Lebih Dalam Menyelami Puisi

Apresiasi puisi adalah sebuah aktivitas yang boleh dibilang rumit bagi mayoritas orang. Cukup beralasan memang, karena pada dasarnya setiap puisi adalah multiinterpretasi. Tergantung siapa pembacanya. Atas dasar itulah maka kita tak bisa sekonyong-konyong menyalahkan perbedaan interpretasi dari orang lain.

Nah, dalam kesempatan ini, setelah lama saya tidak mengulas tentang satu puisi maka saya mengajak Anda untuk turut aktif dalam kegiatan apresiasi puisi. Perlu saya tekankan, saya melakukan kegiatan ini bukan dengan tujuan untuk menggurui. Kegiatan ini saya lakukan semata untuk melestarikan budaya apresiasi karya sastra yang mulai dilupakan.

Lantas bagaimana bentuk aktivitas tersebut?

Nah, langkah pertama, saya akan menawarkan kepada Anda untuk memilih satu puisi saja dari dua puisi berikut ini.

1. Jante Arkidam karya Ajib Rosidi

2. Dongeng Sebelum Tidur karya Goenawan Mohamad

Silakan pilih salah satu yang menurut Anda menarik, untuk selanjutnya akan saya apresiasi puisi tersebut. Kemudian langkah kedua, dari apresiasi saya nantinya, saya sangat mengharap komentar, tanggapan, sanggahan, kritik, dan sebagainya dari Anda. Semoga, dengan demikian akan memunculkan sebuah diskusi interaktif (apresiasi) terhadap sebuah karya sastra.

Sekadar bocoran, isi dari kedua puisi itu sangat berkebalikan. Puisi pertama sarat dengan keliaran. Sedangkan puisi kedua sarat dengan perenungan. Namun, ada satu benang merah yang menghubungkan kedua puisi tersebut, yaitu sama-sama melibatkan tokoh wanita.

Akhirnya, saya persilakan Anda untuk memilih satu puisi yang telah saya tawarkan mulai dari sekarang.

Comments
15 Responses to “Lebih Dalam Menyelami Puisi”
  1. kyaine mengatakan:

    saya pilih Jante Arkidam :

    Sepasang mata biji saga
    Tajam tangannya lelancip gobang
    Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
    Arkidam, Jante Arkidam

    Dinding tembok hanyalah tabir embun
    Lunak besi dilengkungkannya
    Tubuhnya lolos di tiap liangsinar
    Arkidam, Jante Arkidam

    Di penjudian di peralatan
    Hanyalah satu jagoan
    Arkidam, Jante Arkidam

    Malam berudara tuba
    Jante merajai kegelapan
    Disibaknya ruji besi pegadean

    Malam berudara lembut
    Jante merajai kalangan ronggeng
    Ia menari, ia ketawa

    ‘Mantri polisi lihat kemari!
    Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
    Wedana jangan ketawa sendiri!
    Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
    Bersama Jante Arkidam menari
    Telah kusibak rujibesi!

    Berpandangan wedana dan mantra polisi
    Jante, jante Arkidam!
    Elah dibongkarnya pegadaean malam tadi
    Dan kini ia menari’

    ‘Aku, akulah Jante Arkidam
    Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang
    Tajam tanganku lelancip gobang
    Telah kulipat rujibesi’

    Diam ketakutan seluruh kalangan
    Memandang kepada Jante bermata kembang sepatu

    ‘Mengapa kalian memandang begitu?
    Menarilah, malam senyampang lalu!’

    Hidup kembali kalangan, hidup kembali penjudian
    Jante masih menari berselempang selendang
    Diteguknya seloki ke sembilan likur
    Waktu mentari bangun, Jante tertidur

    Kala terbangun dari mabuknya
    Mantra polisi berdiri di sisi kiri:
    ‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

    Digisiknya mata yang sidik
    ‘Mantri polisi, tindakanmu betina punya!
    Membokong orang yang nyenyak’

    Arkidam diam dirante kedua belah tangan
    Dendamnya merah lidah ular tanah

    Sebelum habis hari pertama
    Terbenam tubuh mantra polisi di dasar kali

    ‘Siapa lelaki menuntut bela?
    Datanglah kala aku jag!’

    Teriaknya gaung di lunas malam

    Dan Jante di atas jembatan
    Tak ada orang yang datang
    Jante hincit menikam kelam

    Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
    Jante datang ke pangkuannya

    Mulut mana yang tak direguknya
    Dada mana yang tak diperasnya?

    Bidang riap berbulu hitam
    Ruas tulangnya panjang-panjang
    Telah terbenam beratus perempuan
    Di wajahnya yang tegap

    Betina mana yang tk ditklukannya?
    Mulutnya manis jeruk garut
    Lidahnya serbuk kelapa puan
    Kumisnya tajam sapu injuk
    Arkidam, Jante Arkidam

    Teng tiga di tangsi polisi
    Jnte terbangun ketiga kali
    Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

    Teng kelima di tngsi polisi
    Jante terbangun dari lelapnya
    Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
    Berdegap langkah mengepung rumah
    Didengarnya lelaki menantang
    ‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

    ‘Datang siapa yang datang
    Kutunggu diatas ranjang’

    ‘Mana Jante yang berani
    Hingga tak keluar menemui kami?’

    Tubuh kalian batang pisang
    Tajam tanganku lelancip pedang’

    Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
    Memandang hina pada orang yang banyak
    Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
    ‘He, lelaki mata badak lihatlah yang tegas
    Jante Arkidam ada di mana?’

    Berpaling seluruh mata ke belakang
    Djante Arkidam lolos dari kepungan
    Dan masuk ke kebun tebu

    ‘Kejar jahanam yang lari!’
    Jante dikepung lelaki satu kampong
    Di lingkungan kebun tebu mulai berbunga
    Jante sembunyi di lorong dalamnya

    ‘Keluar Jante yang sakti!’

    Digelengkannya kepala yang angkuh
    Sekejap Jante telah bersanggul

    ‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
    Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

    ‘Jante? Tak kusua barang seorang
    Masih samar dilorong dalam’

    ‘Alangkah eneng bergegas
    Adakah yang diburu?’

    ‘Jangan hadang jalanku
    Pasar kan segera usai!’

    Sesudah jauh Jante dari mereka
    Kembali dijelmakan dirinya

    ‘he, lelaki sekampung bermata dadu
    Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

    Berpaling lelaki kea rah Jante
    Ia telah lolos dari kepungan

    Kembali Jante diburu
    Lari dalam gelap
    Meniti muka air kali
    Tiba di persembunyiannya

  2. Andi mengatakan:

    wah pak gus ini, baru aja saya selesai mosting dan log out udah langsung komen. dan inilah komen paling panjang dalam sejarah blog saya.

  3. kyaine mengatakan:

    he..he.. hbsnya Jante Arkidamnya nggak disertakan link sih

  4. nakjaDimande mengatakan:

    Bundo ikut Kyaine deh.. kali aja Jante adalah jelmaan perempuan selubung hitam.

    Masih membaca pesan singkat di halaman depan itu
    membuat bundo ingin lebih dalam lagi menyelami
    bahasa..😀

    _________
    masdeewee njawab:
    mau tau jelmaan siapa? tunggu aja ulasan selanjutnya….
    alhamdulillah bundo jadi semangat belajar bahasa….🙂

  5. sauskecap mengatakan:

    kok yang atas gak ada linknya? oooo ternyata puisi yang dibawakan oleh guskar…

    ___________
    masdeewee njawab:
    lha terus milih mana mbak??

  6. nurrahman18 mengatakan:

    saya suka post ini, semoga bisa belajar puisi😀
    saya pilih no 1 aja kang, biar ntar enak..habis baca yg “liar” terus yg “baik” hehehe..ditunggu next posting na

    ___________
    masdeewee njawab:
    hahaha…. liar dulu baru baik…

  7. nurrahman18 mengatakan:

    oiya, sekadar inpo kang, yg kompetiblog2010, puny saya sah ada di posting blog kompetiblog 2010, punya sampean kyknya masih pending..mungkin perlu diperbaiki promosi di FB ama twitter..sama isi post di kompetiblog2010 mgkn ada yg kurang…good luck😀

    ___________
    masdeewee njawab:
    hehehe… lha saya gak punya twiter je mas. gak papa lah, sabar aja… lagian yg gak dimuat memiliki status sama dg yg dimuat kok…😉

  8. aldy mengatakan:

    Dongeng sebelum tidur.
    Yah, gunawan muhammad….

    ________
    masdeewee njawab:
    ini dia requst yg berbeda…

  9. sunarnosahlan mengatakan:

    dongeng sebelum tidur pilihanku
    ini sebuah pelajaran penting bagi saya, bagaimana membedah puisi dari orang yang belajar teorinya

    _________
    masdeewee njawab:
    posisi sementara 3:2 untuk keunggulan Jante Arkidam.

  10. jun mengatakan:

    dongeng sebelum tidur😀

    _________
    masdeewee njawab:
    IMBANG!!!!
    dan saya putuskan saya tutup. apakah yang akan kita diskusikan terlebih dahulu?

  11. masdeewee mengatakan:

    tunggu saja….

  12. SO linux mengatakan:

    salam kenal…blognya keren mas…artikelnya jugga keren…

    di tunggu kunjungan baliknya,.,

  13. A lot of options are available when it comes to purchasing a
    Furla bag. Outdoor sleeve are good; even so they don’t do awfully much to envelop whatever thing
    moreover the body type of the person. Two years later they went international,
    selling their leather goods at Bloomingdale’s
    of New York, generating demand for Fendi products worldwide.

  14. messenger bag mengatakan:

    To make it more special, you can personalize them with his name, any special quote or phrase.

    Hands down, the leather jacket of the moment is the motorcycle jacket,
    in classic black leather. s a skill that is impossible to
    pick up by osmosis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: