Nde Syow Mas Gogon (Ketika Mendadak Pentas)

Bagi Anda yang pernah atau masih menjadi guru, apalagi Bahasa Indonesia tentunya pernah, bahkan sering ditunjuk untuk membimbing siswa dalam beberapa kegiatan. Hal inilah yang pernah saya alami, setidaknya selama masa PPL dulu selama beberapa bulan. Namun, pengalaman yang paling mengesankan adalah ketika kami diminta oleh guru pamong untuk membimbing siswa dalam ekstrakurikuler teater.

Jujur, saya bukanlah aktivis teater. Bahkan tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Teater pun tidak. Saya hanyalah penikmat teater awam. Jika ditanya pernah naik pentas, memang pernah sih. Sekali ketika SMA dalam rangka memeriahkan lustrum sekolah dan sekali ketika kuliah S1. Keduanya itu pun karena adanya unsur keterpaksaan. Namun, setidaknya dari pengalaman dua kali naik pentas itu saya tahu dasar-dasar teater, mulai dari olah vokal hingga beberapa teknik dasar dalam pentas.

Kembali lagi ke cerita. Tiba-tiba sepulang sekolah, kami (saya dan 2 orang teman) diminta tolong oleh guru pengampu ekstrakurikuler teater untuk mendampingi siswa dan membagi sedikit ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

Sontak, kami pun terkejut. Selama ini kami hanya tahu dunia teater dan drama dalam ranah teori. Kalaulah disuruh menjelaskan apa itu pencahayaan, apa itu blocking, dan apa tugas sutradara, itu semua sudah kami hafal. Namun, ini lebih dari itu. Akan sangat lucu ketika saya hanya menjelaskan tapi tidak disertai dengan contoh praktik. Tapi, sudahlah. Mau tidak mau harus kami terima permintaan itu karena kami membawa nama almamater kami. Kami tidak ingin hanya karena masalah kecil seperti itu bisa menjatuhkan nama almamater kami.

Singkat cerita, jam ekstrakurikuler pun tiba. Terlihat beberapa siswa telah berkumpul dan bersiap. Kami pun menjelaskan pada mereka bahwa khusus untuk hari itu, yang mengajar teater adalah kami bertiga. Tampak beberapa anak senang dengan itu. Mereka menganggap hari itu adalah hari istimewa oleh mereka karena diajar oleh 3 mahasiswa yang katanya sih “mumpuni” dalam dunia bahasa dan sastra. Padahal kami adalah orang biasa. Bahkan bila dibandingkan bisa jadi mereka yang lebih jago dalam dunia teater.

Beberapa menit pertama bisa kami atasi. Siswa saya ajak berlatih vokal kemudian latih mimik wajah dengan berpasangan. Namun, tiba-tiba seorang siswa berusul, “Mas, kita praktik pentas aja yuk.”

Ibarat petir di siang bolong yang cerah, tantangan itu pun membuat kami syok. Dengan saling berpandang, kami bertiga terdiam hingga akhirnya menerima tantangan itu. Masih belum cukup sampai di situ, mereka pun mengajak adu pentas. Kelompok siswa melawan kami para mahasiswa. Jiah … ini gila. Bener-bener gila.

Dengan wajah agak berwibawa kami pun menerima tantangan itu. Namun, kami meminta tambahan pemain, setidaknya 2 atau 3 orang karena kami hanya bertiga. Mereka pun menerimanya. Kami diberi 2 pemain tambahan, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Setelah itu, masing-masing kelompok berembuk untuk menentukan lakon apa yang akan dipentaskan.

Setelah beberapa menit berembuk, pementasan dimulai. Tidak disangka dan tidak dikira, ternyata pada hari itu ada kegiatan ekstrakurikuler lain. Ada musik, rohis, OSIS, polisi keamanan sekolah (PKS –bukan partai bos–), dan lain-lain. Sekonyong-konyong mereka pun menjadi penonton. Maka, semakin lemaslah dengkul (eh lutut) saya.

Kelompok pertama yang naik pentas adalah kelompok siswa. Mereka bermain dengan sangat bagus. Dari segi vokalisasi, mimik, dll sudah pas. Bahkan jarang terjadi blocking. Tampaknya lakon tersebut sudah mereka kuasai. Hingga tak terasa kelompok pertama selesai. Terdengar riuh tepuk tangan dari para penonton.

Akhirnya, tibalah giliran kami. “Ayo Ndi, nde syow mas gogon,” hibur rekan saya memecah kekakuan. Saya pun tertawa sejenak dan senyampang kemudian saya orang pertama yang naik pentas. Ketika itu, saya memerankan seorang tua yang memberikan sedikit narasi kepada pemirsa. Di tengah narasi, masuklah rekan saya dan memanggil saya dengan nama Mbah.

Weleh, celaka 13! Saya pun tersadar kalau tadi belum menentukan nama masing-masing pemerannya. Maka dengan ajian sakti clemang-clemong bin ceblang-ceblung, saya pun memanggil rekan saya itu dengan nama Lik Dalkijo. Ada sebab maka ada akibat, itulah hukum dasar kehidupan. Demikian pula saat pementasan. Karena ajian sakti itu beberapa penonton ada yang tertawa. Yes, ajianku berhasil, gumam saya.

Seiring dengan tawa penonton, rasa keder akibat demam panggung pun mulai terkurangi. Hingga akhirnya benar-benar hilang. Tak terasa, pementasan mini kami berakhir dan mendapat apresiasi dari penonton. Tepuk tangan riuh rendah penonton beberapa saat membuat kami melayang ke awang-awang. Sejak saat itu, saya tak pernah bisa melupakan momentum indah ini. Hingga tak terasa waktu telah berlalu 3 tahun.

Comments
12 Responses to “Nde Syow Mas Gogon (Ketika Mendadak Pentas)”
  1. isnuansa mengatakan:

    Serunya, maen teater. Saya belom pernah lihat pentas teater nih…

    _________
    masdeewee njawab:
    sekali waktu coba luangkan mbak… bagus kok…😉

  2. wibisono mengatakan:

    wah,, saya juga punya pengalaman waktu pentas di SMA.. sedikit grogi dan lupa dialognya…

    ijinkan mengamankan pertamaxx

    __________
    masdeewee njawab:
    di sini adanya bensin eceran mas…😀

  3. kyaine mengatakan:

    lakone waktu itu apa mas?
    wah.. lha kok improvisasinya nggak mau kalah sama gogon-nya srimulat😀
    **thn 1990 pas KKN di Pati saya dan temen2 berpentas ria bermain sandiwara dlm rangka penyuluhan KB

    _________
    masdeewee njawab:
    itulah drama, selain hiburan bisa juga jadi media komunikasi massa…

  4. katakatalina mengatakan:

    loh, kok sama. pernah lupa nentuin nama tokoh. hehe…
    ketagihan ya sekarang main teater lagi ?

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehehe…. kebetulan sama ya mbak…
    nggak ketagihan sih, cuma kangen aja sama dunia teater…. halah…

  5. sunarnosahlan mengatakan:

    bisa karena terpaksa, eh dipaksa jadi pengalaman berharga

    __________
    masdeewee njawab:
    hihihi… kadang paksaan itu penting

  6. anak indonesia mengatakan:

    memang susah lah…

  7. peri mengatakan:

    pemain teater ya???serunya
    :salam kenal:

    ___________
    masdeewee njawab:
    cuma penikmat teater aja mbak…

  8. nakjaDimande mengatakan:

    kapan-kapan undang bundo nonton pementasan teater ya, tentu saja yang lakonnnya adalah mas Andi😀

    ___________
    masdeewee njawab:
    ndak usah jauh2 sampai solo bundo. lha wong dunia ini panggung sandiwara (kata pak ahmad albar).😀

  9. sunandarajang mengatakan:

    ass.lam kenal semoga perkenalan kita memanjangkan tali silaturahmi

    ______________
    masdeewee njawab:
    amiiin….

  10. arif mengatakan:

    kykna sangadh berkesan bagimu kang🙂

  11. sauskecap mengatakan:

    pernah sekali ikutan teater sma itu jg cm jd figuran
    kerjaannya cm disuruh senyum2 doang
    itupun grogi… apalagi klo disuru kyk masnya itu ya

  12. iiN mengatakan:

    *mendadak baca semua nih jadinya..🙂 xixiiiiii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: