Golput Paksa, Nggak Sadar Golput, dan Rela Golput

Pemilu kemarin ternyata diwarnai dengan salah satu fenomena yang menarik, yaitu fenomena golput. Sangat mencengankan ketika sebuah informasi terlontar bahwa diperkirakan angka golput pada pemilu kali ini bisa mencapai 40-50%. Karena fenomena inilah maka dimunculkan sosok kambing hitam yang bernama KPU.
Bahkan seorang teman berseloroh, “Masih mending KPU digawangi oleh Mulyana. Walau korupsi tapi kinerja KPU saat itu lebih profesional.”
Sebenarnya, sebesar apakah ketidakbecusan KPU sehingga layak menjadi kambing hitam dengan gelar “penyelenggara pemilu terburuk sepanjang sejarah?” Lantas apa hubungan KPU dengan menggelembungnya angka golput pada pemilu kemarin?
Barangkali (di sana ada jawabnya *kok malah nyanyi*) beberapa fragmen cerita di bawah ini bisa menyadarkan kita bahwa ada 3 jenis golput. Dan beberapa jenisnya, kemungkinan disebabkan kesalahan KPU.

__________________________
Pecakapan antara Mas Paino dan Bejo.
“Jo, kamu nggak pulang Jo? Besok coblosan lho…”
“Wegah mas… Lagian besok nggak nyoblos kok, tapi nyotreng.”
“Eh iya ding, nyontreng… We lhadalah… kok wegah? Masa depan bangsa tergantung dari pilihan kita besok itu lho Jo.”
“Ngapain mikir masa depan bangsa. Wong masa depanku aja gak pernah dipikirin bangsa. Buktinya, sampe saat ini aku tetep aja pengangguran. Dulu caleg yg berjanji mo ngasih kerja, sampe saat ini gak pernah merealisasikan. Padahal, dulu dia kupilih. Dasar caleg, isone mung ndobosi rakyat.”
“We… ya jangan gitu Jo… Semua caleg nggak kayak gitu. masih banyak caleg yg berkomitmen dengan janji2nya.”
“As mbuh… aku wis skeptis sama mereka. Aku wis skeptis sama pemilu. Acara yang diadakan cuma buat mbuang2 duit tok. Mbok daripada gitu, kasihkan duit itu ke rakyat yang nasibnya seperti aku ini. jadi kan bisa buat modal usaha.”
“Ah, ya udah Jo. Tapi ati2 lho… kemarin habis ada keputusan MUI bahwa golput itu haram. Padahal melakukan yg haram itu dosa. Sama halnya seperti orang mencuri, mabok, medok, de el el.”
“Yo ben… nek perlu tak sekalian mabok, medok, dan nyolong, biar tolatalitas nek melakuan dosa.” (sambil tertawa guyon)
“We…. dosa kok totalitas.”
” Lha apa kamu itu nggak liat… para mayoritas petinggi bangsa kita. Mereka nyolong, mabok, dan medok juga kok. Warga negara yg baik itu kan nurut sama pemimpinnya. Pemimpin korupsi, rakyat ikut korupsi. Madep mantep melu pemimpin, alias taat.”
“Alah mbuh Jo, mumet aku…”
“Makanya, gak sah hiraukan aja aku ini. Paling yg kayak aku ini cuma sedikit.”

____________________
Pada pagi hari pukul 10.00 seorang lelaki tua bernama Mbah Jan berjalan ceria menuju tempat pencontrengan. Dia sangat ceria karena semalam bertemu dengan seorang lelaki bernama Mas Di. Mas Di adalah seorang caleg dari partai gurem yang memiliki impian dan cita-cita yang sangat tinggi untuk bisa duduk di kursi dewan.
Entah dibenarkan atau tidak, Mas Di semalam berbincang dengan Mbah Jan seputar nasib bangsa yang katanya semakin bobrok. Perbincangan itu berlangsung cukup singkat. Dan di akhir perbincangan, Mas Di menyodorkan sebuah amplop kecil sambil berkata, “Kalo mbah pingin negeri ini makmur, besok pilih saya ya mbah.”
Akhirnya, sampailah Mbah Jan di bilik kecil tempat pencontrengan suara. Tangan kanannya memegang bolpoin, tangan kirinya memegang 4 kertas suara. Ketika kertas pertama dibuka, blaik…. Mbah Jan kaget karena kertas suara itu sangat lebar melebihi perkiraannya. Kebingungan Mbah Jan pun semakin bertambah ketika dia mencari keberadaan Mas Di.
Dia pelototi kertas itu dengan seksama, tapi tetap saja nama Mas Di tidak tercantum. Namun, semangat Mbah Jan tidaklah pupus. Dia pun membuka kertas suara kedua dan menutup kertas suara pertama tanpa dicontreng. Namun, ketika kertas kedua dibuka dan dipelototi, nama Mas Di pun tak juga muncul. Kejadian ini terus berulang hingga kertas suara keempat. Padahal dia masih agak lupa-lupa ingat ingat nama lengkapnya bernama Paidi Meja Dingondol Tikus.
Dan akhirnya, karena tak menemukan nama Mas Di, Mbah Jan pun keluar dari bilik suara dengan tanpa mencontreng salah satu gambar pun. Dia khawatir karena apabila asal contreng, negeri ini akan semakin bobrok. Persis seperti kata Mas Di, yang ternyata memiliki nama lengkap Sukadi Kamar Mandi.

___________________
Di lain setting, di sebuah desa bernama Suka Suka Gue. Seorang bapak mengajak anaknya yang masih berumur 10 tahun menuju tempat pencontrengan suara. Saat itu, di pikirannya, dia ingin mengajarkan kepada anaknya perihal pemilu dan cara pemilihan yang benar.
Memang, ada kejanggalan kecil karena hingga saat itu sang bapak yang budiman itu belum juga mendapatkan undangan pemilu. Namun, sang bapak tetap berbaik sangka. Dia mengira, paling undangan itu terselip entah di mana sehingga hilang entah ke mana.
Ketika sampai di tempat pencontrengan, sang bapak duduk manis sambil menunggu namanya dipanggil. Satu jam menunggu, sang bapak masih tetap tersenyum. Dua jam menunggu, sang bapak mulai tersenyum masam. Dan ketika tiga jam menunggu, dipanggillah nama yang tidak asing baginya.
Ekspresi terkejut dan tak percaya tergurat jelas di wajahnya. Dia sangat paham nama itu, karena dahulu dialah yang menciptakannya sambil kungkum di sendang wingit di samping punden desa. Nama itu adalah Cie Gue Banget Geto Loh, yang tak lain adalah nama anak semata wayangnya yang baru genap berumur 10 tahun.
“Papah, namaku dipanggil pah….” suara sang anak bagai memecah kepala sang bapak.

________________
NB: 3 cerita di atas adalah fiktif belaka. Tak lain dan tak bukan, cerita ini hanya degelan saja yang ingin kutulis karena menyikapi tingginya angka golput pemilu kemarin. Maka dari itu, layakkah KPU menjadi kambing hitamnya?

Comments
13 Responses to “Golput Paksa, Nggak Sadar Golput, dan Rela Golput”
  1. Billy Koesoemadinata mengatakan:

    saya juga tadinya mau golput,, tapi malu juga kalo sampe yang kepilih di DPR adalah orang2 yang ga becus, dan yang saya kasih simpati malah ga masuk sama sekali..😀

    __________
    masdeewee njawab:
    jadi yg kepilih gak becus dong mas???😀

  2. mioariefiansyah mengatakan:

    aku jadi merasa bersalah…..padahal bukan karena tidak peduli……sungguh…….tapi keadaan yang memaksaku begini……adakah yang percaya…….apakah dosaku ini akan termaafkan……kutanya pada angin yg berhembus tapi dia tak jua kunjung memberikan jawaban……kutanya pada diam…tapi hanya sepi yang kurasakan……jadi aku harus bagaimana????

    _______________
    masdeewee njawab:
    weeee lhadalah…. malah bersajak… emang dosanya apa mbak?

  3. vitri mengatakan:

    Kembali ke sistem yang diterapkan, apakah sudah benar ato masih jauh dari kebenaran.
    Dan fakta di lapangan saat ini, adalah satu dari seribu bukti bahwa demokrasi bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan.
    Dan pertanyaannya, sampai kapan Indonesia akan terus berpesta demokrasi ini, yang hanya menghambur- hamburkan uang rakyat?
    Para caleg pun sepertinya bukan orang yang kuat iman dehh, lha wong g siap menerima kekalahan malah pada bunuh diri je, trus piye nek ngono kuwi jal?🙂

    __________
    masdeewee njawab:
    wah jan… mbak vitri ini pinter tenan. nek aku sih gak tau apa itu sistem apa itu demokrasi, apalagi politik.
    yang tak ketaui tu bahwa emang ada sesuatu yg harus segera diperbaiki dalam tubuh negeri ini. lak ya gitu to mbak?🙂

  4. paijos mengatakan:

    kemaren juga golput. ga terdaftar di DPT soalnya.
    lagian ga kenal ama calegnya. ga nyesel aku golput.

    ____________
    masdeewee njawab:
    sssst… mas, kalimat terakhir jangan keras2 diucapkan…🙂
    Lha ya ya mas, katanya golput haram, kok malah kita udah berusaha menghindari yg haram tapi malah justru dipaksa melakukan yg haram….
    trus yg dosa sapa ya???😦

  5. inidanoe mengatakan:

    Karena ak termasuk dalam klompok pendekar GoLongan Putih a.k.a GOLPUT., maka dengan bangga ak tetap menjadi GOLPUT., karena gk mau gabung juga memilih para pendekar di GoLongan Hitam a.k.a CALEG:mrgreen:

    __________
    masdeewee njawab:
    oooo jadi seperti ilmu ya, ada hitam ada putih…. yah, kalo konteksnya gitu ya aku ikut yang putih lah…..😀

  6. mel mengatakan:

    kalau aq ikut nyontreng , biar kalah gpp asal pilihanku itu sesuai dg hati yg terdalam…cie….

    ___________
    masdeewee njawab:
    wah kayak cinta aja…. dari hati yg terdalam….😀

  7. mrpall mengatakan:

    sebagai warga negara aku nyontreng juga hehehehe

    __________
    masdeewee njawab:
    wah mas, jadi yg pada gak nyontreng, gak warga negara dooong…..

  8. habib mengatakan:

    waduh..
    critanya lucu..😀

    btw katanya kpu ngabisin triliyunan ya..
    mending kaya saran cerita yang pertama..
    duitnya buat yang lebih bermanfaat..🙂

    __________
    masdeewee njawab:
    kalo lucu ya ngguyu aja mas, gak usah ditahan…. di sini bebas kok….😀

  9. nurrahman18 mengatakan:

    isi KPU adalah the wrong man in the right place

    ____________
    masdeewee njawab:
    weleh weleh…. kalo gitu pemilunya kayak apa, kalo menyelenggaranya kayak gitu? >.<

  10. masnoe® mengatakan:

    komisi pelelangan umum sekarang kali

    ____________
    masdeewee njawab:
    eh adek kecil bisa nulis ya??😀

  11. nurrahman18 mengatakan:

    hehehe…iya nih bos..mana tulisan selanjutnya😀

  12. vitriya mengatakan:

    wah yang lagi sibuk, sampe belum sempet nulis lagi …🙂
    ku tunggu tulisan berikutnya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: