Sepenggal Kisah Prapentas Monolog Putu Wijaya

Pada tanggal 15 November kemarin, saya menyempatkan diri untuk menyaksikan pentas monolog Putu Wijaya di Taman Budaya Jawa Tengah. Ketika itu, bersama istri, kami berangkat berboncengan naik motor dari rumah. Kebetulan, pementasan itu dimulai pada pukul 20.00.

Sesampai di tempat pertunjukan, tepatnya di Teater Arena, ternyata sudah banyak orang berkumpul di sana. Padahal ketika kutengok jam di HP, waktu menunjukkan pukul 19.30-an. Sempat terpikir, kami kehabisan tiket. Sehingga, ketika itu setelah memarkirkan motor saya langsung berlari ke stand yang melayani penjualan tiket. Alhamdulillah, kekhawatiran kami tidak terjadi. Ternyata, masih ada banyak tiket yang dipegang panitia.

Setelah membeli tiket, kami menunggu di emperan Teater Arena bersama dengan para hadirin lainnya. Bahkan, malam itu saya juga bertemu dengan dosen saya. Kami sempat berbincang sejenak. Malam itu, saya merasa ada rasa kangen yang muncul kembali setelah lama tidak pernah bersua dengan kegiatan semacam ini. Ya, wajah-wajah ini, pembicaraan ini, dan saat-saat seperti ini.

Saya jadi teringat dengan masa-masa beberapa tahun silam. Ketika saya lumayan sering menonton pementasan teater dan ikut berdiskusi di Teater Arena. Hah, ternyata lama juga saya tidak berkunjung ke sini.

Tiba-tiba saya kembali mengingat kapan saya terakhir berkunjung. Oh, ternyata telah cukup lama. Seingat saya, saya terakhir ke TBJT ketika saya sedang sibuk mencari media pembelajaran pembacaan cerpen untuk bahan skripsi saya. Kira-kira, 2 tahun lebih saya sudah memadunya.

Teman-teman saya yang dulu juga aktivis teater dan penikmat sastra pun satu per satu telah sibuk dengan kesibukannya. Kebanyakan mereka menjadi guru. Mereka mungkin telah mengajarkan apa yang sudah mereka dapat dari aktivitas di TBJT.

Tiba-tiba lamunanku terbuyar karena kulihat para hadirin berlari kecil menuju pintu masuk gedung. Oh, ternyata pintu Teater Arena telah dibuka. Segera kugandeng tangan istriku, dan kami memasuki ruangan tersebut. Alhamdulillah, kami berhasil menempati tempat duduk langganan saya dulu, yaitu tepat berhadapan dengan panggung sehingga saya bisa melihat wajah-wajah para pementasnya.

Bagaimana jalannya pementasan tersebut? Tunggu postingan selanjutnya ya.😉

Comments
4 Responses to “Sepenggal Kisah Prapentas Monolog Putu Wijaya”
  1. wibisono mengatakan:

    wah ku gak nonton kang.. gak tau kalo ada jadwal putu wijaya.. padahal ku jg gak tau soal sastra..

    __________
    masdeewee njawab:
    kalo cuma nonton kan gak harus tau sastra mas….😉

  2. Abied mengatakan:

    *Nunggu ceritanya selesai diposting, baru komentar*
    Hehehe …
    salam kenal!🙂

    _____________
    masdeewee njawab:
    sudah saya posting lanjutannya mas…😉
    salam kenal juga….

  3. nurrahman18 mengatakan:

    weleh2, saya nunggu postingan pementasan sajalah, hehe

    _________
    masdeewee njawab:
    oke, sudah diposting mas….

  4. chiekebvo mengatakan:

    waiting next post…😀

    ___________
    masdeewee njawab:
    next post sudah waiting untuk dikomen mbak….😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: