Pelajaran Berharga

Kisah ini adalah lanjutan dari kisah Sepedaku Hilang. Bagi Anda yang belum membacanya, alangkah lebih baik bila Anda menyempatkan waktu sejenak untuk membaca kisah tersebut.

_____________

Malam itu entah kenapa suasana begitu mencekam bagi saya. Jam makan malam yang seharusnya dilalui dengan akrab berubah menjadi senyap tanpa perbincangan. Dan lagi, di meja makan tak ada satu pun hidangan yang tersaji. Ya, karena malam itu adalah malam penghakiman bagi seorang pesakitan. Dan celakanya, pesakitan itu adalah saya yang ketika itu masih berumur 12 tahun.

12 tahun bukanlah usia yang dibilang kecil. 12 tahun bagi beberapa anak adalah usia dimana dia memasuki masa akil balig, masa dimana segala tindakannya dicatat untuk kemudian kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Pemberi kehidupan.

Dan pada usia 12 tahun itulah saya mendapat sebuah pelatihan akan hal itu. Ya, pada umur tersebut saya dikaruniai Allah untuk merasakan pengadilan mini yang harus saya pertanggungjawabkan.

Kowe mau mbolos yo (Kamu tadi membolos ya)?!” tanya ibu saya membuka pengadilan malam itu.

Sambil menunduk, saya mengiyakan dengan lirih. Betapa kelu lidah ini hanya untuk mengatakan satu kata, “Ya.” Satu kata yang seharusnya sangat mudah terucap.

Bapak dan ibu yang berada di depan menatap saya dengan tajam. Ibu selaku pemimpin sidang bertubi-tubi menghujani saya dengan pertanyaan yang harus saya jawab. Adapun bapak lebih memilih diam sambil memandang saya penuh kecewa. Sedangkan kakak yang masih belum begitu mengetahui duduk perkara ini lebih memilih menyendiri di kamar. Mungkin di dalam kamar dia sedang menguping sambil menahan lapar.

Jelas mereka sangat kecewa. Ketika sebuah kepercayaan dibayar dengan kebohongan, bahkan pengkhianatan. Ketika segala fasilitas yang diberikan sebagai penunjang disalahgunakan untuk hal yang tidak dibenarkan. Dan akhirnya terkuaklah rahasia tersebut. Membolos, video game, boros dalam menggunakan uang saku, dan menghilangkan sepeda adalah empat dakwaan yang memberatkan saya dalam pengadilan itu.

Dari pengadilan itu kemudian saya divonis dengan hukuman kurungan di gudang rumah tanpa diberi makan selama semalam. Ketika itu, saya langsung diseret oleh ibu saya. Walau menangis, saya tetap diseret dan dijebloskan di dalam ruang tersebut. Pengap dan gelap, membuat saya semakin keras menangis. Tapi, bapak ibu tetap tak menghiraukan.

Sambil mengunci gudang, ibu berkata, “Nek kowe wegah sekolah, wis rasah sekolah sisan. Ngentekke duwit thok (Kalau kamu malas sekolah, ya sudah, tak usah sekolah sekalian saja. Daripada membuang-buang uang saja)!”

Sejak kejadian itu, ibu sering diam terhadap saya. Bapak pun demikian. Bahkan mereka berkata bahwa tidak ingin membelikan sepeda lagi kepada saya. Namun, tiap berangkat sekolah, ibu selalu mengatar saya. Hanya saja, ketika pulang saya disuruh pulang sendiri.

Saat pulang sendiri itulah saya berkali-kali melihat sepeda berseliweran. Betapa senang anak-anak yang pergi bersepeda itu. Mereka kayuh sepedanya menyusuri desa, melewati sawah, dan berkeliling kota. Sedangkan saya hanya berjalan kaki untuk pulang ke rumah nenek, tempat transit saya untuk kemudian dijemput ayah atau ibu pada sore harinya. Hal ini terus berlangsung tiap hari, hingga pada saat EBTANAS dimulai.

Saat detik-detik menjelang ujian nasional itu, saya tiba-tiba dipanggil bapak. Beliau berkata kepada saya, “Ndi, nek kowe mbesuk iso mlebu SMPN 1, tak tukokna sepeda (Ndi, kalau kamu kelak bisa masuk SMPN 1, akan saya belikan sepeda).”

Betapa gembira saya ketika itu. Ibarat seorang tahanan yang mendapatkan grasi. Ternyata kepercayaan itu masih diberikan kepada saya. Padahal sempat terpikir bahwa saya tak akan bisa memiliki sepeda lagi.

Hingga tibalah waktu penentuan itu. EBTANAS telah tiba. Saya pun berjuang keras dalam menghadapi ujian tersebut. Soal demi soal saya jawab dengan penuh hati-hati dan cermat. Di dalam benak saya berkata, “Aku harus masuk SMP 1.”

***

Pagi itu dengan diantar bapak, kami melaju ke sebuah SMP. Hari tersebut adalah hari terakhir penerimaan siswa baru. Hari yang seharusnya dilalui dengan penuh harap dan cemas. Namun, tidak bagi saya. Rasa harap dan cemas itu telah hilang karena saya dinyatakan lulus SD dengan nilai pas-pasan. Nilai yang takkan bisa membawa saya masuk di SMPN 1. Otomatis, sepeda pun hanya tinggal impian. Bagi saya ketika itu, mau masuk sekolah mana saja itu tak memberi pengaruh apapun. Karena saya tak bisa masuk SMPN 1.

Waktu semakin siang dan akhirnya masa pendaftaran telah ditutup. Dengan berat hati saya akhirnya diterima di SMPN 3. Berkali-kali saya menyesali atas tindakan yang telah saya lakukan dahulu.

Oh sepeda, kau hanyalah impian bagiku yang semakin jauh bisa kumiliki.

***

Apakah akhirnya saya akan selalu berjalan kaki selama sekolah atau bisa mendapatkan sepeda lagi?


Insya Allah masih bersambung.

__________

Tahukah teman, karena saya masuk di SMPN 3 itulah saya kemudian bisa mengenal seorang sastrawan. Dia adalah guru Bahasa Indonesia di sekolah tersebut. Bahkan seorang dosen pernah berkata kepada saya, “Kalian (saya dan pak guru saya) adalah dua murid saya yang sangat saya sayangi. Andi dan Mukti (atau Espe, saya lupa).”


Sastrawan itu bernama Mukti Sutarman Espe.

____________

Nandi berkata tentang fotonya:

Foto di atas diambil di Purbalingga, tanah kelahiran saya. Diabadikan pada pagi hari yang berkabut di sebuah pematang sawah. Walau tampak sederhana tapi memberi makna tersendiri bagi saya. Cobalah cermati lagi foto tersebut. Kabutnya, saya suka itu.

Comments
20 Responses to “Pelajaran Berharga”
  1. Andi mengatakan:

    kolaborasi perdana AndiNandi masih terlihat agak kikuk. jujur, kami belum menemukan jati diri kami yang akan kami gunakan sebagai kekhasan tulisan kami selanjutnya. perihal bagaimana letak cerita utama dan cerita hasil jepretan. ditambah lagi dalam tulsan ini ada sisipan amanat juga yang tiba-tiba berkelebat untuk minta dituliskan.
    mohon masukan dari rekan sekalian. terima kasih

    tertanda,
    AndiNandi

  2. camera mengatakan:

    hm…
    makasih udah mengingatkan dengan artikelnya….

    _______
    masdeewee njawab:
    sama-sama mas

  3. nurrahman18 mengatakan:

    wealah, yg ini bagus fotonya…mmm,saya masih menunggu cerita berikutnya😀, semoga hadiahnya meningkat, bukan hanya sepeda, mungkin jadi sepeda motor di sma..hehehe🙂

    ________
    masdeewee njawab:
    heheh tunggu saja kisah lanjutannya, insya Allah…

  4. Adi mengatakan:

    Hwah kisah yg menarik, dtggu crta lnjtnx.XP ud tak msukin google reader saya, jK ada yg bru ntar lgsg tak bc,

    _______
    masdeewee njawab:
    waaah terima kasih mas Adi….

  5. nakjaDimande mengatakan:

    @mas Andi : yang penting itu bukan dimana sekolahnya, tapi terletak justru ditangan siswanya. Jadi ‘siswa penting’ itu lebih oke.🙂

    @mas Nandi : perasaanku haru biru memandang kabut itu, aku suka.

    ________
    masdeewee njawab:
    bundoooo, terima kasih atas apresiasinya…. oya sekalian mohon pamit mau ke lereng sumbing dulu bun, mumpung liburan… mau titip salam buat Rie?

  6. BlogCamp mengatakan:

    Mrip kisah saya anak desa, hanya saya beruntung masuk SMP I yang favorit sak Jombang kala itu.
    Tiap hari naik sepada onthel sejauh 8 km, belum ada aspal atau listrik mas.
    Selamat berlibur.
    salam hangat dari BlogCamp.

  7. mila mengatakan:

    Bagus artikelnya🙂

    saya jadi inged kampung saya di Lombok, kangen:(

  8. kyaine mengatakan:

    lah.. nama mukti sutarman espe itu saya nggak asing mas.. sering baca karyanya di harian suara merdeka.
    cintaku, pada pagi murung begini
    mari bercermin pada bening air
    mengosongkan jiwa dari kepalsuan
    keruh keinginan sekejap
    berkejap-kejap
    bahkan

  9. sunarnosahlan mengatakan:

    hadiah yang sangat indah, sesuatu yang tak pernah saya dapatkan, karena ayahku tak sempat bicara tentang sepeda, tentang sekolah kepadaku

  10. sunarnosahlan mengatakan:

    meskipun saya juga masuk SMPN 1

  11. Kakaakin mengatakan:

    Syukurlah, bisa dianggap sebagai pelajaran berharga😀
    Rasa2nya kalo jaman dulu, jalan kaki ke sekolah itu hal yang biasa banget ya..

  12. chugy mengatakan:

    Saya suka photonya…..Keren banget masih alami tempatnya….!!! nice can be visite this blog…!!! thanks

  13. aldy mengatakan:

    Walah kok musti bersambung ?
    Kayaknya bakalan dapat sepeda onthel neh dipostingan yang akan datang…

  14. bayuputra mengatakan:

    Sebelumnya Salam kenal dari Bayu di Kalimantan Tengah …
    wah saya mengucapkan terikasih banyak karena sudah diingatkan …

  15. setyantocahyo mengatakan:

    nilai sepeda tempoe doeloe kira2 sama dg mobil jaman skrg ya mas…hehe
    ditunggu kisah berikutnya…

    salam.

  16. setyantocahyo mengatakan:

    nilai sepeda tempoe doeloe kira2 sama dg motor jaman skrg ya mas…hehe
    ditunggu kisah berikutnya…

    salam.

  17. Asop mengatakan:

    Ah…. lagi2 mengingatkan masa kecil saya, Mas…😥
    Saya senang bisa membaca tulisan ini dan yang “sepedaku hilang”, mengingatkan saya akan kenangan masa lalu…..🙂

  18. nh18 mengatakan:

    Ada Tiga Hal Mas Andi …

    #1. Cerita Sepeda …
    Ini cerita yang sederhana sebetulnya …
    Namun entah mengapa saya sangat menikmatinya …
    Mungkin inilah yang disebut sebagai “rasa bahasa” oleh Kyaine …

    #2. Hikmah …
    Memang selalu ada hikmah di balik semua kejadian …
    Jika masuk SMP 1 dapat sepeda tetapi tidak dapat sastrawan …

    #3. Foto …
    Itu foto keren sekali …
    Saya menyukainya …
    Salut untuk sang Fotografer … Nandi …

    Salam saya Mas Andi
    Salam saya Nandi

  19. julianusginting mengatakan:

    sungguh ..makna nya tersira.t….

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] 2. Pelajaran berharga. […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: