Caleg Model Apa Lagi Ini?!

Tulisan ini saya dedikasikan (halah) kepada seorang temen kerja yang sudah kangen baca tulisan di papan celoteh di kantorku.

Tadi malem saya liat berita pak, ada dialog menarik (yang jelas gak antara jin dan manusia). Baru-baru ini mulai ngetren para caleg yang gagal pada pemilu kemarin pada pindah partai yang lebih besar. Tujuannya apa? Apa lagi kalo nggak demi suara. Sebutlah pak A. Bapak A ini (gak Aini lho) telah berpindah-pindah partai sebanyak 3 kali. Awalnya dari partai 1 terus pindah ke partai 2 dan sekarang dia balik ke partai 1 lagi.

Ketika ditanya kenapa Anda balik ke partai 1 lagi? Dia menjawab, karena tidak sevisi saja. Nah, ternyata mbak pembawa acaranya kok ya pinter (aku gak bilang dan cantik lho). Denger jawaban seperti itu dari pak A, si mbak langsung membalikkan pertanyaannya, “Kalo gitu, kenapa dulu Anda pindah ke partai 2? Kan udah jelas kalo emang berbeda visi?”

“Ya, anggap aja ini studi banding,” jawab si bapak dengan santainya.

Badhala…. jelas kaget dong aku denger tu jawaban. Ini bapak niatnya apa sih? Dan tampaknya si mbak pembawa acara pun sepemahaman dengan saya (saya gak bilang jodoh lho pak). Maka si mbak pun mengejar lagi dengan pertanyaan, “Lho kok studi banding sih?”

Tiba-tiba si bapak menyela, “Ya gini mbak, saya itu kan orang yang memiliki banyak kemampuan. Saya memiliki kompetensi. Tapi masak dulu ketika berada di partai 1, saya ditempatkan di bawah seorang pemilik usaha fotokopi?”

Entah (halah) apa maksudnya, apa memang dia dulu menjadi staf bawahan seorang pemilik usaha fotokopi ato tidak, tapi aku bisa menangkap maksud yang mau dia sampaikan. Dia gengsi berada di bawah seorang juragan fotokopi.

Dan akhirnya, ketika menjelang ditutupnya acara, si mbak bertanya, “Kalo nanti bapak nggak bisa menduduki kursi dewan, bapak mau apa?”

“Saya kan pengusaha, mbak. Jadi mending saya kembali berdagang aja.”

“Bener pak? Nggak pingin pindah partai lain lagi?” sergah si mbak.

“Enggak…..”

Ngaten pak ceritanya. Monggo disifati dengan suasana hati yg berwarna-warni. Bagiku, ini gak beda dengan dagelan. Jadi ya saya ngguyu, karena merasa terhibur.
(dialog nggak sama persis seperti percakapan di atas, tapi esensinya masih tetap mengena lah)

Comments
4 Responses to “Caleg Model Apa Lagi Ini?!”
  1. vitri mengatakan:

    Hehe … Pengennya ngguyu juga sih .. tapi jujur kisahnya amat mengenaskan menurutku, caleg yang nggak berprinsip ..
    (hmm .. aku nomer satu lagii nih ..)

    _______________
    masdeewee njawab:
    waah mbak Mio kalah cepet lagi nih…πŸ˜€
    kalo kata Seno Gumira Ajidarma, ini yang namanya tragic comedy mbak…

  2. nurannisaa7 mengatakan:

    weleh..
    gak ngerti nih maksudnya apa?
    tapi keknya ini ngomongin caleg ya?
    iyaa kan? awas kalo nggak..!

    ____________
    masdeewee njawab:
    weleh… mbaknya ngancem…. ampun mbak….
    iya iya bener….

  3. mioariefiansyah mengatakan:

    hiks hiks hiks……

    iya…orang2 yg opportunist gitu, haruskah kita memilih pemimpin yg begitu???

    tanyakanlah pada hati nurani

    jangan tertipu rayuan gombal…..

    ____________
    masdeewee njawab:
    apa mbak? opor manis? ini gak bicara masakan ya mbak….πŸ˜€
    tapi kadang rayuan gombal ya dibutuhkan kok mbak. merayu para koruptor untuk mengaku dan mau dihukum.πŸ˜€

  4. nurrahman18 mengatakan:

    apa sekarang kalo parodi caleg sama dengan parodi hiburan ya.,,….hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: