Suatu Saat Sastra Indonesia Hanya Tinggal Kenangan

“Eh, udah baca Harry Potter yang terbaru?”

“Sherlock Holmes mau difilmkan lho.”

“Aku suka sekali novel-novel karya Paulo Coelho.”

Di satu sisi saya bersyukur karena masyarakat Indonesia (terutama kaum muda) mulai merespons positif budaya membaca. Di sisi lain, agak miris karena kalau seperti ini terus bisa jadi karya sastra lokal akan semakin tersingkir.

Secara jujur, saya pun pernah membaca buku-buku di atas. Setidaknya novel Harry Potter pernah kubaca walaupun sampai sekarang belum sampai pada seri terakhirnya. Serial detektif karya Sir Arthur Conan Doyle pun tetap membekas di benak saya karena kehebatan alur berpikirnya. Adapun Paulo Coelho baru satu karyanya yang telah kubaca dan itu pun memberi kesan yang mendalam.

Namun, seharusnya kita sadar bahwa Indonesia pun memiliki karya yang tidak kalah bagus dari karya-karya terjemahan di atas. Misalkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang telah diterbitkan dalam beberapa bahasa selain bahasa Indonesia. Tetralogi Pulau Buru karya mendiang Pram yang masih saja fenomenal. Hingga beberapa novel dan roman lokal lainnya yang mengisahkan budaya kita sendiri.

Maaf bila ada yang tersinggung. Namun, niat awal saya menulis ini adalah untuk mengajak Anda para pembaca untuk senantiasa berimbang dalam menentukan bahan bacaan. Perlu Anda ketahui, kebesaran roman seperti Sitti Nurbaya, Atheis, Salah Asuhan, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan roman-roman lainnya kini mulai terkikis. Hal ini disebabkan, kebesaran buku itu mulai tergantikan dengan sinopsis-sinopsis singkatnya.

Kenapa bisa begitu? Karena pembaca (dalam hal ini siswa) mulai malas membacanya. Walaupun sudah masuk dalam kurikulum pendidikan, tapi ternyata masih bisa diakali.

Sebagai contoh, suatu ketika seorang siswa diberi tugas membuat sinopsis novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Tentunya tujuan sang guru adalah agar siswanya mau membaca buku tersebut. Namun, entah karena kesulitan mencari bukunya, atau malas membaca buku jadul seperti itu maka si siswa pun lebih memilih mencari sinopsisnya secara instan di dunia maya. Mungkin di dalam benaknya berkata, “Buku apa itu? Achdiat? Sapa lagi itu? Mendingan baca buku xxxxxxx aja (yang notabene adalah buku terjemahan dan lebih populer).”

Contoh di atas adalah permisalan dan hanya sebuah rekaan saja (bahasa kerennya HOAX). Namun, jika seperti itu kenyataannya maka perlu kita khawatirkan. Karena, pihak yang dirugikan dalam hal ini adalah siswa itu sendiri. Dia tidak akan mengerti di mana letak kelebihan novel tersebut dan parahnya dia tidak mengetahui apa amanat yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya jika kita hanya berpangku tangan maka sastra Indonesia hanyalah tinggal kenangan. Anak cucu kita kelak hanya mengenal bahwa dahulu ada roman berjudul Sitti Nurbaya karya Marah Roesli yang katanya itu adalah roman yang fenomenal. Dan sebagainya.

Silakan Anda baca karya terjemahan tapi jangan abaikan karya lokal.

Silakan Anda mengarungi samudra sastra tapi jangan kesampingkan agama.

Comments
5 Responses to “Suatu Saat Sastra Indonesia Hanya Tinggal Kenangan”
  1. asepsaiba mengatakan:

    Pertamaxxx…. BEruntung kita memiliki Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, Mira W, dll… Yang agaknya sudah mulai dicintai para pembaca…

    Tukeran link mas…

    ______________
    masdeewee njawab:
    alhamdulillah tambah 1 temen lagi….
    yup… sastra Indonesia populer mulai disukai, tapi bagaimana dengan sastra klasik kita?πŸ™‚

  2. nurrahman18 mengatakan:

    sebagai penggemar sastra yang masih junior dan abangan, saya hanya ingin sekedar berpendapat begini kang….dulu jaman saya sma ga tertarik sama sekali dengan buku, cerita, novel dll…karena merasa dunia itu kurang berdaya tarik. guru-guru kurang memberikan gambaran yang menarik dan tampilan yang menarik dalam membuat siswa gemar membaca. selain itu, yang sering ditampilkan itu karya sastra “jadul”..sebenarnya bukan bermaksud apa-apa sih. karya sastra jaman dulu memang masih sangat bagus, tapi bagi anak sma kan juga perlu dicari inovasi cara memperkenalkannya. tidak hanya dengan meminta siswa mencari buku cetakan lama yang sudah kotor dan berdebu lalu membacanya. apa menariknya? itu menurut saya. justru waktu kuliah, justru saya menemukan hal lain dalam membaca…ilmu, sahabat, “dunia lain” yang terbentuk dalam cita-cita, dan masih banyak lagi…dan kalau masalah sastra indo…memang dalam hal “pemasaran” koq saya rasa kurang ada dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah.. tp saya tetp cinta sastra lokal, lha wong juga masih baca “ronggeng dukuh paruk”…hehehe, lum selesai tapi..:D

    __________
    masdeewee njawab:
    pada dasarnya saya tidak mengajak untuk terlalu sempit dalam melahap khazanah sastra. silakan baca sastra manapun, tapi jangan lupakan sastra Indonesia.
    saya dulu juga sama seperti mas, paling males kalo disuruh baca buku novel jadul. mendingan baca komik aja.πŸ˜€
    maka dari itu, perlu adanya semacam treatment khusus untuk memotivasi para pemuda untuk mau membaca buku2 tersebut. gimana caranya? nah, kalo ini perlu ada riset dan kerja sama dari berbagai elemen masyarakat.

  3. nurrahman18 mengatakan:

    yup pendekatannya banyak sekali, mulai dari aspek budaya, sosial, teknologi informasi dan masih banyak lagi ^_^…wawasan guru – guru itu juga penting mas, biar ga jadul….sekarng yg terlihat, koleksi buku2 baru siswa/mahasiswa lebih lebih luas wawasannya dari pada gurunya di sekolah….:D

    ______________
    masdeewee njawab:
    itulah mas, seharusnya semua guru harus sadar bahwa apa yang mereka hadapi adalah pribadi yang unik bernama manusia. mereka tidak menghadapi mesin yang bisa diperlakukan sama dari waktu ke waktu.
    bisa jadi, di satu setting kelas guru berhasil menerapkan suatu metode pembelajaran tapi belum jaminan berhasil bila diterapkan di setting yang lain.
    oleh karena itu, para guru harus selalu menambah wawasannya. memperkaya khazanah keilmuannya. sehingga siswa tidak akan merasa bosan mengikuti pelajaran

  4. mioariefiansyah mengatakan:

    saya percaya Indonesia yg saya cintai memiliki orang2 yang akan mengharumkan nama bangsa, kalau bukan kita yg bangga siapa lagi, dan kalau bukan kita yang berusaha juga siapa lagi, (SEMANGAT MODE:ON)πŸ˜›

    _________
    masdeewee njawab:
    tetap semangat mbak!!!πŸ˜‰

  5. vitri mengatakan:

    okay boss ..

    ___________
    masdeewee njawab:
    oke, bisa dikopi…πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: