Menanti Pangeran Pujaan

Beberapa saat yang lalu, istri saya pernah mencoba untuk memasukkan surat lamaran kerja ke sebuah institusi pendidikan di Solo. Dari situ ada sebuah kejadian yang mungkin bila diingat olehnya akan membuat dia agak sewot. Bukan karena pada akhirnya dia tidak diterima di institusi tersebut, tapi karena ulah lebay seseorang kepadanya. Bagaimana kisah selengkapnya, mari kita simak bersama ….

Siang itu, tepatnya pukul 11.30 WIB, istri saya telah melewati beberapa rangkaian ujian wawancara. Tidak sesuai jadwal, memang. Karena, di jadwal yang telah dibagikan tertera bahwa seharusnya ujian tersebut akan berakhir pada pukul 12.30.

Tentunya itu berimbas pada rencana yang telah disusun matang. Beberapa menit kemudian, di setting yang berbeda, seorang pangeran rupawan (halah) yang tengah sibuk dengan tugas perusahaannya tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah pesan singkat yang masuk di HP-nya.

“Yang (halah), aku sudah pulang. Jemput ya.”

Begitu isi pesan singkat tersebut.

Sang pangeran yang sedang sok sibuk itu pun sontak terkejut. Tentunya tidak semudah itu ia mengiyakan tugas darurat tersebut. Apalagi dia hanyalah seorang buruh kecil di sebuah perusahaan kreatif, bukan direktur apalagi pemilik perusahaan. Dia terikat dengan perjanjian sakral dengan perusaaan tersebut terkait ketentuan jam kerja dan sebagainya.

Oleh karena itu, sang pangeran itu pun segera mengirim sebuah pesan singkat yang tertulis demikian:

“Maaf yang, kayaknya kalo njemput sekarang aku nggak bisa. Tunggu sampe Zuhur ya.”

Dengan sedikit sewot, akhirnya istri saya menyetujuinya. Hal itu tampak dari pesan singkat balasannya yang hanya tertulis, “Ya.” Namun, apa mau dikata, tak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini. Toh, menunggu Zuhur bukanlah waktu yang terlalu lama.

Akhirnya, dia pun menunggu sembari duduk di depan ruang ujiannya tadi. Ternyata dia tidak sendirian, karena di tempat tersebut juga ada beberapa wanita yang tampaknya bernasib sama dengan dirinya. “Alhamdulillah, ada teman menunggu,” batinnya.

Beberapa menit menunggu sambil berbincang, tampaknya istri saya mulai melupakan kesewotannya. Namun, asyiknya perbincangan itu agak terganggu dengan hadirnya seorang lelaki yang ternyata memilih duduk di sampingnya. “Ah si mas ini, kayak nggak ada tempat lainnya pa?” batinnya.

Kemudian, istri saya pun segera memberi jarak dengan menempatkan tas di antara mereka dan bergeser menjauhi lelaki itu dan bergerak mendekati kaum hawa lainnya yang masih asyik berbincang.

Beberapa saat kemudian, lelaki itu tiba-tiba bertanya kepadanya, “Ikut mendaftar di sini mbak?”

“Ya,” jawabnya singkat.

“Lulusan mana?” lelaki itu kembali bertanya sambil bergeser mendekatinya.

“UNS,” menjawab sambil bergeser menjauh lagi.

Kemudian berbagai pertanyaan basa-basi lanjutan pun ditanyakan kepadanya. Mulai dari menanyakan jurusan apa, angkatan berapa, lulus tahun berapa, dan sebagainya. Setelah itu, lelaki tak dikenal itu pun bercerita tentang dirinya. Tentang curiculum vitae-nya hingga hal-hal yang menyentuh kehidupan pribadinya. Cerita tersebut pun ditanggapi dengan sesekali tersenyum oleh istri saya. Hingga akhirnya, lelaki di sampingnya itu tiba-tiba bertanya, “Sudah menikah mbak?”

Pertanyaan tersebut tak segera dijawab olehnya. Dia memulai dengan sedikit menyunggingkan senyumnya dan kemudian berkata, “Sudah.”

Tampak ada rasa lega yang tergambar di wajah istri saya. Dia berpikir bahwa dengan jawaban tersebut pasti akan membuatnya tidak bertanya-tanya lagi untuk kemudian pergi meninggalkannya. Namun, senyum itu harus kembali tertahan dan wajah kemenangan itu segera sirna. Karena, lelaki itu masih bertanya lagi kepadanya, “Kok dalam usia yang masih muda ini, mbak memutuskan untuk segera menikah? Apakah nantinya tidak menyesal?”

Wajah istri saya pun mulai keheranan. Dia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya bisa tersenyum. Senyum yang sulit untuk diartikan maknanya.

“Suaminya sekarang sudah bekerja?”

“Sudah”

“Di mana?”

“Ah, suami saya cuma buruh biasa di sebuah perusahaan biasa kok mas,” jawabnya merendah tapi sambil menyunggingkan senyum sinis.

Entah apakah lelaki itu telah memahami konsep komunikasi dengan baik atau tidak, tapi tampaknya semua sikap yang ditunjukkan oleh istri saya tak begitu dihiraukan olehnya. Bahkan kemudian ia kembali bertanya. Dan pertanyaan itu mungkin menohok istri saya. “Mbak, kalo misal suatu ketika suaminya nikah lagi gimana mbak? Kalo misal mbak dipoligami gimana?”

Maka istri saya menjawab dengan singkat, “Mas, poligami di dalam Islam itu nggak dilarang kan. Kenapa dipermasalahkan?”

Beberapa saat kemudian azan Zuhur berkumandang. Namun, sang pangeran yang dia tunggu kehadirannya tak jua datang. Wanita itu pun mengingatkan lelaki yang duduk di sampingnya untuk segera bergegas menjawab panggilan azan tersebut.

Menit demi menit berlalu menjadikan dia bosan menunggu. Satu persatu teman menunggunya telah pulang dijemput oleh pangerannya masing-masing. Hingga akhirnya tinggal dia seorang.

Dari arah masjid, berjalan seorang lelaki ke arahnya. Namun, dia bukanlah sang pangeran yang dia tunggu, melainkan lelaki yang tadi duduk di sampingnya. Hatinya semakin tak karuan. Berbagai pikiran buruk berkelebat di pikirannya. Apalagi kini hanya tinggal mereka berdua. Mereka pun duduk berdampingan.

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang lelaki berpakaian serba hitam sambil menunggangi kuda besi berwarna hitam. Kehadiran lelaki berpakaian serba hitam itu tampaknya memberi secercah harapan bagi wanita tersebut. Apalagi ketika lelaki itu membuka pelindung kepalanya yang juga berwarna hitam. “Sang pangeran telah menjemputku,” gumamnya.

Wanita itu pun berjalan menuju sang penunggang kuda besi yang tak lain adalah sang pangeran pujaannya (halah). Sambil membonceng di belakang pangerannya, wanita itu berkata, “Lama banget ngapain aja sih?”

“Kan shalat dulu, yang. Trus, cowok yang duduk di sampingmu itu siapa?”

“Auk ah, bikin sebel aja,” jawabnya sewot.

Comments
19 Responses to “Menanti Pangeran Pujaan”
  1. kyaine mengatakan:

    dan… sang putri pun menceritakan pengalaman yg membuatnya kesal itu di sepanjang perjalanan.
    sementara sang pangeran pujaan senyam-senyum saja, apalagi ketika diancam : awas klo poligami!!

    ___________
    masdeewee njawab:
    ending yang manis gus….πŸ˜‰

  2. idisuwardi mengatakan:

    salam kenal mas.
    Blog nya bagus nih.

    __________
    masdeewee njawab:
    terima kasih

  3. sunarnosahlan mengatakan:

    nekad bener tuh lelaki, apalagi di Solo, yang orang lebih mudah terasa hanya dengan sindiran saja, lain halnya kalu itu di kota besar

    __________
    masdeewee njawab:
    mungkin karena Solo telah berubah menjadi kota besar pak…πŸ˜‰

  4. nakjaDimande mengatakan:

    “iya, mbak.. tuh liat aja dia telat menjemput.. uhh itu pasti suami mbak makan siang dulu sama teman kantornya.”

    [ternyata memang benar benar, Mas Andi lagi makan siang dengan teman kantornya **yg bernama Bambang]

    __________
    masdeewee njawab:
    waaah bundo ini … sudah saya bilang untuk dirahasiakan saja kok …πŸ˜€

  5. nurrahman mengatakan:

    saya teruskan, meneruskan om kyaine :

    dan sang pangeran itu pun akhirnya perlu mengabadikan momen cerita2 lucu dari sang putri tersebut di blog. mungkin supaya menjadi kenangan bersama, dan entah apakah sang putri membaca cerita tersebut ato tidak. atau jangan-jangan sang putri lah yang menyarankan untuk menulis cerita tersebut?
    jawabannya : entahπŸ˜€

    ___________
    masdeewee njawab:
    saya menulis ini tanpa paksaan dari pihak mana pun mas….πŸ˜€

  6. atlet tinju mengatakan:

    wah… istri yang setia….!!!πŸ˜‰

    ________
    masdeewee njawab:πŸ™‚

  7. catatanpelangi mengatakan:

    AlhamdulillAh tidAk sampAi baku hantam …. ^_^

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehe… karena saya baru tahu setelah istri saya bercerita di rumah. kalo misal saya tahunya sejak sebelum jemput, waaaah bisa baku hantam tuh.πŸ˜€

  8. Winarto mengatakan:

    jadi semakin romantis

    __________
    masdeewee njawab:
    amiiin…πŸ™‚

  9. vizon mengatakan:

    lelaki yang ngajak ngobrol sang putri (halah juga!), ternyata berperasaan “badak” ya, gak ngerti bahasa tubuh dan isyarat ketidaksukaan. atau, jangan-jangan dia memiliki semangat yang tinggi dalam menjalin pertemanan, haha…πŸ˜€

    halo Andi… kunjungan balasan nihπŸ™‚

    __________
    masdeewee njawab:
    mungkin dia termasuk aliran garis keras mas…πŸ˜†

  10. jumialely mengatakan:

    wakaakakakak….

    dan sang putri bertanya kembali

    “Yang, tadi kamu nyuruh laki-laki itu memata-matai saya kan?”

    pangeran tersenyum saja

    “kok tau yang……?

    “lah buktinya ndak cemburu..”

    Pangeran Ngakak nyambi Guling guling diatas Kuda besi…..

    Ngapain cemburu.. Kan saya yang nyuruhπŸ˜›

    ___________
    masdeewee njawab:
    kayak yang di tipi-tipi aja mbak….πŸ˜†

  11. yuniarinukti mengatakan:

    Knp ga sekalian aja mba dikenalin suaminya ke laki-laki itu? “Kenalin ini Pangeran ‘bergitar’ saya, cakep kan?” sambil tangan Mba menggandeng mesra…
    hihi…sukurin Loe!!

    ___________
    masdeewee njawab:
    waaah kalo dikenalkan, bisa2 dipukulkan itu gitar kepadanya… KABONG!!!
    (el kabong mode on)

  12. aldy mengatakan:

    Sambil menunggu sang pangeran datang…eh ada pangeran lain yang coba mendekat.
    Apa nggak curiga kalau lelaki itu pangeran masa lalu ?
    (nggak ngompoti loh )

    ___________
    masdeewee njawab:
    haaaah bener juga tuh… bisa jadi…. tapi saya nggak percaya…πŸ™‚

  13. gerhanacoklat mengatakan:

    aku tau sang putri walopun sebel tetep bahagia karena akhirnya dijemput sang pangeranπŸ˜€

  14. Hajier mengatakan:

    Saya kalo kenalan sama cewek dan ternyata sudah berkeluarga pasti langsung menjauh, tapi kok cowok itu gak ya, malah nanya2 yang gak penting. Cowok yang aneh…

    Btw, pangerannya kok pake hitam2, abis kerja atau abis ngelayat seh pangerannya?Jangan2 pangerannya dari dunia hitam?Soalnya pake bajunya hitam2πŸ˜›

  15. Mas Ben mengatakan:

    Wah kasihan lelaki wartawan itu ya, nekat banget dia ngisengin isterinya satria baja hitam. Eh tapi koq naik kuda hitam ya, berarti Zoro donk ? hehhehe [piiiissssss]

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  16. Billy Koesoemadinata mengatakan:

    lain kali siapin semprotan merica buat ngusir pelaku yang nanya2 itu mas..πŸ˜€

  17. jumialely mengatakan:

    mampir lagi akh, sapa tau pangerannya malah jemput saya..w akakaka

  18. miyosi mengatakan:

    dan pangeran berponi itu eh maksudnya berkuda itupun cemburu,
    “yayang, yayang, A’A’ cemburu nih, dada A’A’ mo terbakar, bisa minta tolong beliin es cendol nggak?”

    istrinya dg penuh rasa bersalah menjawab
    “Ah mamas, itu sih mang mamas nya aja yg haus bukan karena cemburu”

    pangeran berponipun malu
    “adik tau aja” sambil nyubit pipi istrinya

    wkwkwkwk

    waduh mas critanya kayak di negeri dongeng, tapi keren, apik tenan wes,,,

    bisa kusimpulkan:

    1. istrinya cantik coz kalau gak cantik gak mungkin disamperin
    2. istrinya setia,,, selamat masπŸ™‚
    3. kalian berdua romantis bgt, gak jauh beda sm aku dan suamikuπŸ˜€

    —-

    smoga mas n mbak sukses terus yah!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: