Pentas Monolog Putu Wijaya

Lampu remang-remang. Angin dingin bertiup dari belakang. Dengan sedikit menggigil kutengok. Ah, ternyata angin dari pendingin ruangan yang berada tepat di belakang atasku. Memang saya agak terkejut, karena seingat saya Teater Arena tidak sedingin ini. Tapi, itu bukan jadi soal.

Saya perhatikan suasana ruangan yang begitu padat malam itu. Tampak beberapa hadirin mempersiapkan kamera digital (entah otomatis atau DSLR) dan handycam untuk mengabadikan pementasan tersebut. Sementara itu, dari kedua pintu Teater Arena masih saja ada orang yang masuk. Padahal di dalam sudah hampir penuh.

Setelah menunggu beberapa menit, beberapa lampu pun dimatikan hingga hanya menyisakan pencahayaan di atas panggung. Senyampang kemudian, majulah tiga orang . Orang pertama, sudah kukenal wajahnya (entah dia mengenal saya atau tidak) karena dulu pernah beberapa kali kami sejenak berbincang. Dia adalah Wijang Warek. Orang kedua, saya tak mengenalnya. Mungkin karena memang saya kurang wawasan. Tapi, setelah saya telisik melalui dunia lain maya, lelaki itu adalah Gigog Anurogo. Orang ketiga, juga tak kukenal wajahnya. “Dia cantik,” bisik istriku. Entah apa maksudnya. Tapi, setelah pentas berakhir barulah kami tahu bahwa dia adalah salah satu personel teater Mandiri. Bahkan, masih ada hubungan darah dengan Putu Wijaya. Mereka bertiga membacakan puisi mendiang Rendra secara bergantian.

Setelah itu, pementasan pun dimulai. Dibuka dengan pentas teaterikal lalu dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup mendiang Rendra dan pembacaan puisi karyanya secara medley. Baru kemudian, Putu Wijaya mulai bermonolog. Pada intinya, monolog itu memberitahukan kepada hadirin bahwa Rendra juga manusia. Oleh karena itu, pahamilah dia secara utuh sebagai manusia. Jangan sampai suatu ketika generasi muda hanya tahu kebesarannya dan karyanya tapi nol perihal pemikirannya.

Selain monolog Putu Wijaya, saya juga sangat terkesan dengan salah satu pembaca puisinya. Menurut Putu Wijaya, dia adalah seorang pembaca puisi handal. Saya pun setuju karena ketika dia membacakan puisi, tampak sekali penjiwaannya. Sayang, saya lupa namanya. Ketika itu, dia membacakan 2 puisi fenomenal Rendra. Sajak Sebatang Lisong dan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo.

Menit demi menit pun berlalu. Tak terasa berubah menjadi hitungan jam.  Pementasan telah sampai di penghujungnya. Sebelum berakhir, Putu Wijaya mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak dan memperkenalkan semua personel yang turut serta dalam pementasan itu. Dan ketika sampai di akhir perkenalan, dia memperkenalkan seorang anak. Anak itu adalah anggota Teater Mandiri yang paling muda. “Ini anak saya,” tutup Putu Wijaya.

________________________

Tulisan ini adalah penutup dari tulisan sebelumnya.

Comments
2 Responses to “Pentas Monolog Putu Wijaya”
  1. nurrahman18 mengatakan:

    wedew…anak itu mungkin the next generation of putu wijaya😀

    ____________
    masdeewee njawab:
    mungkin mas…🙂

  2. fadhilatul muharram mengatakan:

    aku juga pernah liat kakek putu wijaya ber-monolog di kampusku.🙂

    salam.. makasih ya udah mau mampir ke blog dila.🙂

    ____________
    masdeewee njawab:
    makasih juga sudah berkunjung kemari…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: