Pelajaran dari Aceh

Empat tahun yang lalu sebuah gelombang besar menerjang kota yang berjulukan Serambi Mekah. Seketika itu, nyanyian kematian pun berdendang. Ibu kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tuanya, kepala keluarga kehilangan semua anggota keluarganya, si kaya kehilangan hartanya, si miskin semakin terlunta-lunta.

Tak terasa empat tahun telah berlalu. Bak sebuah rumah, Aceh kini telah berbenah. Senyum yang dulu hampir hilang kini mulai tampak kembali. Awan kesedihan yang menyelimuti bumi Aceh pun mulai terkikis dan tergantikan dengan cerah mentari dan indah pelangi.

Tawa riang anak-anak telah mengubah negeri seribu duka menjadi negeri seribu harapan. Tetes keringat pemuda telah mengubah langkah gontai keputusasaan menjadi langkah tegap menyongsong masa depan. Wejangan demi wejangan para tetua pun telah mengubah suram kegelapan menjadi cahaya yang terang.

Dari Aceh, aku bisa mengambil pelajaran bahwa mati adalah kepastian. Dan dari Aceh pula aku tersadar bahwa kepastian itu bukanlah alasan untuk berpangku tangan. Bagai tamparan yang telak, aku kini tersadar dari alam bawah sadar. Terserah, kita akan terus berpangku tangan atau menangis hingga menganak sungai, tapi roda waktu tetap berputar. Gerigi waktu akan terus berlari.

Mungkinkan kita bisa mengambil pelajaran dari ketegaran saudara-saudara kita di sana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: