Menulis ‘nggak’ Semudah Melukis

Ya, inilah yang sering saya rasa pada beberapa hari ini. Baru saya sadari bahwa menulis itu tidak semudah melukis. Bukan karena saya tidak bisa melukis, tapi karena memang pada beberapa kondisi, menulis bisa menjadi aktivitas yang sulit dan sangat kompleks bila dibandingkan dengan melukis.

Bayangkan, apabila Anda melihat seseorang yang pandai melukis. Sebagai contoh, saya memiliki seorang teman yang sangat pandai melukis. Dia termasuk pelukis dengan aliran realisme. Dia bisa melukis tidak hanya dengan kedua tangannya, tapi juga dengan kakinya. Tiap kali saya melihat hasil coretannya, saya selalu dibuat terpana karenanya.

Suatu ketika, temanku itu sedang jatuh cinta dengan seorang gadis SPG di salah satu daerah di Jawa Timur. Pada satu kesempatan yang sangat singkat, dia pernah mencuri waktu untuk melukis sang gadis pujaan secara sembunyi-sembunyi untuk kemudian dia tunjukkan lukisannya kepadaku. Sambil menunjukkan coretannya, dia bercerita bagaimana perjuangannya untuk melukis sang pujaan.

“Bayangkan, ketika itu dia sedang bekerja dan aku berusaha untuk melukisnya secara diam-diam. Kamu tahu, saya melukis ini dalam waktu yang sangat singkat. Cuma beberapa menit saja. Karena saya khawatir bila terlalu lama melukisnya, bisa ketahuan deh…..” ucapnya (dalam bahasa Jawa).

“Nah, terus apa maksud kamu menunjukkan lukisan ini kepadaku?” tanyaku.

“Tolong ndi, bantu saya menyusun surat cinta. Saya tidak pandai menyusun kata-kata.”

Walah….. ternyata itu maksudnya. Jelas saya terkejut dengan ucapan terakhirnya. Jauh-jauh berkunjung dari daerah Jawa Timur ke kota bengawan ini hanya untuk meminta tolong untuk dibantu membuat secarik surat cinta. Ya, surat. Bukan SMS, bukan telpon, atau apalah yang berbau teknologi mutakhir.

Itulah secuil contohnya. Seseorang yang bisa saya anggap mumpuni dalam melukis ternyata kesulitan dalam mengekspresikan isi hatinya dalam bentuk tulisan. Tapi contoh ini belum bisa mewakili sebuah simpulan. Contoh ini hanyalah sebuah hipotesis yang perlu untuk dikaji lagi secara mendalam (halah…..).

Namun terlepas dari hipotesis, kajian mendalam, dan simpulan, saya secara subjektif pun sebenarnya mengiyakan apa yang saya sampaikan ini (walah subjektif sekali…). Bisa jadi menulis akan bisa semudah melukis bila Anda menulis secara deskriptif. Namun bagaimana bila menulis secara naratif dan argumentatif? Anda tidak sekadar menyajikan sebuah fenomena, tapi Anda juga diharuskan menyampaikan apa argumen Anda mengenai fenomena tersebut.

Ya, argumen. Aspek yang ‘mungkin’ tidak disertakan ketika seseorang sedang melukis. Aspek yang harus disertai landasan kuat dan sumber yang tepercaya untuk menopang kesahihannya.

Sekarang, mari kita kembali ke lukisan teman saya. Adakah sertaan argumen secara visual yang dia tampakkan? Adakah landasan teori yang dia sertakan ketika dia melukis? Tidak. Dia hanya mengalir dalam melukisnya. Seperti halnya orang yang menulis naskah deskripsi.

Sekali lagi, apa yang saya tulis ini sangat jauh dari unsur objektivitas. Jangan 100% percaya lho….🙂

Comments
4 Responses to “Menulis ‘nggak’ Semudah Melukis”
  1. Abdul Cholik mengatakan:

    -menulis dan melukis sama2 bisa mendapatkan duit kan mas.
    -salam

    _________
    masdeewee njawab:
    hehehe…. tergantung sapa yg menulis dan melukis pak….😀

  2. nurrahman18 mengatakan:

    lucu ceritane….:D

    ___________
    masdeewee njawab:
    makasiiiih…..🙂

  3. masnoer® mengatakan:

    he he ehe kreatif

    ___________
    masdeewee njawab:
    makasih masnoer….🙂

  4. vitri mengatakan:

    Wallah ..🙂
    Tapi “melukis itu nggak semudah menulis” lho ..

    ___________
    masdeewee njawab:
    ya sekali lagi, tulisan saya itu subjektif menurut saya sendiri mbak, jadi bisa saja berbeda dengan pendapat orang lain….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: