“Entuk pira?”
“15 ewu tok.”
“Tenane? Ora 20 to? Wah, nek partai x wingi 25.”
Inilah percakapan singkat yang aku dengar ketika aku sedang makan siang di sebuah warung makan. Percakapan itu terjadi antara penjual dan seseorang yang jajan es teh di warung untuk melepas penat di siang yang terik. Mereka membahas tentang uang bensin yang didapat dari hasil KAMPANYE (muter2 kota Solo) salah satu parpol Indonesia.
Cerita lain. Di suatu pagi yang tenang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara parau knalpot sepeda motor yang memekakkan telingaku. “Grooooong!!!!!” Gila…. apa mereka nggak tau kalo apa yang mereka lakukan dapat menyebabkan polusi? Polusi udara dan suara. Dan setelah aku tengok keluar, ternyata mereka hendak berangkat KAMPANYE.
Di lain setting. Di sebuah lapangan yang cukup luas, di sebuah kota. Ketika itu penuh dengan lautan manusia dengan memakai pakaian seragam warnanya. Mereka asyik berjoget dan menikmati musik seraya membelalak mata melihat sang biduan meliuk-liukkan badannya, walau sebenernya suara sang biduan pas-pasan. Ternyata, di siang hari itu sedang ada KAMPANYE. Dan ternyata, orasi dan obral janji sang orator partai kalah dengan liukan sang biduan yang lebih realistis.
Siaran TV. Ketika itu aku melihat sesosok mayat terbujur kaku di kamar mayat sebuah rumah sakit. Konon katanya, dia meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Dan ketika itu, orang tersebut sedang hendak berangkat KAMPANYE.
Duhai kampanye masih belum cukupkah kau meminta tumbal rakyat kecil?








