Misteri Koko Putih

Selasa, 25 November 2008
Kurasa ini adalah satu cerita yang harus kubagikan kepada teman-teman. Entah bisa berguna atau tidak, yang penting dah kusampaikan. Kejadian ini terjadi kemaren petang. Kebetulan, kemaren saya pulang agak nelat dari kantor. Ya… sekitar jam setengah enam (gak kemaki lho ya…). Ketika perjalanan pulang, tiba-tiba muncul gagasan untuk shalat Maghrib di masjid dekat klinik Abu Salman (tul ga’?). Masjid yang biasa diimami oleh Pak Manaf itu lho… (Anda tau nggak ya…).
Sesampainya di masjid, aku segera mengambil air wudhu. Namun dalam perjalanan menuju tempat wudhu, aku agak heran dengan adanya baju koko putih yang ditaruh di sebuah tempat di sudut masjid. “Buat apa ya?” pikirku.
Setelah aku berwudhu dan memasuki masjid ternyata jamaah yang hadir kebanyakan pada pake koko putih (pada pake surf kale). Sempat agak minder, karena dari semua jamaah ternyata cuma aku yang pake baju lengan pendek warna ijo motif kotak-kotak. Namun, setelah beberapa menit berselang ternyata ada juga yang ga pake koko putih.
Singkat cerita, akhirnya sang imam pun datang. Beliau memasuki masjid dengan melewati beberapa jamaah yang tengah menunggu kehadirannya. Setelah berdiri di tempat khusus imam, tak selang beberapa lama iqamah dikumandangkan. Sebelum shalat jamaah Maghrib dimulai, beliau menghadap jamaah untuk mengatur shaf shalat.
Ketika kami (para jamaah) sedang merapatkan barisan, tiba-tiba beliau berkata, “Dwi ndi, Dwi? Wi.. Dwi…”
Tak selang beberapa lama, orang yang dimaksud pun ngacung. Dia berada di barisan belakang. Kulihat dia tersenyum dan rona wajahnya memerah. Tampaknya dia agak malu jadi perhatian orang semasjid.
Mase tulung digolekke klambi, wi,” lanjut sang imam.
Ternyata setelah kutolehkan kepala ke arah kiri, kulihat seorang pemuda yang memakai kaos hitam agak ketat dan ada tulisannya. Kulihat dia langsung berjalan menuju belakang ke arah mas Dwi. Setelah itu, dia diambilkan baju koko putih yang tadi membuatku heran.
“O… ternyata itu gunanya to….” batinku lirih.

Refleksi: Penampilan adalah salah satu faktor yang menunjukkan kesungguhan seseorang. Ketika kita hendak menghadap orang yang kita hormati, kita selalu berdandan dengan rapi, necis, klimis, dll, dengan harapan kita bisa mengambil hati orang tersebut. Namun kenapa kita justru meremehkan penampilan kita, ketika hendak menghadap Rabb kita. Sudah pantaskah kita disebut sebagai yang bersungguh-sungguh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: