Sejenak Menata Napas Kemudian Berlari Mengejar

Kemarin, beberapa rekan kuliah saya telah diwisuda. Memang, ini adalah hal biasa. Namun, akan berubah menjadi tidak biasa ketika kenyataan ini masuk di telinga saya, terekam di memori otak saya, dan … ah tak usahlah terlalu mendramatisasi.

Dulu, kira-kira pada bulan Agustus 2008 saya beserta 29 rekan kuliah, resmi menjadi mahasiswa pascasarjana. Sejak saat itu, ada semacam komitmen bersama bahwa kita harus selalu membantu dan menjaga kebersamaan. Sangat indah memang, jika diingat kembali. Bagaimana perjuangan kami ketika melalui semester demi semester secara bersama.

Walaupun beda status dan usia, itu tak menghalangi kami. Buktinya, saya yang hanya buruh kantoran di pinggir Solo bisa bertukar pikiran, beradu argumen, dan bahkan bercanda dengan para guru, kepala sekolah, bahkan dosen. Ya, mereka adalah rekan kuliah saya.

Hingga tak terasa, semester penghabisan pun tiba dan semua mata kuliah telah tersampaikan. Kecuali satu. Saya rasa, Anda pun tahu apa yang saya maksudkan dengan “kecuali satu” itu.

Untuk pengecualian ini mengharuskan kami untuk melepas komitmen awal kami. Komitmen yang telah dipegang bersama lebih dari setahun. Pengecualian ini mengondisikan kami untuk bisa bekerja secara pribadi, memaksa kami untuk mengerahkan kemampuan dan ilmu yang telah kami timba sebelumnya. Hingga akhirnya akan tampak siapa saja para jawara dan siapa yang berkemampuan pas-pasan.

Hingga akhirnya kemarin, sekitar 14 rekan telah diwisuda dan secara resmi disematkan gelar magister di belakang namanya. Serasa sesak memang, tapi hanya di awal. Saya segera sadar itulah hasil perasan keringat mereka. Sedangkan saya masih belum tergugah hingga beberapa lama.

Ketika mereka berpayah susah menyelesaikan penelitiannya, saya bersantai membangun alam maya saya. Ketika mereka bercucur peluh, saya masih saja tercenung perhatikan ceruk biru ini yang mulai merangkak ke atas hari demi hari.

Hingga akhirnya keempatbelas jawara itu membuatku tergagap dan terkesiap. Ah kenapa sesal harus datang berkunjung. Namun, bukan berarti saya lantas menyalahkan ceruk biru ini. Bukan. Toh dari ceruk kecil ini pena yang dulu di saku telah terasah tajam. Sekarang, tinggal membuktikan seberapa tajam pena itu di mata para dosen pembimbing dan penguji.

Kepada Anda, rekan maya tercinta. Dalam kesempatan ini saya memohon izin, perkenankanlah saya sejenak kembali di alam nyata untuk mengejar mereka para jawara. Kepada Anda para jawara, kalian memang hebat!!!!

Comments
8 Responses to “Sejenak Menata Napas Kemudian Berlari Mengejar”
  1. nakjaDimande mengatakan:

    Bundo mengerti ‘satu’ yang terabaikan itu.

    Pergilah mas, bergelutlah bersamanya.. tak kan lama, Insya Allah mas Andi bisa bersama lagi di ceruk biru ini.

    La hawla wala quwwata illa billah

  2. greengrinn mengatakan:

    er,..selamat sukses😆 pasti bisa yey!

  3. uni mengatakan:

    moga lekas selesai ya sahabat tesisnya, moga segalanya dimudahkan olehNYa, amiiin🙂

  4. Miftahgeek mengatakan:

    mudah2an dapat mengikuti jejak *mahasiswa yang belum lulus*😀

  5. Mamah Aline mengatakan:

    mudah-mudahan cepet bisa mengejar 14 jawara menjadi master piawai😛

  6. Hajier mengatakan:

    Saya jg mengalami itu mas. Temenan dari awal kuliah s1, makan tidur bareng, pokonya sudah seperti keluarga sendiri. Tapi saat harus wisuda, kita punya pilihan masing-masing untuk tidak bisa wisuda bersama-sama. Sedih seh, tapi mo gimana lagi….

  7. nurrahman18 mengatakan:

    wah sebenarnya saya cukup tersindir…saya juga lupa pada komitmen diri utk segera menyelesaikan tugas mulia studi…semoga semangat itu segera tertular ke saya😀, ganbatte!

  8. vitri mengatakan:

    semangat2 dalam mengejar segalanya .. nek kesel yo leren2 sik .. maem2 .. soto enak di solo ki opo yo .. lali aku ..( ra nyambung yo di sambung2ke yoh ..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: