Teman 1

Maaf, kalo tulisan ini agak serius. Langsung saja saya isi tulisan ini dengan cerita. Saya memiliki seorang teman dekat. Dia bernama Riza. Riza adalah teman sealmamaterku ketika kuliah S1. Di mata kebanyakan orang, dia hanyalah lelaki biasa. Tapi di mataku, dia adalah teman yang sangat berarti bagiku. Banyak pelajaran kuterima darinya.

Dialah yang selalu memberi semangat untuk melanjutkan studi S2. “Ayo Ndi, ndang barke skripsimu. Bar iki langsung daftar S2.” Itulah kalimat motivasi yang selalu dia ucapkan kepadaku. Walau payah skripsi selalu membuatku jatuh tapi dialah yang selalu membantuku untuk bangkit. Namun ….

02.30-an (Percakapan telepon antara aku dan seorang teman)

“Mas, jangan kaget ya… Katanya, Mas Riza semalem kecelakaan. Sekarang ada di Moewardi.” (dengan agak terbata)

“Ha?! Yang bener? Kamu ada di mana sekarang?”

“Aku di rumah.”

“Oke, aku segera ke sana.”

“Tapi mas, katanya Mas Riza udah nggak ada.”

02.40-an (Percakapan telepon antara aku dan kakak kandung Riza)

“Ndi, Riza…..” (dengan terisak)

“Iya mbak, saya mau ke Moewardi sekarang.”

Dengan berbekal rasa tak percaya, dini hari itu aku berangkat ke Moewardi. Entah karena udara dingin yang menusuk atau karena sesuatu yang lain, selama perjalanan seluruh tubuhku menggigil. Bahkan hanya untuk mengucapkan lafal zikir yang kuingat sejak kecil pun sangat sulit. Dan akhirnya aku hanya bisa terbata mengucapkannya.

Sesampainya di depan Moewardi. Aku disambut dengan kesenyapan. Ketika kualihkan pandangan ke arah pintu masuk, ternyata ada seorang lelaki sedang berjaga di sana. Dilihat dari pakaiannya, bisa kutebak kalau dia petugas keamanan rumah sakit.

Senyampang kemudian kudekati lelaki tersebut. “Mas, semalam ini ada korban kecelakaan yang dibawa ke sini?” tanyaku.

“Laki-laki ya mas?”

“Iya, ada di mana?”

“Ada di gedung pemulasaraan dekat masjid.”

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun… Gedung pemulasaraan. Aku masih tak percaya. Namun, rasa tak percayaku pun makin sirna ketika kusampai di gedung tersebut. Tampak lelaki berjenggot dan bercelana khas di atas mata kaki menghampiriku dengan mata sayu. Dia adalah kakak tertua Riza. Meski sayu, dia masih bisa memberiku senyum simpul dan pelukan eratnya. “Ndi, temenmu Riza udah nggak ada. Semalem dia kecelakaan di daerah Brengosan,” ucapnya dengan nada tegar.

Brengosan? Padahal jalur itu adalah jalur kesukaannya tiap dia pulang ke rumah. Tak kusangka di usianya yang kedua puluh dua, dia meninggal di sana dalam sebuah kecelakaan tunggal.

Terjadi pada pertengahan bulan September 2007.

_____________________

Refeksi:

Kawan berapakah usia Anda sekarang? Sudahkah Anda manfaatkan untuk kebaikan? Sudahkah Anda syukuri nikmat tersebut?


Comments
6 Responses to “Teman 1”
  1. mioariefiansyah mengatakan:

    Ya Allah…..masih mudah sekali ya Mas, murid saya juga ada yg meninggal kemarin hari Minggu di usianya yg ke-13 tahun….dia dulu mantan murid….

    Mudah2an bisa dijadikan pelajaran buat kita semua

    ______________
    masdeewee njawab:
    amin, semoga bisa jadi pelajaran bagi kita semua.

  2. bahri mengatakan:

    peristiwa hampir serupa juga bru kualami pak. beberapa hri yng llu tmn kosku mninggal di usia yang bru kisaran 22 an gtu. dia orng yng terglong dkat dngn ku. bnyk crta yang ada tpi dia hrus prgi duluan dan kita cuma bisa bilang, ” selamat jalan, sahabat….”

    ____________
    masdeewee njawab:
    terima kasih atas komentarnya.

  3. vitri mengatakan:

    iyo .. aku yo 22 tahun je ..
    semoga bisa menjadikan pelajaran bagi kita semuanya .. terutama yg menulis ..
    22 tahun .. mungkin belum banyak kebaikan yang aku lakukan, tapi aku tetap berusaha mensyukuri atas segala nikmat yang pernah ada ..

    ____________
    masdeewee njawab:
    amin…

  4. nurrahman18 mengatakan:

    daku jadi teringat masuk UGD moewardi dua tahun yang lalu…..hik hik hik

    ___________
    masdeewee njawab:
    semoga bisa menjadi pelajaran.

  5. Viki Dedy Irawan mengatakan:

    Huhuhu sedih mas😥 semoga mas Riza diberi tempat terbaik di sisiNya.. amin

  6. Vihantoro Randi mengatakan:

    Ndi..aku juga ingat saat aku disms Idrus..spontan Idrus tak tlpn balik dan sesegera kumaki dia. Ternyata setelah aku tlpn Esti, dia menangis, dan kamu pasti tau simpulanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: