Andi … Mbak Rie Andi … dan Putranya
    Selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan oleh Yang Maha Kuasa …

    Salam dan Doa Kami …
    NH18 dan keluarga …

    BTW …
    Anak Lanangmu Ngganteng tenan Mas …
    .

    __________
    masdeewee njawab:
    itu nurun dari bapaknya pak….๐Ÿ˜€

  5. kyaine mengatakan:

    anak lanang!!
    selamat menikmati jd bapak mas๐Ÿ˜›

    _________
    masdeewee njawab:
    terima kasih pak gus

  6. Ram mengatakan:

    Slamat ya Mas ^_^
    Anak lanangnya masih imuut jadi pengen ngesun ๐Ÿ˜ณ

    ________
    masdeewee njawab:
    monggo kalo mau ngesun…๐Ÿ™‚

  7. nurrahman mengatakan:

    saya terharu membacanya, hiks๐Ÿ˜€

    ________
    masdeewee njawab:
    smileynya kok malah tertawa mas?๐Ÿ˜€

    • nurrahman mengatakan:

      klo pake smile menangis, ntar takut dibilang cengeng kang,hehehe…wah klo ada waktu ke solo, pengen main ke rumahnya sampean, tilik bayi…tp apakah sudah di solo?ato masih di wonosobo?

  8. setyantocahyo mengatakan:

    begitu beratnya seorang ibu menghadapi sebuah persalinan..
    semoga menyadarkan kepada kita semua agar lebih menghormati kepada ibunda kita …
    semat ya mas…
    alhamdulillah dg penantian yang begitu lama akhirnya persalinan berjlan dg selamat……

    salam hangat sll.

    _______
    masdeewee njawab:
    terima kasih pak cahyo…ya, saya mendapat banyak pelajaran dari proses persalinan tersebut pak…

  9. novi mengatakan:

    subhanallah barakalloohu fiikum

  10. sunflo mengatakan:

    saya terharu membacanya mas, selamat ya barakallahu fiikum

  11. Daoz mengatakan:

    subhanallah,, semoga jadi anak sholeh.. kapan ya saya nyusul jadi bapak.. semoga kesampean jadi bapak..^^

  12. ahmad mengatakan:

    barakallahu ya. semoga jadi anak soleh!

  13. asepsaiba mengatakan:

    Hmm.. jadi ada new fatjer nih.. sekian lama tak berkunjung.. mbaca tulisan yang menggembirakan ini.. Selamat ya mas Andi. sayang saat ini saya bukanya di hape jadi gak liat header babynya sprt yg om eha bilang..

    Semoga jadi ana yang sholeh.. amin..

    Tapi mo protes nih.. masa tulisan mengharukan gini ditaronya di category “tulisan garing” sih….

    • Andi mengatakan:

      sebelumnya saya mohon maaf mas asep, memang saya akui ini kesalahan. tapi saya malas hendak membuat kategori baru lagi. okelah, insya Allah akan saya perbaiki pengkategoriannya… terimakasih atas kritikannya.

  14. sunarnosahlan mengatakan:

    alhamdulillah, anak lanang wis lahir, ati dadi bungah

  15. ceuceu mengatakan:

    wah..selamat ya… syukurlah keadaan ibu dan anaknya sehat…. cerita ini mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu saat saya dan suami begitu tegang menanti kelahiran setiap putri-putra kami…

    selamat..selamat…

    fase setelah ini, bapak-ibunya pasti kurang tidur karena sang bayi masih suka nangis malam-malam.. hehehe.. selamat menikmati menjadi orang tua…

  16. Realodix mengatakan:

    Selamat ya atas kelahiran putranya…
    Semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua..

  17. kikakirana mengatakan:

    Aduh, tak terbayangkan perjuangan seorang ibu melahirkan buah hatinya….
    selamat ya maz… atas kelahiran anaknya๐Ÿ™‚
    semoga menjadi anak yang sholeh๐Ÿ˜‰

    HIDUP!!! ^_^

  18. hellgalicious mengatakan:

    subhanallah
    perjuangan seorang ibu emang berat banget ya
    ckckck
    selamat ya bang
    semoga anak abang menjadi anak yang sholeh dan berbakti sama kedua orang tuanya

    amin!

  19. yuniarinukti mengatakan:

    Selamat ya Pak, Semoga menjadi anak yang pinter berbakti….

  20. ndz mengatakan:

    selamat mas.. moga jadi anak yang lebih pinter, lebih nggantheng,lebih sholeh, dan segala kebaikan yang lebih dari bapaknya..
    amiin..hehehe..
    moga mas andi+nyonyah dikasih keleluasaan dan kelapangan rizqi buat mbimbing si adek..

  21. syelviapoe3 mengatakan:

    Biarpun telat…. ^_^

    Selamat atas kelahiran putranya, mas…
    Semoga menjadi anak yang sholeh, dan berbakti pada nusa bangsa dan agama

  22. Toko Bunga Madiun mengatakan:

    Anak titipan dari Alloh swt yang harus kita jaga..dan harus kita didik supaya kelak berguna untuk Orang tua khususnya , Bangsa dan Agama..Menjadikan Anak yang Sholeh tugas maha berat dari kita orang tua

  23. ELLYS mengatakan:

    Selamat atas kelahiran putranya…

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] : LELAKI YANG DINANTI Mas Andi adalah seorang nara blog saya yang baru saja menjadi Bapak.ย  Ini adalah tulisan Mas Andi […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: