Menjebol Keangkeran TBJT, Bisakah?

Terus terang, motif pertama kutulis artikel ini adalah karena kerinduanku untuk menghadiri TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah) atau sering disebut juga TBS (Taman Budaya Surakarta). Masih kuingat, kunjungan terakhirku ke sana adalah ketika aku sedang berjibaku dengan dunia skripsi yang seolah membelit erat hingga sulit untuk menghirup napas segar kebebasan seorang mahasiswa lontang-lantung sepertiku. Dan saat ini inginku merasakan kembali ramainya diskusi sastra, entah puisi, novel, cerpen, atau pementasan drama di sela-sela kesibukan harianku sekarang.

Berbicara mengenai TBJT maka aku kembali teringat perbincangan singkatku  dengan seorang sastrawan yang bernama Wijang Warek (nama aslinya lupa). Entah bung Wijang ingat atau tidak, tapi kurang lebih beliau berkata kepadaku bahwa selama ini TBJT bagai tempat angker bagi para sastrawan muda yang hendak menapaki kariernya di dunia sastra.

Lelaki berambut gondrong itu berkata kepadaku bahwa sebenarnya kami (pihak TBJT) sangat mengapresiasi positif Anda (para sastrawan muda) yang hendak mengadakan diskusi karya sastra Anda di sini. TBJT hanyalah sebuah tempat yang sama dengan tempat lainnya, seperti halnya Gramedia. Tempat ini bukanlah ladang pembantaian para sastrawan muda. Bahkan bila Anda mengadakan acara di sini, bisa jadi Anda akan mendapat bantuan operasional dari pemerintah setempat.

Memang, aku sangat setuju dengan pernyataan beliau. Taman budaya bukanlah podium bagi sastrawan senior saja. Telah sering kusaksikan dan kuikuti diskusi sastra yang membahas karya para sastrawan handal, tapi jarang kutemukan nama sastrawan muda yang bisa masuk dan menggema di kompleks tersebut.

Namun demikian, aku jadi teringat dengan fenomena nyata yang dulu pernah terjadi.  Ketika itu diadakanlah acara pembacaan puisi dan diskusi karya sastrawan se-Jateng. Dari sekian nama, terdapat beberapa nama baru yang menurutku masih asing di telingaku. Namun, tampaknya beberapa nama itu tidak bisa hadir untuk sekadar membacakan karyanya dengan beberapa alasan, entah kesibukan hingga sakit diare.

Sehingga aku pun kembali bertanya-tanya apakah sedemikian angker tempat itu hingga membuat orang diare mendadak? Bukankah seharusnya mereka bangga untuk membacakan karyanya karena namanya telah masuk dan diakui sebagai sastrawan?

Padahal, sang kurator yang sekaligus ditunjuk sebagai sang kritikus karya-karya tersebut adalah (mantan) dosenku yang kadang kutinggal tidur di pojok kelas karena terkadang merasa jenuh dengan perkuliahannya (hehehe cuma kadang lho Pak, nggak sering).

Comments
11 Responses to “Menjebol Keangkeran TBJT, Bisakah?”
  1. Billy Koesoemadinata mengatakan:

    jadi,, udah dibantai nih?? gimana rasanya?😀

    __________
    masdeewee njawab:
    rasanya…. hmmm… nggak bisa diungkapkan😀
    oalah mas, kalo saya tu cuma penikmat sastra, ga sastrawan, jadi ya ga bisa merasakan…

  2. vitri mengatakan:

    Terus mas iku angkernya terletak di mana? hehe ..
    Tapi menurutku .. meski g pernah ke situ, aku rasa memang terkadang tempat2 yang budayani itu sering di bilang angker ..

    ________
    masdeewee njawab:
    wah nek itu tanya aja sama tim pemburu hantu, mbak…😀

  3. vitri mengatakan:

    Jadi pembantaian bagi para pemula to?
    Hehe .. kirain angker karena makhluk ghoib je ..

    __________
    masdeewee njawab:
    hayah… baru mudeng to??? yah jadi tulisanku mbulet ya mbak? wah ginilah penulis amatiran…😦

  4. vitri mengatakan:

    Wah .. bener2 sastrawan ini, bahasane pake kiasan sih, jadi agak bingung ..

    ___________
    masdeewee njawab:
    emang sastrawan pada mbingungi ya kalo ngomong????😀

  5. tuyi mengatakan:

    wah…wah….ada pembantaian rupanya

    _______________
    masdeewee njawab:
    AAAAAA MAS TUYIIIIIII!!!!!!!
    blogku dikunjungi mas tuyi nda…. (jane mas tuyi ki sapa to??? :-D)
    salam kenal mas…

  6. anto84 mengatakan:

    waduhhhhhhh lari ah…

    ____________
    masdeewee njawab:
    lho lho lho mas he… baru berkunjung kok malah lari….😀

  7. utaminingtyazzzz mengatakan:

    serasa ujian skripsi kali ya

    ________
    masdeewee njawab:
    Serasa……. as mbuh lah mbak….😀

  8. vitri mengatakan:

    weee .. belum nulis lagi to mas? gek ndang nulis meneh, insyaAlloh aku nggak bakalan bingungi deh .. hehe ..

    ________
    masdeewee njawab:
    Injih bu guru….🙂

  9. mblokodot mengatakan:

    ayo nang tbs. Ketoe ono pentas paroden basah.

  10. Qrhiez Fahrurrozie mengatakan:

    Tanya nih…. Q anak SMP ,, Q dape soal cerita dimana tokoh “aku” adalah pelaku utama…
    pertanyaan Q :
    yang menjadi pelaku utama adalah….
    tolong ya…

    http://rozzie99.wordpress.com

  11. Qrhiez Fahrurrozie mengatakan:

    sorry slah tulis… hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: