Aduhai Sepeda Biru

bersepeda

Kisah ini adalah lanjutan dari kisah Sepedaku Hilang dan Pelajaran Berharga. Bagi Anda yang belum membacanya, alangkah lebih baik bila Anda menyempatkan waktu sejenak untuk membaca dua kisah tersebut.

Sepeda biru seharga 100 ribu

Telah mencuri hatiku

Saya masih tak percaya dengan semua ini. Bahkan, hampir pasti saya menyakini ini hanya mimpi belaka. Bagaimana mungkin sesuatu yang tak mungkin bisa saya raih sekarang justru ditawarkan di depan mata. Dahulu, bapak pernah berjanji bahwa dia akan membelikan saya sepeda bila bisa masuk di SMP favorit di kota kelahiran saya, yaitu SMPN 1.

Pada kenyataannya, saya tak bisa diterima di sekolah tersebut. Nilai saya terlalu pas-pasan untuk bisa memasuki sekolah favorit yang berada di dekat alun-alun kota itu. Namun, saya terkejut ketika pada suatu siang saya diajak bapak bepergian. Entah mau diajak ke mana, saya masih tak tahu.

Siang itu, pada hari Minggu. Tiba-tiba bapak memanggil saya, “Ndi, mlaku-mlaku yo (Ndi, jalan-jalan yuk).”

Sebenarnya, ketika itu saya hendak pergi ke rumah teman (dolan). Teman baru yang baru saya kenal beberapa bulan yang lalu sejak saya masuk SMP. Karena kebaikannya, saya setiap berangkat dan pulang sekolah bisa memboncengnya. Dan kebetulan kami berdua bertetangga desa. Namun, tampaknya rencana dolan hari itu harus saya urungkan.

Dengan sedikit gontai saya menyetujui ajakan bapak. “Ah ngapain sih. Paling juga diajak beli pakan burung atau jangkrik di pasar,” batin saya.

Dahulu, bapak sangat suka memelihara burung. Hobi tersebut bermula sejak seorang paman saya yang menghadiahi beliau seekor burung beo dari pulau Borneo. Walau akhirnya si beo itu mati karena stres (kata bapak), tapi sejak itu bapak mulai menyukai dan menggeluti dunia perburungan.

Telah terhitung berbagai burung pernah beliau pelihara. Mulai dari yang berharga murah sampai mahalnya ngudubilah. Dan semua burung itu selalu saja segera hilang di tangan bapak. Entah lepas dari sangkar, mati dengan misterius, bahkan dicuri orang. Dan opsi yang terakhir adalah yang lumayan sering, karena faktor keamanan di rumah ketika itu masih sangat minim.

Dan karena itulah, bapak berhenti memelihara burung.

***

Setelah berpamitan kepada ibu, kami pun berangkat dengan berboncengan mengendarai sepeda motor. Dalam perjalanan, saya mulai heran. Kenapa jalur yang diambil bapak berbeda dengan jalur biasanya? Seharusnya arah menuju pasar burung tidak menuju kota, tapi kenapa bapak mengarahkan motornya ke arah alun-alun?

Akhirnya semua pertanyaan itu terjawab. Sampailah kami di sebuah toko sepeda. Di toko itulah dahulu bapak membelikan sepeda saya yang sekarang hilang tak tahu rimbanya. Dan untuk kedua kalinya, saya diajak ke sana.

“Ndi, miliho sepeda sing mbok senengi. Tapi ojo sing larang ya (Ndi, pilihlah sepeda yang kamu sukai. Tapi jangan yang mahal ya),” kata bapak saya.

Entah apa ekspresi saya ketika itu. Jujur, saya sudah lupa. Yang jelas, saya tak berani memilih. Saya menyerahkan semuanya kepada bapak. Karena, bapak sudah mau membelikan saya sepeda lagi, itu sudah sangat saya syukuri. Itu tandanya, saya masih mendapat kepercayaan untuk menjaga sebuah amanah.

Namun, bapak tetap memaksa saya. Dia ingin, saya yang memilih sepeda itu. Hingga akhirnya, saya berkeliling memperhatikan berderet sepeda yang dipajang di toko. Saya pilah satu persatu sepeda baru yang berbaris memanjang.

***

Biru adalah warna kesukaan saya. Entah karena apa, segala sesuatu yang berwarna biru (terutama biru langit) selalu mencuri perhatian saya. Pernah saya merengek minta dibelikan kaos berwarna biru tua kepada kedua orang tua saya, karena kaos itu berwarna biru.

Di kaos tersebut terpampang gambar seorang lelaki bergitar sedang berpose mangap di depan mik. Untuk masalah gambar, ketika itu saya tak begitu menghiraukan siapa dia. Yang penting warnanya biru. Dan setelah saya duduk di bangu SMP, barulah saya usut lebih jauh perihal lelaki berpose mangap itu. Ternyata lelaki itu adalah seorang musisi bernama Kurt Cobain.

Dan lagi-lagi biru itu kembali mencuri hatiku. Kali ini sebuah sepeda federal tipe lelaki biru metalik membuat saya terdiam. Dengan sedikit menunduk, saya menoleh ke arah bapak. Bapak pun segera paham. Lantas, beliau menanyakan harganya. Sepeda itu seharga 100 ribu rupiah.

Singkat cerita, sepeda itu kemudian dibeli oleh bapak. Tidak seperti ketika membelikan sepeda pertama, bapak tak banyak berpesan. Beliau hanya berkata, “Ojo diilangke meneh yo (Jangan dihilangkan lagi ya).”

***

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Nantikan AKHIR dari serial cerita masa kecil ini pada episode selanjutnya.

Insya Allah bersambung.

_________

Satu simpulan saya, orang tua selalu memperhatikan anaknya.

__________

Nandi berkata tentang jepretannya:

Masih di Purbalingga yang masih berkabut. Melihat sekelompok anak berseragam SMP berangkat sekolah untuk menuntut ilmu. Tiba-tiba, saya kembali teringat masa-masa sekolah saya.

Comments
23 Responses to “Aduhai Sepeda Biru”
  1. Andi mengatakan:

    saya membaca kembali artikel ini kok rasanya masih amburadul aja ya….

  2. nakjaDimande mengatakan:

    @Masdeewee : Sebentar lagi giliranmu memperhatikan sang buah hati..

    @Nandhi : Kabutnya masih bikin haru biru.

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehe…. semakin mendekati hari H nih bun….

    • ndz mengatakan:

      @mz andi. moga lancar yo bang.. dag dig dug..hatiku berdebar-debar..(kok aku melu2 berdebar-debar?)😀
      @mb nankja. kabutnya putih mbaaa…😀

  3. Irawan mengatakan:

    Ceritanya mirip sama yang aku alami

    ________
    masdeewee njawab:
    oya mas? wah kita sama dong…😉

  4. Asop mengatakan:

    Saya suka banget fotonya…😳

    ________
    masdeewee njawab:
    terima kasih mas….

  5. kyaine mengatakan:

    ntar anaknya mas andi belikan sepeda roda 3 yang warna pink ya🙂

    ___________
    masdeewee njawab:
    hehehe….kalo sepeda roda3, insya Allah pak kalo ada rejeki… tapi kalo pink gak janji deh….😀

  6. nurrahman18 mengatakan:

    wah jadi teringat jaman smp, ke sekolah pake sepeda, sma pun iya😀

    ________
    masdeewee njawab:
    saya pas SMA malah jalan kaki mas… lha sekolahnya ada di depan rumah pas.🙂

  7. setyantocahyo mengatakan:

    “ndi ojo dilangke maneh yo..?
    ” mboten pak …mangke nek andi turu badhe tak rante pak sepedahe kalih sikile andhi..”

    hehehe……guyon mas…

    salam hangat sll.

    _________
    masdeewee njawab:
    hahaha… kayak dipasung dong pak…😀

  8. gerhanacoklat mengatakan:

    wah kalo insya Allah berarti bersambung donk andi😀

    _________
    masdeewee njawab:
    yaps, insya Allah bila masih diberi kesempatan untuk menyambungnya, masih bersambung…😉

  9. nh18 mengatakan:

    Bagaimanapun juga
    Seorang ayah akan selalu sayang sama Anaknya …

    So kelanjutan sepeda biru saya nantikan …

    BTW

    Bagaimana kesehatan Nyonya Andi …?
    Saya selalu berdoa semoga semua lancar-lancar dan sehat-sehat saja

    Salam saya

    _______
    masdeewee njawab:
    kisah lanjutannya ditunggu saja pak…
    hehehe… istri alhamdulillah baik2 saja pak. terima kasih atas doanya.

  10. Delia mengatakan:

    Lia gak pernah dibeliin sepeda abis masa kecil susah banget😦
    tapi begitulah orang tua selalu perhatian ama anaknya…

    Salam buat istrinya juga ya mas🙂

    _________
    masdeewee njawab:
    mbak, nilai kebahagiaan itu tidak semata dinilai dari sepeda. tapi dibelikan sepeda adalah salah satu jalan menuju kebahagiaan bagi beberapa anak, dan salah satunya adalah saya.😉

  11. sunflo mengatakan:

    ceritanya mengharukan banget neh de

    _____
    masdeewee njawab:
    jangan nangis ya mbak…😀

  12. novi mengatakan:

    ah bapak sungguh baik hati …

    ________
    masdeewee njawab:
    mbak novi juga kok…😉

  13. wibisono mengatakan:

    wah ganti baju to??

    aku mulai dari SD- sampai SMA selalu ditemani dengan sepeda kesayanganku.. walaupun beberapa kali ganti sepeda.. Rasanya ke kampus ingin sekali naik sepeda. tapi apa daya jauh dari rumah.. bawa sepeda susah..

    __________
    masdeewee njawab:
    ya gimana caranya dong mas…🙂

  14. grandchief mengatakan:

    Humm jadi pengin naek sepeda lagi… Sepeda saya sudah terpajang tak karuan di belakang rumah😦 Salam kenal mas ya😀

    _________
    masdeewee njawab:
    sekali waktu dipake sepedaan aja mas… apalagi kalo pas liburan…😉

  15. firmatha mengatakan:

    sepedanya…jadi pengen deh….

    _______
    masdeewee njawab:
    sepeda kayak gitu sekarang pasti harganya murah kok mas, karena bukan tipe sepeda gunung.

  16. julianusginting mengatakan:

    fotonya bagus mas….

    ________
    masdeewee njawab:
    terima kasih mas juli…🙂

  17. Kakaakin mengatakan:

    Memang orang tua selalu memperhatikan anaknya… salah satu bentuk kasih sayang mereka🙂
    Di tempat kerjaku pernah ada anak muda kecelakaan sepeda motor, sambil nangis2 ibunya datang dan berkata “duuh… kasihannya anakku… nanti mama belikan lagi motor baru ya…”

  18. adin mengatakan:

    walaupun kadang diem, tapi orang tua emang selalu memikirkan kebutuhan dan keinginan anaknya…foto-foto di blog ini keren-keren mas…

  19. antokoe mengatakan:

    wah masih to be continued,
    saya berharap sambungannya bukan cerita sepeda hilang…
    larang mas tuku maneh….

  20. aldy mengatakan:

    Jadi suami siaga, untuk sementara jangan memikirkan sepeda dulu😉

  21. Gerizal mengatakan:

    Karena semua manusia itu ‘Baik’ jika kita bisa melihat ‘Kebaikannya’.
    Dan ‘Menyenangkan’ jika kita bisa melihat ‘Keunikannya’.
    Namun, semua manusia itu akan ‘Buruk’ dan ‘Membosankan’,
    jika kita Tidak Dapat melihat keduanya.

    Sesungguhnya “Hati adalah Ladang”.
    Tanamlah selalu dengan PERKATAAN dan PERBUATAN yang baik.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] 3. Aduhai sepeda biru. […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: