Siswa SMP Bisa Menulis Puisi Bebas, Anda?

Pada postingan kemarin saya berhasil mencuri-curi waktu untuk memperbarui blog ini dengan pengalaman saya ketika plesir ke pantai utara yang cenderung tenang bila dibandingkan dengan pantai selatan pulau Jawa. Ini membuktikan bahwa aktivitas menulis tak selalu menyita banyak waktu. Toh, menulis pun bukan termasuk aktivitas membuang waktu. Nah, pada kesempatan ini saya pun kembali mencuri (baca: memanfaatkan) waktu saya untuk sekadar sedikit berbagi cerita kepada rekan sekalian perihal pengalaman penelitian saya tadi pagi.

Senang. Mungkin inilah yang mewakili suasana hati saya selepas mengambil data dan melakukan eksperimen di kelas yang saya teliti hari ini. Semua di luar perkiraan bahwa siswa langsung merespons sangat positif pembelajaran yang tadi dilaksanakan. Semula saya memperkirakan bahwa siswa akan merespons biasa, paling tidak mereka akan lebih kooperatif jika dibadingkan pembelajaran biasa. Namun, ternyata lebih dari itu. Berikut ini adalah ceritanya (rencananya, tulisan ini akan saya jadikan catatan lapangan penelitian saya hehehe…. sambil menyelam minum air lagi nih).

Jumat, 19 Maret 2010 di ruang laboratorium audio visual sekolah.

Pukul 07.00 seharusnya pelajaran sudah dimulai, tapi para siswa belum memasuki ruangan. Tampaknya, siswa masih menunggu guru di ruang kelasnya. Oleh karena itu, selepas menyiapkan ruangan dalam rangka pembelajaran menulis puisi maka guru pun hendak memanggil mereka. Namun, rencana itu urung dilaksanakan karena selang tak lama kemudian para siswa sudah berada di depan ruang laborat.

Senyampang kemudian, siswa pun dipersilakan masuk dan menempati bangku di ruangan sesuai dengan nomor absen. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada kerusakan peralatan setelah pembelajaran dapat terlacak siapa yang menempati kursi tersebut.

Selepas disiapkan dan berdoa dengan dipimpin oleh ketua kelas, pembelajaran pun dimulai. Kegiatan diawali dengan penjelasan awal perihal puisi oleh guru. Dijelaskan kepada siswa bahwa sebuah puisi akan tampak indah tergantung dari diksi (pemilihan kata) dan rima (persajakan) yang digunakan dalam puisi tersebut. Guru pun memberikan beberapa contoh penggalan puisi yang berkenaan dengan kedua unsur tersebut. Sebenarnya, sebuah puisi dikatakan indah tidak hanya berdasarkan kedua unsur tersebut, namun pada pertemuan tersebut memang lebih ditekankan pada kedua unsur tersebut.

Singkat cerita, (hehehe jangan terlalu detail ya…) pada inti pembelajaran siswa disuguhkan dengan satu musikalisasi puisi dan dua pembacaan puisi, dengan harapan akan terkonsep di pikiran mereka masing-masing seperti apa contoh puisi yang baik itu. Pembacaan ketiga puisi itu disajikan dalam bentuk audio visual dengan menggunakan media VCD yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sebenarnya, ketiga pembacaan puisi itu saya dapat dari dunia maya, tepatnya di sini.

Puisi pertama adalah sebuah musikalisasi puisi karya Emha Ainun Nadjib yang berjudul Akan ke Manakah Angin.

Puisi kedua adalah pembacaan puisi mendiang WS Rendra yang berjudul Maskumambang.

Puisi ketiga adalah pembacaan puisi karya Taufik Ismail yang beliau tulis selepas musibah gempa bumi yang terjadi di Padang dan sekitarnya pada beberapa waktu yang lalu.

Inilah yang membuat saya gembira. Ternyata siswa sangat antusias menyimak ketiganya. Hal ini tampak ketika pemutaran puisi pertama, ada beberapa siswa yang ikut menyanyikan musikalisasi puisi tersebut. Ketika ditanya oleh guru selepas pemutaran puisi pertama, kenapa ikut menyanyikan? siswa yang bersangkutan menjawab bahwa musikalisasi puisi tersebut sangat bagus. Hal yang demikian pun terjadi ketika pemutaran puisi kedua dan ketiga. Bahkan selepas pemutaran puisi kedua, ada siswa yang secara spontan mengacungkan jempolnya sambil berkata, bagus sekali. Adapun dalam pembacaan puisi ketiga, hampir semua siswa larut dalam suasana haru puisi tersebut.

Setelah penyajian tiga pembacaan puisi tersebut, siswa kemudian ditugasi untuk menulis puisi bebas dengan tema bebas pula. Sebagai reward, bagi siswa yang menulis puisi yang paling baik akan mendapatkan VCD kumpulan pembacaan dan musikalisasi puisi yang telah disiapkan. Penilaian dilakukan oleh guru dan peneliti. Penilaian ini diukur dengan cara seberapa tepat dan bagus siswa menggunakan diksi dan rima dalam menulis puisi karyanya.

Comments
11 Responses to “Siswa SMP Bisa Menulis Puisi Bebas, Anda?”
  1. asepsaiba mengatakan:

    Semoga menjadi guru yang baik ya.. *Loh?

    samapi sekarang saya paling tak bisa menulis puisi mas.. Ajarin yak?

    __________
    masdeewee njawab:
    amiiin…🙂
    hehehe…. jadi nggak enak nih

  2. nakjaDimande mengatakan:

    ikut senang dan bangga karena anak-anak sekarang dapat belajar seni dan sastra di sekolah dengan dukungan lab dan guru yang mumpuni. **aku dulu smp ngga pernah belajar seperti itu

    __________
    masdeewee njawab:
    betul bun, sekarang seseorang ingin belajar apa saja jadi lebih mudah karena perkembangan teknologi yg pesat

  3. copiyan mengatakan:

    perlu bljar lg… lam knal..

  4. wibisono mengatakan:

    saya juga kesulitan kalo disuruh buat puisi..😀

  5. Huang mengatakan:

    saya belum ahli bikin puisi, pas pelajaran puisi di sma juga masih standar. hahaha

  6. nurrahman18 mengatakan:

    wah aku diajari ndang kang,nggawe puisi😀

  7. bintangtimur mengatakan:

    Idenya kreatif sekali, mas, seandainya saja semua pendidik mempunyai ide seperti ini, pasti Indonesia akan memiliki generasi muda yang lebih peka terhadap keindahan puisi🙂

  8. Perahu Kayu mengatakan:

    seandainya bobot pelajaran menulis dan membuat puisi sejak SD ditambah, akan banyak calon penerus bangsa yang peka, dan berbahasa santun..bukan seperti sekarang, cara menulis status di semua social networking bikin diare akut🙂

  9. sunarnosahlan mengatakan:

    mengenai rima saya tak begitu memperhatikan, jadi puisi-puisiku kurang greget ya

  10. Fardiah Bukhari mengatakan:

    Tolong kirim selengkapnya melalui email saya .Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: