Sepenggal Kenangan di Tambi

Tambi

Menikmati kesejukan alam pegunungan selepas subuh adalah sebuah nikmat dari Allah yang tak terkira nilainya. Setidaknya, itulah yang saya rasakan ketika berlibur di lereng gunung Sumbing beberapa hari kemarin. Beberapa hari tersebut selalu kami (saya dan istri) manfaatkan untuk berjalan pagi berkeliling kampung. Apalagi, istri saya memang direkomendasikan untuk memperbanyak berjalan (terutama pagi) untuk menjaga kesehatannya.

Tentunya, apabila rute jalan pagi yang diambil itu-itu saja bisa memunculkan rasa bosan. Maka, pada hari Minggu kemarin saya pun mengajak istri untuk mengambil rute yang berbeda.

Kebetulan, tidak jauh dari tempat kami tinggal terdapat sebuah perkebunan teh. Perkebunan Teh Tambi Tanjungsari, namanya. Bila ditempuh melalui jalan raya memang lumayan jauh (sekitar 10 menit dengan mengendarai sepeda motor), tapi bila melalui jalan setapak tidak begitu jauh walau harus melalui jalan setapak yang semi hutan.

Singkat cerita, istri saya pun menyetujuinya. Dan kami berjalan pagi menuju tempat tersebut. Pada awalnya, kami susuri jalan kampung hingga sampailah pada jalan semi hutan. Saya sebut semi hutan karena di sepanjang jalan yang ada hanyalah pepohonan, tak ada rumah. Meski demikian, jalan yang kami lalui sudah beraspal.

Jujur, perjalanan kami pada pagi itu hanya mengandalkan ingatan dari istri saya. Karena, saya sendiri baru sekali itu melewati rute tersebut. Di sisi lain, istri saya sudah cukup lama tak melewati jalan tersebut sehingga hanya mengandalkan ingatan yang lupa-lupa ingat.๐Ÿ™‚

Hingga sampailah kami di sebuah pertigaan. Istri saya bingung, sedangkan saya tetap santai (lha mau bagaimana lagi, kalau ikut bingung bisa nambah masalah). Setelah berpikir sejenak, istri saya memilih belokan ke kiri. barulah saat itu saya kaget. “Apa nggak salah nih milih jalannya? Belokan kiri itu kan bukan jalan beraspal,” gumam saya.

Meski demikian saya tetap manut saja dengan pilihan istri saya. Hingga sampailah kami pada jalan berbatu, kalau bahasa sananya rolakan. Berikut ini gambarnya.

rolakan

rolakan

Celakanya, kami berdua pada pagi itu tak mengenakan alas kaki. Sehingga ketika melalui jalan berbatu itu kami terpaksa berjalan sambil jinjit-jinjit menahan sakit.

Namun, rasa sakit itu segera terbayar dengan sampainya kami di tempat tujuan. Hamparan perkebunan teh yang luas segera mencuri perhatian saya. Kamera digital pinjaman yang sampai sekarang masih saya bawa itu pun saya keluarkan untuk mengabadikan momen tersebut. Namun, sayangnya kamera tersebut dalam kondisi low batery sehingga saya tak bisa asal jepret saja.

Nah, foto di atas adalah salah satunya. Meski kelasnya masih sangat pemula, tapi saya suka nilai sejarahnya.

Akhirnya, karena waktu semakin siang, kami pun pulang. Dan karena lelah dan malas melewati jalan berbatu lagi, kami memilih pulang dengan naik bus kota jurusan Wonosobo-Purworejo. Hehehe…

_____________

Khusus postingan ini, Nandi saya liburkan dulu. Jadi mohon maaf bila ilustrasi yang ditampilkan jauh dari sempurna.

***

Oya, mohon doa dari rekan sekalian. Pada tanggal 2 Juni ini, kandungan istri saya telah genap berusia 9 bulan. Dan berdasarkan prediksi, 10 hari lagi dia akan melahirkan putra kami yang pertama. Insya Allah.

Semoga dipermudah ketika proses persalinannya. Amin.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Comments
19 Responses to “Sepenggal Kenangan di Tambi”
  1. nakjaDimande mengatakan:

    walaupun bukan nandhi yg motret tetap saja bagus
    karena yang dipotret masih lukisannya Al Mushowwir๐Ÿ™‚

    mas itu serius ngga bawa sendal?
    istrimu juga?
    trus pas naik bus gimana?

    lain kali bawa aja, masukin ke ransel.
    :si bundo bawel:

    _________
    masdeewee njawab:
    ampun bundo… iya, kami ndak bawa sandal sama ransel. ndak bawa sandal biar sehat.๐Ÿ˜€
    ya kalo naik bis terpaksa nyeker bun…

    mohon doa dari bundo…

  2. annosmile mengatakan:

    wah..lama gak dolan ke tambi..
    masih asri ya suasananya..

    semoga proses persalinan berjalan lancar dan bayi yang dilahirkan sehat tanpa ada kekurangan apapun…
    salam…

    _________
    masdeewee njawab:
    amiiin…

  3. kakve-santi mengatakan:

    fotonya sejuk…!
    pengen kesana

    __________
    masdeewee njawab:
    kalo ada waktu, ke sana aja mbak…

  4. fitrimelinda mengatakan:

    deuhhh.. asri bgt..

    _________
    masdeewee njawab:๐Ÿ™‚

  5. Kyaine mengatakan:

    selamat menikmati jd suami siaga mas๐Ÿ˜›
    semoga semuanya nanti baik2 saja

    _______
    masdeewee njawab:
    amin pak gus, terima kasih.

  6. Delia mengatakan:

    Perkebunan teh.. kapan ya bisa kesana๐Ÿ™„ sungguh menyenangkan ya..

    Selamat Ya mas Andi… wahhh 10 hari…semoga persalinan berjalan lancar

    Salam buat Istrinya ya mas… .^_^

    ________
    masdeewee njawab:
    menikmati perkebunan teh sambil minum teh …๐Ÿ™‚
    amin mbak…

  7. PakOsu mengatakan:

    Alam asri kayak gitu pasti mendatang kesehatan setelah jalan pagi, ya. Jadi pengen…

  8. arif mengatakan:

    alhamdulillah, senangnya akan segera menjadi bapak:D

  9. dreesc mengatakan:

    semoga lancar persalinan istri nya yah mas….

    salam kenal…

  10. sunarnosahlan mengatakan:

    melihat foto-fotonya saya jadi rindu ke Jawa terutama daerah yang sejuk seperti dalam foto itu

  11. setyantocahyo mengatakan:

    asri mas pemandangane..
    wah enak ya bisa jln2 di lereng gunung kaya gitu…
    pasti nikmat rasanya…

    salam.

  12. nh18 mengatakan:

    Ada TIga Hal Mas Andi ..

    1. Jalan dengan tidak memakai alas kaki …
    saya dengar itu baik bagi kesehatan … apa lagi ini pagi hari …
    Kaki terasa direfleksi … batu-batuan itu membantu menotok titik-titik simpul saraf …
    sehabis jalan kaki pasti sehat rasanya …

    2. Jalan berdua dengan istri …
    Ini romantis sangat …
    Pagi hari … pegangan tangan … ngobrol ringan … aaahhhh …
    (maaf koreksi … tepatnya … Bertiga … !!!)

    3. Foto ilustrasi …
    Tidak kalah dengan Nandi …
    Ini foto yang bagus … cukup berhasil untuk menghadirkan suasana yang Mas Andi ceritakan …
    Cerita jalan aspal, jalan rolakan dan sebagainya …

    Last But Not Least …
    Saya ikut mendoakan semoga persalinan Ny Andi nanti bisa lancar …
    Dan bayinya sehat-sehat …

    Salam dan Doa saya selalu dari Jakarta.
    NH18 dan keluarga

  13. Chef Lamanda mengatakan:

    pemandangannya bagus,,๐Ÿ™‚

  14. ernit mengatakan:

    wew, suka bgt dg foto2 pemandangannya…

    eia, ikut mendoakan istrinya deh supaya persalinannya lancar๐Ÿ™‚

  15. dhebu mengatakan:

    wahh..udaranya psti dingin bgt tuh,,jdi pengen kesana..
    fotonya jg keren..
    aq doain istrinya diberi kelancaran waktu melahirkan..Amien๐Ÿ˜€

  16. sentil mengatakan:

    kalau jalan2 lagi mau banyak2 ambil foto ah……biar bisa lapor juga…

  17. ndz mengatakan:

    mas dhewe kereeeeeeeeeeeeeeeeeeennn…lah..
    moga jadi bapak terkeren di dunia..

  18. rawitcute mengatakan:

    wah kampung halamankuuu…salam kenal mas! semoga persalinan istrinya dilancarkan dan dimudahkan..amien

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Note : Postingan ini juga terinspirasi juga dari pengalaman Mas Andi dan Mbak Rie … Disini … ! […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: