Hujan Batu Sambutanmu?

Kutoarjo, 24 Januari 2010. Pukul 15.20, kereta Prameks jurusan Solo belum juga datang. Padahal, menurut jadwal, kereta itu seharusnya berangkat pada pukul 14.55. Tapi, ini justru menjadikan kami sedikit menarik napas lega karena kami baru sampai di stasiun kecil itu pada pukul 15.15. Tidak terbetik sedikit pun kekhawatiran, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kira-kira pukul 15.30 kereta Prameks III dari arah Yogyakarta datang. Ratusan penumpang yang telah menunggu kehadirannya pun segera naik dan memenuhi tempat duduk. Alhamdulillah, kami mendapatkan tempat duduk.

Beberapa menit kemudian, pintu kereta ditutup dan kereta pun melaju. Selama perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan sawah yang hijau. Hingga tak terasa, sampailah kami di stasiun Tugu, Yogyakarta.

Di Tugu, penumpang bertambah semakin banyak. Dan udara di dalam gerbong pun berubah pengap, sangat pengap. Bau badan ratusan penumpang pun bisa tercium jelas di hidung kami. Maka, maklumlah jika saya membuka sedikit jendela gerbong padahal kondisi di luar ketika itu hujan deras.

Satu jam lebih duduk di dalam kereta ternyata cukup membosankan. Punggung pegal masih ditambah rasa tak nyaman karena menahan kencing sejak dari stasiun Wates. Namun, saya masih cukup beruntung karena masih bisa duduk nyaman di kursi, tidak seperti para penumpang yang kini duduk lesehan di depan saya.

Ketika itu, saya perhatikan kebanyakan penumpang adalah wisatawan yang memanfaatkan hari liburnya untuk berwisata di Malioboro Yogyakarta. Tak sedikit pula yang masih kanak-kanak. Tentunya, mereka bepergian bersama orang tuanya.

Kereta pun melaju meninggalkan Yogyakarta menuju Solo. Secara berurutan, kami melewati Lempuyangan, Maguwo, dan Klaten. Ada rasa lega ketika stasiun Klaten telah terlalui. Berarti setelah ini, kereta akan sampai di Purwosari dan kemudian Balapan, tujuan kami.

Saya perhatikan langit, senja sepertinya hendak tiba. Berkali-kali istri menoleh ke jendela sekadar melihat sampai di mana kereta yang kami naiki melaju. Hingga sampailah kami di sebuah stasiun kecil di daerah Sukoharjo bernama Gawok. “Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di wilayah Solo Raya,” gumam saya dalam hati.

Di sekitar stasiun saya lihat beberapa pemuda sedang berdiri, ada juga berlari. Sebuah kejadian yang lumrah, gumamku. Karena, tiap sore saya sering melihat banyak pemuda yang duduk di sekitar stasiun untuk menonton kereta. Mungkin bagi mereka, tontonan itu adalah sebuah hiburan untuk melepas penat setelah seharian bekerja.

Ketika itu, pandangan saya masih tertuju di jendela. Melihat para pemuda itu. Tiba-tiba, bongkahan-bongkahan benda asing bermuntahan dari tangan mereka. Cukup mudah saya simpulkan bahwa bongkahan itu mewakili kebencian mereka, tapi pada siapa? Entahlah.

Sepersekian detik kemudian, “Brak!!!” Bongkahan itu jatuh di atap kereta. Belum juga terjawab pertanyaan saya, puluhan bongkahan yang sama pun berhamburan tak tentu arah dan salah satu mengenai kaca jendela tepat di hadapan saya. Alhamdulillah, kaca itu kuat. Justru bongkahan itu yang pecah. Namun, tidak semua kaca sekuat itu. Buktinya, kaca pintu yang cukup dekat dengan posisi duduk saya terpecah karena tak kuat menahan lemparan tersebut. “Prang!!!”

Pecahan kaca berhamburan di dalam gerbong. Sontak, ibu-ibu menjerit, anak-anak menangis, dan seorang bapak berteriak, “Semuanya, turun dari kursi! Tiarap!”

Tapi, saya tetap duduk tertegun melihat pemandangan itu. Betapa hebat buncahan kemarahan itu, tapi kepada siapa mereka marah? Saya tetap duduk di kursi sambil menghadap jendela. Saya perhatikan satu-persatu pemuda melampiaskan kemarahannya. Hingga setelah saya tolehkan kepala, saya baru sadar ternyata istri saya telah terjongkok di depan kursi sambil melindungi kepalanya. Begitu pula ibu-ibu, anak-anak, dan beberapa penumpang lainnya. “Semua sudah aman,” bisik saya kepada istri sambil menarik lengannya.

Aduhai, saya masih tak habis pikir dengan kejadian tadi. Hingga sampai di Balapan, pertanyaan saya masih menggelantung menagih jawaban. Kepada siapa mereka marah? Bukankah kami para penumpang Prameks adalah tetangga mereka juga, sesama masyarakat Solo? Lantas kenapa kami disambut dengan tumpahan kebencian?

Mas-mas, maaf kami bukan pulang dari nonton pertandingan bola. Begitu juga para penumpang lainnya. Perang suci seperti apakah yang telah Anda kobarkan? Sampai-sampai Anda samakan kami dengan pasukan Israel yang telah menjarah tanah Palestina.

Comments
19 Responses to “Hujan Batu Sambutanmu?”
  1. mioariefiansyah mengatakan:

    Ya Allah mas kok kasihan bgt

    sy juga kasihan dengan orang2 yg tidak bersalah yg turut jd korban

    knp ya gr2 bola, sampek segitunya,

    yah sy tau sih, slh st supporter bola udh klewatan buanget, sy jg malu ngelihatnya,

    sabar mas

    ______________
    masdeewee njawab:
    kenapa orang lain harus malu, padahal si pelaku tidak merasa malu?

  2. sunarnosahlan mengatakan:

    sangat sedih ketika mendengar berita ini, bertambah sedih ternyata salah satu sahabat blog ada yang menjadi korban

    __________
    masdeewee njawab:
    tenang pak narno, semua baik-baik saja kok.

  3. darahbiroe mengatakan:

    jadi sedih setelh mereview hiks hiks

    berkunjung n dimohon kunjungan baliknya makasih

    _____________
    masdeewee njawab:
    makasih mas atas kunjungannya.

  4. indra java mengatakan:

    Di solo kejadiannya ya bro??
    Disangka kereta Bonek kali yang lewat..:mrgreen:
    turut prihatin sob…

    ____________
    masdeewee njawab:
    betul mas

  5. sauskecap mengatakan:

    sedih liat beritanya, makan saja susah masih sempat-sempatnya ngrusak fasilitas umum, coba adik mereka atau emaknya kita lempar batu… kalo mereka senang dan bisa menerima… barulah boleh lempar batu ke orang lain…

    _________
    masdeewee njawab:
    aduh jangan mbak… janganlah kesalahan dibalas dengan kesalahan… kalo gitu bakal saling dendam dan semakin rumit masalahnya.😉

  6. katakatalina mengatakan:

    miris ya. suporter yang anarkis. kejadian ini sudah berulang, berkali-kali, dimana-mana. kapan itu ayah saya kena percikan kaca jendela kereta menuju jakarta. tidak parah sih. yang kasihan balita umur tiga tahun, kepalanya kena pecahan kaca lumayan parah.

    ___________
    masdeewee njawab:
    trus gimana keadaan balitanya mbak?

  7. guskar mengatakan:

    saya prihatin dng fenomena bonek kemarin. saya tidak di tempat kejadian ttp serasa ada di sana. betapa tidak, setiap gerakan bonek dipantau oleh media tipi dan disiarkan langsung.
    saya nggak naik kereta bersama bonek, tp saya tau kereta tsb sdh sampai di mana. semua terpampang jelas di tipi.
    **sementara musuh2 bonek ikutan memantau perjalanan mereka hanya utk menyambutnya dng hujan batu.
    ***tindakan yg sangat memalukan, spt nggak beradab saja

    ______________
    masdeewee njawab:
    ngeri juga ya gus…

  8. nurrahman18 mengatakan:

    untung di stasiun tugu ga berhenti para bonek2 itu, hehehe..
    pendapat saya, kok polisi sampai kalah dan tau mau menertibkan yah??ato mungkin terlalu banyak massa dan polisi tak bisa, tak mampu dan ironinya ada yg mengatakan tak mampu, lalu apa peran pak polisi sebagai penjaga ketertiban masyarakat?????????
    ato, memang sengaja dibiarkan utk membelokkan isu nasional? hehehe😀

    masy awam hanya bisa menebak2, menerka dan berpendapat dgn bebas

    ____________
    masdeewee njawab:
    ketika berhubungan dengan massa emang sulit mas

  9. nakjaDimande mengatakan:

    Mas Andi, begitulah bila cinta buta.. kalap! siapapun bisa kena seruduknya.

    Alhamdulillah mas Andi dan istri terhindar dari musibah.

    ____________
    masdeewee njawab:
    jadi cinta buta bisa merugikan orang lain ya bun?

  10. didtav mengatakan:

    salam kenal ya sobat

  11. teamtouring mengatakan:

    wah korban salah sasaran ya..
    semoga sampeyan terhindar dari musibah

  12. Fantastic post, I really like your style.

  13. vitri mengatakan:

    berkunjung .. mung mampir sik yo mas .. komentare sesuk .. hehe ..

  14. Billy Koesoemadinata mengatakan:

    gara2 bonek ya? emang.. meresahkan dan bikin banyak orang hilang kesabaran

  15. budies mengatakan:

    kita kudu mawas, agar tidak terulang dan terulang setiap kali
    duh kasihan yang jadi korban

  16. wibisono mengatakan:

    hal biasa di indonesia dalam anarkisme sepakbola.. hehe

  17. Ratno38 mengatakan:

    Prihatin melihat kejadian ini. Dimana rasa persaudaraan sebagai sesama bangsa? Atau bahkan sebagai sesama manusia?
    Kapan hal ini akan berakhir? Sehingga yang ada tinggal rasa persaudaraan dan kasih sayang.

  18. yuniarinukti mengatakan:

    jangan-jangan kejadian yg ramai dibicarakan di TV ketika Persebaya main sama Persib trus pas lewat Solo mereka saling lempar batu meskipun soal mengapa mereka bertengkar itu belum ada jawabannya ya Pak?

    _______
    masdeewee njawab:
    yaps betul sekali… adapun alasan lemparan batu itu berbeda persepsi antara pihak bonek dan masyarakat Solo

  19. yuniarinukti mengatakan:

    Oya blognya sdh saya link Pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: