Catatan Kuliah

Semalam, saya mencoba membuka-buka lagi catatan virtual kuliah saya. Oh ternyata ada banyak hal yang baru saya sadari. Tugas-tugas yang dulu saya buat dengan kebut-kebutan itu setelah saya baca ulang ternyata cukup mengembalikan ingatan saya mengenai ilmu yang saya pelajari.

Ada satu kisah lucu mengenai kebut-kebutan saya itu. Dulu, karena saya terlalu santai, saya sering menangguhkan pengerjaan tugas yang diberikan oleh para dosen saya yang minimal bertitel doktor itu. Hingga ketika menjelang pengumpulan tugas dan presentasi tugas, saya pun kelabakan. Sampai-sampai demi mendapatkan nilai sementara, pernah saya membuat bahan presentasi (power point) dulu baru kemudian di kemudian hari mengumpulkan makalahnya (ini sifat yang buruk, adik-adik jangan mencontoh yaπŸ˜‰ ).

Namun demikian, tidak semua tugas saya kerjakan dengan cara seperti itu. Ada beberapa tugas yang entah karena memberi nilai tantangan bagi saya sehingga saya kerjakan dengan penuh antusias. Salah satu tugas yang saya kerjakan dengan cara yang benar itu adalah makalah yang mengupas tentang dekonstruksi sastra.

Dekonstruksi sastra adalah salah satu metode kritik sastra yang memberikan kebebasan dalam mendekati sebuah karya sastra. Tokoh terpenting dekonstruksi adalah Jacques Derrida. Lelaki ini adalah seorang ahli filsafat Yahudi Aljazair yang kemudian menjadi kritikus sastra di Prancis.

Unsur kebaruan dalam metode ini adalah menurut Nyoman Kutha Ratna bahwa dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara-cara pengurangan terhadap suatu intensitas konstruksi, yaitu gagasan, bangunan, dan susunan yang sudah baku, bahkan universal. Dengan kata lain, dekonstruksi adalah metode yang mencoba mendobrak pakem kritik sastra yang telah ada. Secara garis besar, kajiannya pun bersifat membongkar karya sastra secara terus menerus hingga ditemukan gejala-gejala yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan, seperti ketidakbenaran, tokoh sampingan, perempuan, dan sebagainya.

Salah satu contoh penerapan kajian dekonstruksi sastra yang dicontohkan oleh Nani Tuloli adalah dalam roman Sitti Nurbaya, bisa jadi tokoh Datuk Maringgih dipandang sebagai tokoh protagonis karena dia adalah seorang pejuang yang melawan penjajahan. Sedangkan Syamsul Bahri adalah tokoh antagonis karena dia akhirnya berkhianat dan bergabung menjadi satuan pasukan Belanda yang notabebe adalah penjajah.

Di akhir presentasi, saya menutup pembahasan tersebut dengan pernyataan Suwardi Endraswara perihal kritik sastra ini. Ada 2 catatan penting yang beliau garisbawahi. Pertama, dekonstruksi bukanlah teori dan tidak menawarkan teori yang lebih baik mengenai kebenaran. Kedua, dekonstruksi merupakan paham filsafat yang menyeluruh mengenai aktivitas interpretasi, bukan paham khusus mengenai sastra.

Tepuk tangan dari rekan mahasiswa pun menutup presentasi saya ketika itu. Setelah jam perkuliahan berakhir, dosen saya pun menantang saya, β€œAnda mau tugas akhir Anda mengupas satu karya sastra dengan metode dekonstruksi?” Dengan polos saya menjawab, β€œMaaf bu, saya tidak berani.” Bu dosen saya yang kini bertitel doktor itu pun hanya tersenyum menanggapi jawaban polos saya.πŸ˜›

Sumber:

Nani Tuloli, 2000. Kajian Sastra. Gorontalo: Nurul Jannah.

Nyoman Kutha Ratna. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwardi Endraswara. 2004. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Sumber gambar:

Comments
16 Responses to “Catatan Kuliah”
  1. badruz mengatakan:

    Selamat Pagi…

    Ini, alamat url tutorial wordpress untuk membuat bingkai postingan:
    http://bootingskoblog.wordpress.com

    terima kasih Mba.

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehe…. saya bukan mbak, mas….πŸ˜‰

  2. wibisono mengatakan:

    kurang paham mengenai sastra, kecuali dian Sastra..πŸ˜€

    _________
    masdeewee njawab:
    jadi kan simpulannya, paham mas.πŸ˜€

  3. Mas Ben mengatakan:

    Sastra itu walau agak rumit tapi sangat mengasyikkan untuk dikaji yaπŸ™‚

    Salam bentoelisan

    Mas Ben

    ____________
    masdeewee njawab:
    betul mas, makin rumit makin asyik…πŸ˜‰

  4. fey mengatakan:

    sama sekaLi gak pernah belajar sastra sampe dLm..
    secara duLu SMK teknik, Lanjut kuLiah teknik jg..
    tp LumayanLahLah dpt info sastra disini..πŸ˜‰

    ___________
    masdeewee njawab:
    kita sama2 belajar mas, saling berbagi ilmu.
    salam kenal.

  5. kyaine mengatakan:

    bukunya pak Suwardi Endraswara yg sdh saya baca Sampyuh : seks Jawa agung πŸ™‚

    _________
    masdeewee njawab:
    weleh…

  6. wahyu mengatakan:

    saya tidak mengerti sastra tapi tetap terkesan saat membaca cerita yg bagus, novel, dan puisi tentunyaπŸ™‚

    _________
    masdeewee njawab:
    berawal dari gemar membaca karya sastra maka nantinya akan mulai menyelaminya lebih dalam…πŸ˜‰

  7. nurrahman18 mengatakan:

    bikin presentasi dulu baru makalah ya kang, kadang sama kok sama saya, hehe

    _________
    masdeewee njawab:
    ternyata kita sama ya mas…πŸ˜€

  8. nakjaDimande mengatakan:

    hmm, belajar sastra itu ternyata seperti ini.. aku suka niyh, walau ngga terlalu mudeng, tapi menarik untuk diikuti.

    ___________
    masdeewee njawab:
    saya juga masih belum mudeng2 bund… makanya saya bagikan ketidakmudengan saya kepada rekan2 blogger…πŸ˜›

  9. asepsaiba mengatakan:

    Satu2nya karya sastra yang saya senangi cuma novel mas… salah ngga?

    ____________
    masdeewee njawab:
    bener kok, mananya yg salah? tapi masak gak suka sama karya sastra genre lain, seperti puisi?πŸ˜‰

  10. hanif IM mengatakan:

    bicara tentang sastra, wah, kapan ada sastra berkelas lagi seperti dulu yah…

    __________
    masdeewee njawab:
    saya rasa, semua karya sastra berkelas kok mas. tergantung mau dipandang dari segi mana.πŸ˜‰

  11. vany mengatakan:

    menarik juga cerita ttg kuliah sastranya…
    seneng bgt ya rasanya kalo hasil presentasi kita dipuji dosen..hehehe
    btw, kenapa gak diterima ajah tawaran dosennya?
    setahu saia, film shrek atau film2 fairytale lainnya itu dpt dikupas dg teori dekonstruksi lowh…πŸ˜€

    ___________
    masdeewee njawab:
    masalahnya bagaimana cara menghubungkan antara film dg karya sastra… tapi makasih atas sharingnya… sangat berguna…πŸ˜‰

  12. hersu mengatakan:

    walah sastra yah? senang baca, tapi ga mudeng-mudeng…

  13. sunarnosahlan mengatakan:

    kalau teori apalagi kritik sastra wah puyeng. dulu sih suka baca di suara merdeka

  14. uni mengatakan:

    klo uni ditawarin untuk mengkriktik suatu karya sastra, sepertinya jawaban nya sama dgn jawaban sahabat, heheπŸ˜€

  15. vitri mengatakan:

    komentar opo yo aku .. tak baca dulu yo .. hihii

  16. umi kalsum mengatakan:

    semakin asyik sj ya kalau sdh kecebur di sastra, dlu waktu di SMA jatah sy mbaca novel mulai mlm minggu sampai mlm senin minimal 6 novel, sampai mata sy skrg jd plus 2, itukah penyebbnya? tipikal kita hampir sama Mas, krn kuliah nyambi kerja yaaa beginilah, tugas kuliah dan perangkat kerja, balapan sj tagihannya hehehe. terimakasih mau berbagi, barokallah ya amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: